← Beranda

Representasikan Keberagaman Dalam Diri 17 Anak

Sofyan CahyonoMinggu, 17 Juni 2018 | 14.55 WIB
Para pemain dan crew film Indonesia Satu.

Satu lagi, sebuah karya anak bangsa hadir melalui film indie. Indonesia Satu, merupakan refleksi negeri terkini. Mengkritisi arogansi individu. Sekaligus mengajak orang untuk kembali membanggakan warna Indonesia, Merah dan Putih.


DIDA TENOLA-SURABAYA


17 Anak-anak berdiri terpaku, mengelilingi seorang perempuan. Perempuan itu kemudian melontarkan pertanyaan kepada anak-anak tersebut. "Dapat dari mana baju kalian?," tanyanya dengan nada bicara meninggi.


Suasana hening seketika. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Anak-anak berusia belasan tahun itu tampak menundukkan kepalanya. Sebagian di antara mereka ada yang menggenggam lantas meremas tangannya sendiri, tanda gugup ketakutan.


Salah satu dari anak-anak itupun kemudian memberanikan diri untuk menjawab. "Aku tidak tahu siapa dia ibu. Yang jelas dia bilang, warna bajuku yang paling indah," ucapnya.


Mendengar ucapan itu, satu anak lainnya menyahut. "Tidak ibu, dia bilang warnaku yang paling indah," timpal anak lainnya.


"Bohong ibu, mereka berdusta! Yang paling indah adalah warna bajuku," sahut lagi anak yang lain.


Mendadak, semua anak-anak itu saling bersahutan tidak mau mengalah satu sama lain. 17 Anak itu merasa bila warna baju yang dikenakannya adalah yang paling indah.


Sore yang awalnya hening, mendadak riuh karena perdebatan sepele. Masalah baju. Anak-anak itu saling mengklaim yang paling bagus. Padahal baju tersebut adalah pemberian seseorang yang tidak dikenal.


"Stop! Ibu benar-benar kecewa dengan kalian. Hanya gara-gara baju saja kalian jadi bertengkar," teriak perempuan tadi memotong perdebatan di antara 17 anak-anak. Sang perempuan lantas pergi sambil berlinang air mata. Anak-anak itu hanya bisa saling menatap satu sama lain.


Cuplikan dialog di atas adalah salah satu scene yang akan tayang di film Indonesia Satu. Saat JawaPos.com mendatangi lokasi pembuatan film di kawasan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, matahari sudah mulai kembali ke peraduannya. Para pemain film beradu akting sore menjelang Maghrib.


Petang itu adalah Minggu ketiga pembuatan film. Salah seorang penggagas film adalah Ketua Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Indonesia (PAPPRI) Sastra Harijanto Tjondrokusumo.


Hari, sapaan akrabnya, lantas menjelaskan salah satu scene yang dimainkan sore itu. Menurutnya, perempuan itu adalah sosok Ibu Pertiwi. Sedangkan 17 anak-anak melambangkan hari kemerdekaan RI 17 Agustus. Sekaligus merepresentasikan rakyat.


"Tadinya warna yang dikenal anak-anak itu cuma warna Indonesia, merah dan putih. Setelah dirusak oleh someone yang ngasih baju itu, jadi beraneka warna. Di situlah masalah muncul. Karena anak-anak itu menonjolkan egonya. Lupa sama warna aslinya," jelas Hari.


Beraneka warna tersebut juga diibaratkan seperti kehadiran partai politik (parpol). Parpol-parpol tersebut seakan lupa dengan warna asli Indonesia. Mereka lebih banyak memikirkan kepentingan golongan dan saling menjatuhkan satu sama lain untuk berebut kekuasaan.


Hari membocorkan, pada ending film sang ibu wadul ke suaminya. Sosok ayah itulah yang kemudian mendamaikan 17 anak-anaknya. Walaupun mereka mengenakan pakaian yang berbeda-beda, tapi pada akhirnya mereka bisa kompak, bergandengan satu sama lain. "Film ini bukan komersil. Kami ingin mengedukasi orang-orang agar kembali mencintai tanah air di tengah keberagaman yang ada," tambahnya.


Film yang disutradarai Handoko AN itu berkonsep surealis. Bergaya seperti drama musikal. Indonesia Satu akan diunggah di YouTube.


Hari menuturkan, mereka memang sengaja melibatkan anak-anak dengan beraneka ragam karakter. Anak-anak itu juga mewakili wajah Indonesia. Ada yang Tionghoa, Jawa, dan berasal dari Indonesia Timur. "Ya, mereka ini miniatur Indonesia," tutur pria berkaca mata tersebut.


17 Anak-anak itu juga melalui proses casting. Saat JawaPos.com menyaksikan proses pembuatan film, para orang tua mereka tampak sabar menunggu.


Hari mengakui, chemistry antar-pemain sudah terkoneksi dengan baik. "Akhirnya jadi keluarga baru. Guyon bareng. Nggak cuma anak-anaknya, orang tuanya juga. Melihatnya jadi senang. Kerukunan seperti ini yang coba ditampilkan di film," tutur ayah dua orang anak tersebut.


Lantaran bukan film komersil, anak-anak itu tidak memburu bayaran. Paling mereka cuma dapat uang pengganti transport.


Proyek film indie diharapkan tuntas pada 17 Agustus. Nantinya akan ada nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi tentang film. Pemutaran perdana akan dilakukan di Kantor Sekretariat PAPPRI, Jalan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. "17 Agustus itu bukan target. Ya prosesnya biar jalan saja. Nanti saat nobar kami juga akan hadirkan kritikus film," ungkap alumnus SMA Freteran Surabaya itu.


Sementara itu, sutradara Handoko AN mengakui mengambil proyek film itu karena kesumpekan. Skenario Indonesia Satu adalah yang diidam-idamkannya. Sutradara asal Jogjakarta itu memang sengaja mencari anak-anak dengan karakter yang berbeda. "Dengan kepolosan yang dimiliki, mereka bisa menyampaikan pesan-pesan yang ada di film ini kepada masyarakat," sebut Handoko.

EDITOR: Sofyan Cahyono