Seleksi bakal dihelat lagi untuk menghadapi tiga ajang kelas Asia yang akan diikuti timnas voli indoor putra di tahun ini. Setidaknya ada empat pemain di skuad sekarang yang dinilai layak main di liga-liga Eropa.
RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta
---
”KING OF ASEAN”, back-to-back champions, hingga hat-trick juara. Begitulah beragam pesan yang didapat Manajer Timnas Voli Indoor Indonesia Loudry Maspaitella setelah Rivan Nurmulki dkk berhasil merebut medali emas voli indoor putra SEA Games kali ketiga secara beruntun setelah menaklukkan tuan rumah Kamboja dengan skor 3-0 (25-21, 25-10, 25-15) di final.
Namun, Loudry tak ingin timnya besar kepala. ”Ilmu di atas langit masih ada langit itu harus terus diingat. Kita mungkin berjaya di Asia Tenggara, tapi untuk ukuran Asia belum ada apa-apanya,” beber mantan setter sekaligus kapten timnas voli indoor putra itu saat dihubungi Jawa Pos kemarin (9/5).
Artinya, lanjut Loudry, pemain berambisi main di luar negeri harus. ”Untuk melihat skill di luar negeri. Kalau pemainnya cerdas dan pelatihnya cerdas, bisa diadaptasi dan dikembangkan di Indonesia,” tambahnya.
Menurut Loudry, ukuran sukses sudah bukan lagi di SEA Games. Tapi di level Asia. Terdekat, ada beberapa event yang bakal diikuti Indonesia. Salah satunya AVC Challenge Cup 2023. Timnas voli putra Indonesia masuk di grup F bersama Bahrain dan Sri Lanka. Grup tersebut bakal memainkan laga di Taiwan pada 8–15 Juli.
Selain itu, ada Kejuaraan Bola Voli Asia di Iran pada 18–26 Agustus dan Asian Games di Hangzhou, Tiongkok, pada 23 September sampai 8 Oktober. ”Kalau berdasar dari komitmen itu, Juni sudah harus pelatnas,” ungkapnya.
Yang pasti, sambung Loudry, untuk mengambil pemain terbaik, pihaknya tidak serta-merta mengikutkan 14 pemain yang tampil di SEA Games. ”Kami adakan seleksi 18 hingga 22 pemain,” ucapnya.
AVC Challenge menjadi jalan pertama Indonesia menuju Volleyball Nations League (VNL). ”VNL ini kan promosi-degradasi. Kalau putra memang berat. Masih ada Korea Selatan, Kazakhstan, Taiwan, dan masih banyak negara kuat lain. Tapi, kita kan harus ke sana untuk bisa mengukur oh kita kekuatannya baru segini,” tuturnya.
Untuk mengikuti ajang seperti itu, lanjut Loudry, dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Lain halnya dengan SEA Games dan Asian Games yang dibiayai pemerintah. ”Ini yang harus dibicarakan. Tapi, untuk dana, kita tidak ’semiskin’ dulu lah. Pasti ada,” katanya.
Pelatih timnas voli indoor putra Jeff Jiang Jie menyatakan, timnas asuhannya sudah mencapai level lebih baik. Tapi, ada poin yang disampaikannya ke pemain dan PBVSI. ”Jika pemain ingin berkembang lebih jauh, perlu memperbaiki lingkungan latihan, peralatan latihan, dan perawatan para atlet. Dan ambil bagian dalam kompetisi kelas dunia,” tegasnya.
Sementara itu, eks bintang timnas voli indoor Indonesia Endry Oktaviyantono menilai era emas saat ini sama dengan eranya yang menjuarai SEA Games di Malaysia 1989, Filipina 1991, Singapura 1993, dan Indonesia 1997. ”Timnas kita layak merebut emas karena materi pemain Indonesia memang di atas materi pemain negara lain. Semua dipukul dengan 3-0,” ujarnya.
Karena itu, pria yang di Proliga 2023 menjadi asisten pelatih Jakarta Pertamina Pertamax tersebut menjelaskan, pembuktian tim bukanlah di SEA Games. Melainkan di Asian Games 2023. ”Di Asian Games target harus bisa meraih medali,” tuturnya.
Pada Asian Games 2018 sebelumnya yang berlangsung di Indonesia, Rivan Nurmulki dkk harus puas terhenti di perempat final oleh Korea Selatan dengan skor 0-3 (22-25, 18-25, 18-25). Pelatih kelahiran Magelang, Jawa Tengah, tersebut menuturkan, berharap keberhasilan hat-trick juara di SEA Games tidak lantas membuat para pemain berpuas diri. ”Jangan kendur latihannya. Satu lagi pesan saya, jangan sering tarkam. Karena tarkam akan merusak teknik permainan,” tambahnya lalu terkekeh.
Di era kejayaannya dulu, Endry merasa beruntung bisa mengikuti Universiade di beberapa negara. Seperti London, Inggris (1991); Buffalo, New York, AS (1993), dan Cecilia, Italia (1997).
Sedikitnya, tambah Endry, ada empat manfaat yang didapat. Pertama, menambah jam terbang. Kedua, bisa berkesempatan menghadapi lawan yang rata-rata tingginya 2 meter. Dan ketiga, mempelajari teknik pemain kelas dunia yang bisa dibawa untuk meningkatkan kemampuan bermain. ”Terakhir, bisa menguatkan mental bertanding,” ucapnya.
Dari pandangannya saat ini, ada empat pemain yang laik bermain di klub Asia, bahkan Eropa. Mereka adalah opposite hitter Rivan Nurmulki dan trio outside hitter Doni Haryono-Farhan Halim-Fahri Septian.
Tiga nama pertama sudah berkarier di Asia. Rivan dan Doni sama-sama pernah memperkuat tim Jepang VC Nagano Tridents yang berkancah di V League Divisi 1. Sedangkan Farhan juga pernah berkiprah di Dubai, Uni Emirat Arab.
Fahri yang belum dan masih berkancah di Proliga. Namun, Fahri sukses membawa Jakarta LavAni Allobank menjadi kampiun dan juga terpilih sebagai pemain terbaik musim 2023. Sedangkan Farhan didapuk sebagai server terbaik.
Endry menambahkan, yang harus disiapkan timnas adalah regenerasi di setter. Sebab, dua pemain yang ada saat ini sudah tergolong senior: Nizar Julfikar, 28, dan Dio Zulfikri, 26. ”Dilihat dari Proliga kemarin, belum ada setter muda yang kelihatan. Jansen Natanael, 23, juga masih kurang. Bola-bolanya masih mudah dibaca,” jelasnya. (*/c9/ttg)