← Beranda

Mecaru, Pangrupukan hingga Ayam dengan Ciri Khusus

Sari HardiyantoSabtu, 17 Maret 2018 | 16.25 WIB
KHUSYUK: Aneka upacara sebelum tawur agung.

JawaPos.com - Menjelang perayaan Nyepi atau tahun baru Saka, serangkaian upacara dilakukan oleh umat Hindu. 


Usai melaksanakan Jalanidhi Puja atau larung jolen berisi sesaji ke laut atau sumber, umat Hindu melaksanakan tawur agung atau tawur kasanga. Tawur kasanga, biasanya digelar sehari sebelum pelaksanaan Nyepi. 


Tawur agung, dilambangkan dengan pembakaran ogoh-ogoh atau patung buto alias raksasa. Puncaknya, ogoh-ogoh ini dibakar. Sebelumnya, dilakukan serangkaian upacara yang digelar di lapangan. Mereka melakukan persembahyangan dipimpin oleh beberapa romo mangku atau tokoh agama. 


Mereka melakukan pemujaan dengan doa-doa Hindu. Sementara di depannya terdapat aneka sesaji. Mulai buah, bunga dan aneka makanan lainnya. Lonceng juga kerap terdengar di sela pemujaan tersebut. Aneka sesaji itu ditata di wadah yang terbuat dari anyaman bambu atau anyaman janur. Ya, janur merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari setiap upacara umat Hindu. 


Upacara berlangsung cukup lama, sekitar satu jam. Para umat berdoa dengan khusyuk sambil melantunkan doa-doa.


Penutup prosesi pemujaan, adalah dengan pemercikan tirta suci kepada orang yang ikut dalam prosesi. Tirta suci ini dipercikkan oleh romo mangku, ke kepala umat. Para umat yang menerima juga menengadahkan tangannya untuk menerima air suci serta meminumnya.


Tidak lupa, biji beras juga dibagikan. Para umat segera memakan beberapa bulir beras dan menempelkan di pelipis serta kening mereka. Maknanya, prosesi ibadah sudah dilakukan.


Usai melaksanakan pemujaan, baru dilaksanakan upacara mecaru. Upacara ini digelar untuk para butakala alias raksasa yang digambarkan dengan ogoh-ogoh. 


Maknanya, keharmonisan buana agung alias alam semesta dengan buana alit atau diri sendiri.  Simbolisnya, aneka sesembahan untuk para butakala yang berisi buah, bunga dan ayam ingkung dan dikemas di canangsari alias anyaman janur untuk sesaji, dibakar.


Sebelum disembahkan kepada butakala, harus terdengar letupan dari api yang akan dibakar terlebih dahulu. Setelah terdengar letupan, baru semua sesembahan dibakar. 


Para tokoh agama juga menyapu di sekeliling api dan ada juga yang menabuh kentongan dan bunyi-bunyian lainnya. Ayam ingkung yang digunakan dalam mecaru juga bukan sembarang ayam. Ada aturannya dalam memilih unggas ini. 


Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Malang, Istianah menjelaskan, hanya ada satu ayam yang disembahkan untuk mecaru. 


Jumlah dan aturan pemilihan ayam disesuaikan dengan tingkatan perayaan mecaru. Tingkat desa berbeda dengan tingkat kecamatan, atau bahkan kabupaten. 


Jika tingkat desa, maka hanya mengunakan satu ekor ayam saja. Tapi, untuk tingkat kabupaten, mereka gunakan lima ekor ayam atau pancasata. Ayam yang digunakan, berwarna hitam, merah, putih, kuning dan coklat. 


"Karena ini tingkat desa, kami sebut ekasata, hanya pakai satu ekor ayam berumbun. Namun harus mengandung unsur lima warna," bebernya saat ditemui di sela mecaru yang digelar di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (16/3). 


Usai mecaru, lanjut Istianah, dilaksanakan pangrupukan atau ogoh-ogoh yang akan dibakar diarak keliling desa. Baru kemudian patung-patung itu dipralina atau dibakar. 


"Tujuan upacara tawur kesanga ini, untuk menetralisir diri agar tidak diganggu dengan sifat buruk dari butakala. Butakala menyimbolkan sifat angkara murka, menggambarkan sifat manusia. Dibakar agar tahun baru kembali suci," beber Istianah panjang. 


Baru setelah pelaksana tawur agung, dengan membakar sifat buruk manusia,  para umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. 


"Harapannya, kembali baik, kembali suci karena sudah membakar sifat angkara murka," pungkas perempuan yang menggunakan busana sembahyang warna hijau tosca itu.


EDITOR: Sari Hardiyanto