← Beranda

Bogor Historical Walk, Jalan Seru Menguak Berbagai Tempat Bersejarah

Dhimas GinanjarSelasa, 14 Juni 2022 | 03.50 WIB
Ramadhian Fadillah (kiri) saat jalan-jalan bersama komunitas Bogor Historical Walk. (Kuswandi/JawaPos.com)
Berawal dari mengisi waktu luang saat libur bekerja dengan berjalan-jalan bersama anaknya ke berbagai tempat bersejarah di Kota Bogor, Ramadhian Fadillah, 39, lantas membentuk Bogor Historical Walk (BHW). Ucapan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1966 soal Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah itu ikut memberinya inspirasi membentuk komunitas.

KUSWANDI, Bogor

MENGENAKAN kaus hitam dipadu celana abu-abu dan topi koboi, Ramadhian Fadillah terlihat fasih menjelaskan sejarah Raden Saleh kepada sejumlah orang. Pagi itu, Sabtu (11/6), tema BHW adalah: De Maestro, Kisah Raden Saleh dan Kampung Empang.

Sesekali tangannya membenarkan posisi mikrofon dan speaker kecil hitam yang kerap melorot saat berjalan. Itu dilakukan supaya suara yang keluar dari speaker kecil hitam itu terdengar jelas. Sehingga para peserta jalan-jalan yang ingin mengetahui masa lalu berbagai tempat bersejarah di ‘Kota Hujan’, memahami dengan seksama informasi yang disampaikan.

“Rumah (dulu vila Raden Saleh-Red) ini pernah dikepung tentara Belanda. Jadi ada seseorang yang mengaku sebagai Raden Saleh dan dia memimpin pemberontakan di Tambun, Bekasi. Sekitar 1869,” kata Ramadhian saat berada di depan gedung tua bercat putih yang kini menjadi kantor Ditjen Pajak, KPP Pratama Bogor.

Gara-gara orang yang berpakaian mirip dan mengaku sebagai Raden Saleh itulah yang membuat maestro lukis bernama lengkap Raden Saleh Sjarif Boestaman ditangkap. “Akhirnya Raden Saleh dikenai tahanan rumah, diperiksa, diinterogasi dengan kasar sampai dimasukan ke bungker,” imbuh Ramadhian.

Dia juga bilang, meskipun menjadi maestro pelukis, Raden Saleh tidak lepas dari pengawasan Belanda. Katanya, itu karena keluarga besar Raden Saleh adalah pendukung Pangeran Diponegoro. “Bahkan beberapa ada yang ditangkap. Jadi tidak lepas dari pengawasan Belanda,” tuturnya.

Photo
Photo


Makam Raden Saleh, di Jalan Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Kuswandi/JawaPos.com


Usai puluhan peserta mendatangi makam Raden Saleh, hujan deras tiba-tiba membasahi tanah di wilayah Kelurahan Empang, Bogor Selatan. Sontak puluhan peserta yang mengikuti kegiatan BHC siang itu basah kuyup meskipun sudah berlarian mencari tempat berteduh di beberapa rumah penduduk maupun mengeluarkan payung dari tas-nya.

Meski baju basah, tidak menyurutkan peserta yang didominasi orang dewasa itu untuk melanjutkan jalannya acara. Para peserta kembali berjalan naik turun menelusuri gang kecil sembari memegang payung. Salah satu peserta, Alexander Agung, 43, mengaku senang mengikuti jalannya acara tersebut. Hujan dan berjalan hampir tiga jam lamanya tidak membuatnya lelah.

Menurut pria asal Surabaya itu, Bogor Historical Walk menawarkan sesuatu yang beda. “Di Bogor Historical Walk kekuatan sejarahnya kuat. Aroma sejarahnya lebih kental, karena Kang Iyan (Ramadhian) faham sejarah,” kata pegawai swasta di bidang distribusi alat farmasi dan kesehatan itu.

Karena cerita sejarahnya kuat, Alex mengaku suka menghabiskan waktu libur bekerjanya untuk ikut Bogor Historical Walk. Favoritnya, gedung-gedung tua peninggalan Hindia Belanda. “Saya sudah ikut empat rute,” ucapnya.

Senada dengan Alex, Roy Wicaksono, 33, bilang kalau konsep acara walking tour yang digelar Bogor Historical Walk cukup bagus. Dia membandingkan dengan acara Jakarta Goodguide (komunitas jalan-jalan sejarah di Jakarta).

“Konsep acaranya bagus. Di Indonesia akhirnya ada walking tour yang sebelumnya cuma bisa ditemukan di Eropa dan negara lainnya. Lebih pentingnya lagi, ini bisa jadi sarana edukasi dan hiburan bagi yang suka traveling. Dari yang nggak tahu, jadi tahu, dan bisa jadi alternatif wisata akhir pekan,” kata Roy.

Meskipun menilai bagus, namun ada catatan dari mantan penulis di sebuah perusahaan media swasta nasional ini. “Kekurangannya terlalu banyak peserta dalam satu grup. Mungkin bisa dipecah menjadi 3-4 grup. Agar tidak terlalu padat,” urainya.

Photo
Photo

Puluhan peserta Bogor Historical Walk (BHW), berpose bersama di bekas stasiun kecil, salah satu titik bersejarah di Kota Bogor dulu.


Bogor Historical Walk dengan tema Raden Saleh itu merupakan acara keenam sejak kali pertama digelar pada September 2019 silam. Acara jalan-jalan sejarah itu biasanya digelar setiap dua pekan dalam satu bulan. Namun tidak berjalan lancar karena pandemi Covid-19 merebak.

Ramadhian ingat betul, awal mula dirinya mendirikan komunitas jalan-jalan Bogor Historical Walk karena antusiasme orang yang tertarik dengan tempat-tempat bersejarah di Kota Bogor. “Awalnya dulu saya ngasuh anak. Jalan-jalan kalau weekend. Mengenalkan bangunan dan sejarahnya. Lama-lama beberapa teman ikut. Dari situ temannya mengajak temannya lagi. Akhirnya banyak yang usul, kenapa nggak dibuka (open trip jalan-jalan sejarah-Red)?,” terangnya.

Karena banyak peminatnya, Ramadhian akhirnya berani membuka acara jalan-jalan sejarah Kota Bogor yang lantas diberi nama Bogor Historical Walk. Inspirasi konsepnya dia temukan saat bertugas di Dubai, kota terpadat di Uni Emirat Arab. “Konsepnya simpel. Bagaimana mengenalkan sejarah supaya lebih mudah dipahami dan menyenangkan, serta bisa diikuti oleh semua kalangan,” jelasnya.

Ramadhian yakin, sejarah harus bisa untuk semua dan harus menyenangkan. Itulah kenapa, sebelum open trip, Ramadhian bersama koleganya akan mengunjungi lebih dulu tempat-tempat yang nanti dikunjungi. Selain itu, agar kegiatan yang dibentuknya lebih menarik, dia akan mencari ide dan rute baru. “Semua (panitia) riset bareng. Semua punya kontribusi,” tukasnya.

Ramadhian tak menyangka, jika ide awal yang hanya untuk mengenalkan sejarah kepada anak-anaknya menjadi banyak peminat. Itu kadang membuat dia dan tim kewalahan. Tidak jarang peserta langsung membludak saat informasi rencana jalan-jalan sejarahnya dibuka di media sosial.

“Idealnya 15-20 peserta per kegiatan. Ini kita buka 5 menit langsung penuh pendaftaran. Jadi kita ingin nambah pemandu, ingin lebih besar lagi ke depannya. Cuma untuk saat ini, kita fokus riset rute-rute baru dulu,” tukas sarjana Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan, Bandung tersebut.
EDITOR: Dhimas Ginanjar