Mukid sudah menciptakan sepuluh lagu sejauh ini. Ibuku, salah satunya, didedikasikan kepada mendiang Kristiani Herrawati alias Ani Yudhoyono. Dia pun mendapat apresiasi dari keluarganya pada acara mengenang tiga tahun kepergian mantan ibu negara itu bulan lalu.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
AWAL Juni, telepon genggamnya berdering karena panggilan dari nomor asing. Mukid meresponsnya. Menanyakan siapa orang yang menghubunginya siang itu. ’’Wanita, suaranya lugas,’’ kenang Mukid. Orang tersebut memperkenalkan diri sebagai ajudan keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mukid pun mendapat penjelasan. Lagu Ibuku yang diciptakannya menarik perhatian presiden ke-6 itu.
Mukid diundang untuk hadir dalam acara mengenang tiga tahun kepergian almarhumah Ani Yudhoyono di Jakarta Convention Center pada 19 Juni. Dia akan diberi penghargaan. ’’Keluarga Pak SBY tahu lagu saya dari YouTube,’’ jelasnya.
Mukid selama ini memang selalu mengunggah lagu-lagu ciptaannya di sana. Sebab, niat awal menciptakan lagu adalah sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. ’’Mayoritas lagu saya bertema tentang antinarkoba,’’ ucapnya.
Alumnus SMAN 7 Kediri itu mulai membuat lagu pada 2019. Saat itu, dia menjadi Kasatresnarkoba Polres Jombang. Idenya muncul pada awal pandemi. Mukid tertantang untuk berinovasi agar penyuluhan antinarkoba tidak terhenti.
Sebab, mengadakan kegiatan tatap muka secara langsung sulit terealisasi.
Sosialisasi lewat lagu menjadi pilihan. Terlebih, dia punya bekal. Mukid hobi bermusik sejak remaja. Dia lantas menciptakan lagu. Judulnya Bertaubat.
Mukid kemudian membentuk band. Dia blusukan ke berbagai komunitas untuk mencari talenta yang diinginkan. Hingga akhirnya, terkumpul enam orang. ’’Dengan saya, total personel jadi tujuh,’’ jelasnya.
Mukid menamai bandnya D’kobra. Singkatan dari Detasemen Komando Pemberantas Narkoba. Genre musiknya dijatuhkan pada slow rock karena dinilai bisa lebih kuat menyampaikan makna lirik lagu dengan entakan suara vokalisnya.
Lagu Bertaubat diaransemen, lalu direkam. Videonya pun selalu diputar pada kegiatan sosialisasi.
Mukid menyampaikan, lagu itu bercerita tentang suami istri. Yang laki-laki merantau ke luar kota. Di perantauan, dia terlibat peredaran narkoba dan dipenjara. Setelah menjalani hukuman, dia bertobat.
Lagu itu dianggap bisa menyampaikan pesan antinarkoba ke peserta sosialisasi. Mukid akhirnya ketagihan membuat lagu. Menjelang HUT Bhayangkara pada tahun itu, ayah dua anak tersebut menciptakan lagu berjudul Insan Bhayangkaraku.
Berselang beberapa waktu, ide menciptakan lagu kembali muncul. Berita kepergian mendiang Ani Yudhoyono ramai di masyarakat. Mukid tergugah untuk menciptakan lagu yang didedikasikan kepadanya. ’’Bu Ani itu sosok yang inspiratif. Jiwa sosialnya tinggi,’’ kata polisi yang kini bertugas sebagai Kanit 3 Pengawas Penyidikan Direktorat Narkoba Polda Jatim tersebut.
Mukid memilih judul Ibuku untuk lagu ketiganya. Liriknya menggambarkan pengorbanan ibu yang tidak akan pernah ternilai. Kasih sayangnya tidak tergantikan.
Mukid tidak pernah mengira lagu itu sampai di telinga SBY. Bahkan, dia sampai diundang untuk hadir ke acara keluarga SBY. ’’Di awal video memang saya cantumkan bahwa lagu itu untuk Ibu Ani. Tetapi, siapa yang sangka akan dilihat Pak SBY,’’ ungkapnya dengan bangga.
Mukid terus menciptakan lagu seiring waktu. Terakhir, lagu ke-10 ciptaannya diberi judul Berdusta. Lagunya mengisahkan pemuda dengan ekonomi pas-pasan yang menjadi loper koran. Dia jatuh hati kepada anak orang kaya. Mereka sempat berpacaran, tetapi si perempuan akhirnya memilih laki-laki lain yang lebih mapan. Belakangan diketahui, laki-laki itu ternyata kaya dari bisnis narkoba. Adapun pemuda yang cintanya bertepuk sebelah tangan menjadi polisi.
Mukid mengatakan, lagu tersebut mendapat perhatian dari sebuah label musik. Dia sampai ditawari kontrak lagu selama 15 tahun. Dengan tujuan, label itu punya hak memakai lagunya untuk kepentingan komersial. ’’Jadi pintu rezeki,’’ ucapnya.