Eksistensi karya dan sastra Jawa terus dipertahankan oleh berbagai kalangan. Tak terkecuali oleh Suharmono Kasiyun yang turut melestarikannya melalui goresan pena. Novel berbahasa Jawa berjudul Guwing karyanya mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma 2022.
RAMADHONI CAHYA C., Surabaya
SUHARMONO tak menyangka novel yang dibuat pada 1988 itu meraih penghargaan Anugerah Sutasoma 2022 kategori Karya Sastra Berbahasa Daerah Terbaik. Menurut dia, ide cerita dalam novel tersebut terlintas tatkala dirinya melintas di Jalan Tunjungan. Dia melihat seorang penyandang disabilitas diturunkan dari becak di trotoar untuk meminta-minta.
Setiap malam di rumahnya, pria 69 tahun itu menulis naskah novel. Dia mengisahkan, Guwing adalah representasi individu yang menjadi korban nafsu dunia. Terlahir cacat, dibuang ibunya sejak kecil, hingga menjadi pengemis di area lampu lalu lintas. Namun, dia memiliki keinginan hidup yang lebih layak meski diperas keringatnya oleh sang orang tua angkat.
”Ditulis dalam bahasa Jawa ngoko karena saya lahir di Ponorogo yang kental dengan pengaruh Mataraman. Diedarkan di wilayah Jatim dan Jateng,” jelasnya.
Bagi dia, budaya Jawa harus terus dipertahankan karena memiliki nilai-nilai luhur. Hal itu pula yang memotivasi Suharmono untuk menulis saat usia tak lagi muda. Dia juga aktif menulis cerita pendek. Tak terhitung lagi jumlah cerita cekak yang ditulis dan diterbitkan berbagai media. Namun, Suharmono ingat betul ada sekitar enam novel yang telah dikarangnya.
Dia sering menjadikan kisah-kisah umum di masyarakat sebagai tema dalam cerita novel. Ada satu prinsip yang Suharmono jadikan pedoman selama menulis. Yakni, karyanya harus bermanfaat bagi masyarakat dan mengajarkan suatu hal. Menurut perkataan seorang teman, cerita dalam karya novel miliknya berisi kesedihan atau dalam bahasa Jawa disebut nggrantes.
Berbagai sumber mengilhami Suharmono dalam menciptakan karya. Mulai buku, pengamatan sekitar, hingga pengalaman pribadi. Tentu saja peran keluarga juga membuat pria kelahiran 1953 itu menggemari dunia sastra Jawa. Sejak mengenyam bangku sekolah dasar (SD), dia selalu disuguhi beragam majalah berbahasa Jawa. Misalnya, Panjebar Semangat, Jaya Baya, dan Mekar Sari.
Suharmono sebelumnya juga pernah mendapat Anugerah Sutasoma pada 2017 di kategori Sastrawan Berdedikasi karena konsistensi sumbangsihnya. Salah satunya mendirikan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) bersama dosennya pada 1973.
Dewan Kesenian Surabaya pun turut memberikan dukungan atas berdirinya paguyuban tersebut. ”Sampai saat ini masih aktif. Para anggota berasal dari Surabaya Raya,” ungkap dosen Pendidikan Profesi Guru Sekolah Dasar (PPGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) tersebut.
Suharmono juga ikut serta mendirikan program studi sastra Jawa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 1981. Sebab, kebutuhan guru bahasa Jawa yang cukup tinggi tidak terpenuhi. Ketersediaan guru di bidang itu kala itu belum memenuhi kuota yang ada.