JawaPos.com - Meskipun berada di tengah perkotaan, siapa sangka jika sejumlah masyarakat Kota Malang ternyata berhasil membudidayakan ikan. Bukan melalui tambak, mereka justru menggunakan keramba ikan yang diletakkan di tengah aliran sungai.
Hal itu seperti yang dilakukan oleh warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini. Bahkan, mereka telah membudidayakan ikan dengan menggunakan keramba bambu tersebut sejak 25 tahun yang lalu. Keramba ikan itu diletakkan di sepanjang aliran sungai yang berada di tengah pemukiman.
Setidaknya ada 150 keramba ikan yang ditata berjejer rapi di sepanjang sungai Kasin. Keramba tersebut sengaja dibangun warga sekitar sungai sebagai media budidaya ikan air tawar. Meskipun aliran sungai itu cukup kumuh lantaran dipenuhi banyak sampah, masyarakat tetap berusaha keras untuk membudidayakan ikan. Bahkan, tidak sedikit masyarakat Malang yang mengetahui keberadaan keramba ikan tersebut.
"Jangankan warga luar, banyak warga Kota Malang yang tidak tahu kalau ada budidaya ikan melalui keramba di sungai ini," ujar salah satu warga yang memiliki keramba, Jumadi, 55, Senin (30/4).
Jumadi menceritakan, ide pembuatan keramba ikan itu berawal ketika warga membutuhkan penghasilan lebih. Awalnya, lanjut dia, hanya ada beberapa warga yang memiliki keramba ikan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak warga yang menangkap peluang bisnis dengan ikut membuat keramba di sungai.
"Awalnya disini banyak orang yang tidak punya pekerjaan dan para janda, lalu muncullah ide budidaya ikan dengan memanfaatkan sungai di dekat rumah. Ternyata hasilnya mampu mengangkat perekonomian warga," katanya.
Saat ini, ratusan keramba yang berjejer rapi di sungai dengan panjang sekitar 300 meter tersebut dimiliki oleh sebanyak 40 warga. Tidak hanya masyarakat sekitar sungai saja, pemilik keramba itu juga ada yang merupakan warga luar kampung.
"Sebelumnya murni milik warga sekitar, tetapi kini ada beberapa warga yang menjual kerambanya pada orang luar," tutur Jumadi.
Sementara itu, jenis ikan yang dibudidayakan pun beragam. Seperti ikan nila, tombro, komet, dan koi. Sekali panen, untuk setiap keramba berukuran 2x1 meter bisa menghasilkan sekitar 1,6 kuintal ikan. Meski air sungainya tidak jernih, namun ikan tumbuh dengan baik. Bahkan ikan tombro milik Jumadi bisa tumbuh dengan berat mencapai tujuh kilogram.
"Warga biasanya memanem ikan setiap empat atau enam bulan sekali," ungkap pria yang juga pengrajin sangkar burung ini.
Namun, bukan hal yang mudah untuk membudidayakan ikan di keramba itu. Dia mengungkapkan, ada beberapa kendala budidaya ikan di sungai. Salah satunya terkait sampah. Awalnya, selain menambah penghasilan warga, pembuatan keramba juga untuk meminimalisir warga yang terbiasa membuang sampah. Namun kenyataanya, masih banyak warga yang tak segan membuang sampah ke sungai. Bahkan, sampah buangan dari pasar juga turut mengalir ke sungai tersebut.
"Sampah menjadi permasalahan serius untuk budidaya ikan ini. Karena dengan banyaknya sampah, air sungai sulit mengalir, padahal aliran sungai yang deras menjadi kunci agar ikan tetap tumbuh dengan baik," kata Jumadi.
Untuk mengatasi permasalahan sampah, masih kata Jumadi, warga pun rutin membersihkan sungai dua kali sehari. Tidak hanya itu, permasalahan pendangkalan air sungai juga masih menjadi kendala, lantaran banyak warga yang membuang sisa bongkaran bangunan ke sungai. Akibatnya, debit air pun menurun drastis.
"Jika debit air berkurang, banyak ikan yang mati. Idealnya, ketinggian air sungai untuk budidaya ikan sekitar 80 sentimeter. Namun beberapa tahun terakhir debit air sungai terus menurun," ujar dia.
Untuk itu, dia pun berharap agar pemerintah dan masyarakat turut mendukung program keramba sungai ini. Salah satunya dengan program menjaga kebersihan sungai. Selain itu, warga juga menginginkan adanya bantuan akses pemasaran ikan.
"Beberapa warga kesulitan menjual ikan jika telah panen, karena tidak punya akses harus dijual kemana. Untuk mencari bibit ikan yang bagus di kawasan Malang juga susah," keluhnya.
Terkait bibit tersebut, akhirnya banyak warga yang membeli dari kawasan luar Malang. Jumadi sendiri membeli bibit dari kawasan Kediri dan Sragen. "Kami mandiri mencari bibit sendiri, serta menjual sendiri ikan kami yang telah siap dipanen," tandasnya.
Inovasi keramba ikan di sungai tengah kota ini ternyata juga menarik perhatian warga luar Malang maupun pelajar untuk mempelajari tekniknya. Warga pun tidak segan untuk membagi ilmu budidaya ikan di sungai keruh tersebut.
"Banyak mahasiswa yang belajar disini. Bahkan ada warga dari Sumba yang belajar membuat keramba di sungai, ternyata kini diterapkan di daerahnya dan berhasil," tutupnya.