alexametrics

Gubernur Tak Dukung Vaksinasi MR, Kemenkes Minta Bantuan Kemendagri

14 September 2018, 11:29:58 WIB

JawaPos.com – Pelaksanaan vaksinasi measles-rubella (campak dan rubela/MR) di sejumlah daerah mengalami kendala dan mendapat penolakan. Parahnya, penolakan itu dipicu dari sikap kepala daerahnya. Atas sikap kepala daerah demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta Kementerin Dalam Negeri (Kemendagri) untuk turun tangan.

“Kalau (tidak mendukung vaksinasi MR, Red) itu statement gubernur, biar Mendagri yang mengingatkan,” tutur Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono kemarin (13/9).

Pelaksanaan imunisasi MR di luar Jawa tidak berjalan mulus. Petugas di lapangan mengalami penolakan dari warga. Bahkan, ada yang melancarkan intimidasi kepada petugas imunisasi di lapangan.

Gubernur Tak Dukung Vaksinasi MR, Kemenkes Minta Bantuan Kemendagri
Kemenkes meminta Kemendagri turun tangan untuk menyikapi gubernur yang tak mendukung vaksinasi MR. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

“Laporan yang masuk ke kami, ada di beberapa provinsi. Misalnya, Gorontalo dan Kalsel (Kalimantan Selatan, Red),” terang Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes Vensya Sitohang di Kantor Staf Presiden (Jawa Pos, 13/9).

Anung menambahkan, terkait dengan kelanjutan vaksinasi MR, seluruh logistik vaksin dan sumber daya manusia (SDM) sudah disiapkan. ”Tetapi, sasaran (vaksinasinya, Red) nggak datang,” ungkapnya.

Muncul saran supaya program vaksinasi MR dilakukan secara langsung dari satu rumah ke rumah lain (door-to-door). Namun, Anung menegaskan, Kemenkes harus berhati-hati. Sebab, mereka tidak ingin masyarakat menganggap ada pemaksaan kehendak untuk mengikuti program vaksinasi MR.

Minimnya capaian vaksinasi MR dikhawatirkan bisa memicu wabah di daerah setempat. Terkait dengan kemungkinan tersebut, Anung menyatakan bahwa sudah ada tata kelola klinisnya.

Dia mengungkapkan, hampir di semua daerah terjadi penolakan. Dalam konteks kampanye MR, daerah-daerah seperti Papua, Riau, dan Aceh masuk kategori cukup rawan untuk bicara capaian vaksinasi MR. Khusus untuk capaian vaksinasi MR di Papua, tantangan yang dihadapi di lapangan adalah persoalan geografis dan keamanan.

Vensya juga menyatakan, bentuk intimidasi di lapangan bermacam-macam. Bahkan, sampai ada ancaman pembunuhan bila petugas nekat melaksanakan imunisasi.

Di salah satu daerah, petugas itu sudah terjadwal untuk melaksanakan imunisasi di salah satu titik. Bukannya anak-anak yang datang, warga malah mengurung petugas tersebut. “Tiba-tiba datang orang membawa parang. Untung, ada petugas desa yang lewat,” ungkapnya.

Mengenai potensi kejadian luar biasa (KLB) campak dan rubela, itu bukan ancaman yang mengada-ada. Di Kota Banjarbaru, Kalsel, misalnya, ada dua pesantren yang mengalami kasus campak dan rubela dengan angka cukup tinggi. Berdasar surat resmi Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, dua pesantren tersebut adalah Pesantren Darul Ilmi (33 kasus) dan Pesantren Al Falah (19 kasus).

Selain itu, kasus campak dan rubela terjadi di SMAN 2 Banjarbaru (9 kasus) dan Poltekes Banjarbaru (10 kasus). Atas kejadian di empat lokasi tersebut, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan sudah menginstruksikan untuk mewaspadai KLB campak dan rubela.

Untuk penanganan, anak-anak yang positif campak dan rubela di dua pesantren tersebut sudah dikarantina. Mereka tidak boleh melakukan aktivitas dan bertemu dengan teman-teman lainnya.

Upaya karantina tersebut ditujukan untuk mencegah penularan ke murid lain. Selain menjalani karantina, mereka sudah diberi obat.

Khusus untuk wilayah Kota Banjarbaru, cakupan vaksinasi MR saat ini masih sekitar 30 persen. Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani menyatakan, cakupan vaksin MR tersebut tidak akan bisa dinaikkan tanpa partisipasi orang tua. Dia berharap orang tua ikut mendukung vaksinasi MR.

KLB campak tahun lalu di Kota Jayapura seharusnya bisa menjadi pelajaran. Tahun lalu Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengumumkan bahwa telah terjadi KLB campak dan rubela di Jayapura. Pada 8 Mei 2017 diumumkan bahwa telah terjadi 166 kasus campak tanpa kematian. Dari sampel yang diperiksa di Surabaya, ada satu sampel yang positif rubela. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/wan/c5/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Gubernur Tak Dukung Vaksinasi MR, Kemenkes Minta Bantuan Kemendagri