← Beranda

Videokan Ritual Adat dan Susun Kurikulum Pendidikan

Kuswandi05 Februari 2018, 15.00 WIB
Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi

JawaPos.com - Banyaknya anak muda yang tidak peduli dengan budaya dan adat membuat Renadi gelisah. Dia pun menggagas Sekolah Adat Bayan. Namun, banyak kendala yang harus dihadapi. Mulai sedikitnya pengajar hingga tidak adanya buku yang menjadi rujukan. Kurikulum pun mulai disusun.


Oleh : KHAFIDLUL ULUM


Gapura dengan tiang cor kecil berdiri kokoh di pinggir jalan di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bagian atasnya tertulis 'welcome to Bayan Indigenous People'. Setelah melintasi gapura, setiap pengunjung harus melewati jalan menanjak. Usai menaiki tanjakan, terdapat tanah lapang. Berdiri di atasnya beberapa bangunan dari kayu.


Bangunan berdinding bambu dan beratap ilalang masih terlihat baru. Ukurannya tidak terlalu besar, sekitar 4 X 3 meter. Di dalamnya terdapat puluhan buku yang terjejer rapi di rak. Bangunan mungil itu dimanfaatkan untuk perpustakaan.


“Bukunya belum banyak,” ujar Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi, saat ditemui Jawa Pos Kamis (22/12) lalu.


Sekitar 20 meter dari situ terdapat bangunan yang lebih besar dengan lantai semen. Rangka bangunan menggunakan beton, sedangkan dindingnya menggunakan bambu. Gedung tersebut dipakai untuk balai pertemuan. Terdapat beberapa poster yang tertempel. Salah satunya gambar tentang penggunaan bambu sebagai bahan konstruksi. Ada juga miniatur bangunan.


Di belakang balai pertemuan, terdapat rumah panggung untuk penginapan. Karpet hijau terhampar dalam bangunan. Para pengunjung bisa menginap di tempat yang cukup sederhana itu. Satu lagi beruga sakanem, semacam gazebo panjang. Beberapa pemuda berpakaian adat berkumpul di beruga.


“Sedang ada begawe, acara pernikahan,” tuturnya. Mereka sedang membantu tetangga yang sedang mantu.


Renadi mengatakan, bangunan-bangunan itu diperuntukkan untuk Sekolah Adat Bayan. Sekolah yang belum lama dia rintis. Menurut dia, sekolah itu baru dibuka sekitar empat bulan lalu. Sekarang ada sekitar 27 siswa yang mengikuti pembelajaran yang diberikan. Karena masih baru, belum banyak materi yang diberikan kepada siswa. Pembelajaran juga tidak diberikan setiap hari.


“Hari ini tidak ada pembelajaran,” urai mantan kepala Dusun Dasan Baro itu.


Menurut ayah satu anak itu, ada dua pelajaran yang diberikan. Yaitu tari dan musik bambu. Pelajaran tari diberikan setiap Minggu. Ada 22 anak yang mengikuti latihan tari. Mereka dibimbing langsung oleh Komang Ayu Mas Ratna Dewi. Untuk saat ini, ada dua tari yang diajarkan, yaitu Tari Bala Anjani dan Inak Tegining.


Sedangkan pelajaran musik bambu diajarkan setiap Sabtu dan Selasa. Ada sekitar tujuh anak yang mengikuti latihan musik bambu. Alat yang digunakan menyerupai musik gamelan. Yang membedakan, alat itu menggunakan bambu. I Gede Budha Yasa ditunjuk sebagai guru musik bambu.


“Tari dan musik bambu diajarkan untuk mempertahankan seni dan budaya Bayan,” tutur suami dari D Ratnimes.


Para siswa yang mengikuti sekolah adat tidak dipungut biaya alias gratis. Dia mengatakan, kegiatan pembelajaran diadakan bukan untuk tujuan komersil, tapi untuk melestarikan dan menjaga budaya setempat.


Selain tari dan musik bambu, setiap minggu pihaknya juga menggelar diskusi tentang adat dan budaya. Puluhan anak muda mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajak membahas adat yang berlaku di Kecamatan Bayan. Pengurus lembaga adat menyampaikan dan menjelaskan kepada peserta yang hadir.


Menurut Renadi, kegiatan diskusi sudah lama diadakan, yaitu sebelum didirikan sekolah adat. Acara itu sangat penting agar para pemuda tidak lupa dengan budaya yang mereka miliki. Mereka cukup antusias setiap kali mengikuti acara diskusi.


Tidak hanya itu, melalui sekolah adat, dia juga membuat video tentang ritual adat. Setiap kali ritual dilaksanakan, pihaknya melakukan perekaman. Misalnya, ritual Maulid Bayan, yaitu acara adat yang dilakukan saat perayaan maulid nabi. Ritual itu diadakan selama dua hari, pada 14-15 Robiul Awal sesuai Kalender Bayan.


“Diadakan setelah perayaan maulid nabi,” ucap alumnus STKIP Hamzanwadi Selong itu.


Ritual Idul Fitri juga didokumentasikan. Salat id sama dengan lainnya, tapi setelah salat masyarakat berkumpul dengan mambawa makanan. Selanjutkan, mereka pun menikmati hidangan itu bersama-sama. Acara itu bisa merekatkan silaturahmi di antara warga. Mereka bisa merayakan hari kemenangan bersama-sama.


Renadi mengatakan, pihaknya juga mendokumentasikan mejojo. Yaitu, ritual doa bersama untuk kelestarian hutan dan laut. Semua kegiatan itu direkam. Video itu digunakan untuk bahan pembelajaran bagi siswa sekolah adat. Mereka bisa belajar melalui video.


“Rekaman video juga di-upload di facebook dan youtube,” terangnya.


Sekarang, lanjut dia, pihaknya juga sedang membuat drama yang bercerita tentang seni cupak gurantang, sebuah cerita rakyat yang cukup terkenal di wilayah Bayan. Cerita itu dipentaskan dalam bentuk drama dan direkam menjadi video, sebagai bahan untuk pendidikan adat. Para siswa tentu akan mudah mengetahui cerita rakyat.


Anak dari pasangan Singayang dan Indrani itu mengatakan, sekolah adat tidak berhenti hanya belajar tari dan musik. Saat ini, dia bersama beberapa temannya sedang menyusun kurikulum sekolah adat. Ada banyak program yang akan dilaksanakan. Kurikulum itu akan dibagi sesuai kelas usia.


Siswa usia 3 – 6 tahun akan belajar permainan tradisional. Seperti slodor, slentik, niningsih dan permainan lainnya. Semua permainan itu sangat bermanfaatkan, karena ada nilai edukasinya. Bagaimana mereka diajak berolah fisik, bersosial dan berorgansasi.


Sementara Anak usia 7 – 12 tahun akan belajar tentang lingkungan dan ritual. Belajar bagaimana menjaga alam dan ritual yang dilakukan untuk melestarikan alam. Menurut dia, generasi muda harus mencintai dan menjaga alam, sehingga alam sekitar tidak rusak dan tetap lestari.


Sedangkan siswa usia 13 – 19 tahun akan belajar tahapan dan rangkaian ritual adat. Misalnya, rangkaian perkawinan adat, khitanan, maulid adat dan tahapan adat lainnya. “Tidak mudah membuat kurikulum, karena belum ada buku panduan,” tutur dia.


Pria berusia 35 tahun itu menerangkan, belum ada daerah yang mempunyai sekolah adat. Kalaupun ada paling hanya berupa sanggar. Belum ada yang mempunyai sekolah. Menurut dia, sebenarnya sudah cukup lama muncul ide membentuk Sekolah Adat Bayan.


Ide itu muncul pada 2013. Saat Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo-Bayan sedang menyusun program jangka pendek, menengah dan panjang. Muncul gagasan mendirikan sekolah budaya.


“Awalnya bukan sekolah adat, tapi sekolah budaya,” ucapnya.


Selanjutnya, pada 2014, dia mengikuti kegiatan yang diadakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman). Dalam pertemuan itu, dia bertemu dengan perwakilan dari berbagai daerah. Ada yang dari Banten, Batak dan daerah lainnya. Dia bertukar pikiran dan menyampaikan gagasan sekolah adat. Ia pun semakin mantab, namun ide itu belum bisa diterapkan.


Awalnya ada dua pilihan. Yaitu, apakah memasukan pelajaran budaya ke sekolah formal atau membuat sekolah non formal dalam konsep adat. Jika masuk sekolah formal, ada beberapa kendala. Baik dari segi kurikulum maupun guru. Menurut dia, di sekolah formal banyak guru dari luar, sehingga tidak mengetahui Adat Bayan. Akhirnya, sekolah non formal yang menjadi pilihan.


Sekretaris Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo-Bayan itu mengatakan, banyak kendala yang dihadapi. Pertama, belum adanya konsep pembelajaran adat, mencari guru pun tidak mudah, dan anggaran yang tidak ada. Akhirnya, pada empat September lalu, pihaknya nekat melaksanakan pembelajaran. Dia dibantu Rainom dan Tjatur Kukuh dari Santri Foundation dan teman-teman dari Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN). Sambil jalan, dia akan menyusun konsep kurikulum pendidikan.


Kertamalip, kepala Desa Karang Bajo mengatakan, dia sangat mendukung Sekolah Adat Bayan. “Ini program yang sangat bagus,” tutur dia. Pihak desa sudah berupaya membantu menyediakan buku untuk perpustakaan sekolah desa. Pengadaan buku diambil dari anggaran desa.


Menurut dia, sekolah adat perlu didorong agar anak muda tetap mengetahui budaya dan adat yang ada. Sebab, tutur dia, saat ini banyak dari mereka yang tidak mengetahui.


 


 

EDITOR: Kuswandi