← Beranda

Aeshnina Azzahra, Aktivis Lingkungan Cilik yang Sudah Go Internasional

Dhimas GinanjarRabu, 8 Desember 2021 | 14.48 WIB
PENCINTA LINGKUNGAN: Aeshnina Azzahra Aqilani berorasi menolak sampah plastik di Belanda. (Aeshnina untuk Jawa Pos)
Aeshnina Azzahra Aqilani baru berusia 14 tahun. Tapi, kepeduliannya pada isu-isu lingkungan tak bisa diragukan. Baru-baru ini dia diundang sebagai pembicara di forum internasional, Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam, Belanda.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

POLISI sampah. Nama itu seperti guyonan. Tapi, begitulah julukan Nina, sapaan Aeshnina Azzahra Aqilani di sekolahnya, SMPN 12 Gresik, Kecamatan Wringinanom. Predikat tersebut menempel dengan sendirinya karena sikap Nina yang keras terhadap sampah. Khususnya sampah plastik, dia sangat anti. ’’Semua mulai dari diri sendiri. Mungkin teman-teman di sekolah juga sungkan kalau buang sampah sembarangan,’’ kata Nina kepada Jawa Pos kemarin (6/12).

Nina adalah seorang aktivis lingkungan cilik yang sudah dikenal cukup luas. Pada 2019, bersama teman sebayanya dia menginisiasi berdirinya River Warrior. Itu adalah wadah bagi Nina dalam melakukan aksi-aksi pro lingkungan. Misalnya, aksi bersih-bersih sungai dari tumpukan sampah plastik. ’’Saya senang melakukan ini. Ini panggilan hati saya,’’ tuturnya.

Bersama relawan River Warrior, dia juga melakukan uji sampel air sungai dengan melihat kandungan mikroplastik. Uji sampel dilakukan di sejumlah sungai di Jatim. Antara lain, Kali Brantas, Kali Surabaya, Kali Porong, serta sungai-sungai di lereng Gunung Kelud dan Anjasmoro. ’’Hasilnya, semua sampel mengandung mikroplastik,’’ ujarnya.

Ironisnya, lanjut dia, ditemukan banyak sampah plastik impor. Sampah tersebut mengakibatkan pencemaran. Sebab, sebagian besar sampah plastik impor dibakar sehingga menimbulkan senyawa beracun berupa dioksin. Apalagi, jenis sampah itu tidak bisa didaur ulang. Fenomena tersebut menimbulkan masalah serius pada kerusakan ekosistem sungai.

Di sisi lain, kandungan mikroplastik dalam air membahayakan kesehatan manusia. Ancaman kesehatan terjadi karena rantai makanan melalui air, plankton, ikan air tawar, ikan laut atau seafood dan masuk ke tubuh manusia saat dikonsumsi. ’’Ujung-ujungnya mengganggu kesehatan manusia dan ikan yang makan sampah itu,’’ ujarnya.

Sejumlah aksi Nina menarik perhatian khalayak hingga viral. Dia pernah melancarkan protes dengan menulis surat langsung kepada pemimpin negara-negara maju. Surat protes penolakan sampah impor pernah ditujukan kepada mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan terbaru surat protes yang sama dikirim ke Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Nina juga melayangkan surat protes kepada Perdana Menteri Australia Scott Morrison, PM Kanada Justin Trudeau, PM Inggris Boris Johnson, dan PM Jerman Angela Merkel. ’’Saya kirim surat itu karena ini (sampah plastik impor, Red) bentuk penjajahan baru di Indonesia,’’ ujarnya.

Aksi Nina semakin menarik perhatian internasional. Pada 6 November lalu, bungsu tiga bersaudara itu diundang dan didapuk sebagai pembicara paling muda dalam forum Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam, Belanda.

Pada 28 Oktober tahun ini Nina juga menghadiri forum United Nations Climate Change Conference (COP26) atau Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa Ke-26 di Glasgow, Skotlandia.

Menurut dia, dampak buruk pencemaran lingkungan yang terjadi saat ini belum begitu terlihat. Tapi, suatu saat generasi yang akan datang merasakan dampaknya. Padahal, tutur dia, generasi muda Indonesia mempunyai hak untuk hidup di lingkungan sehat dengan air yang jernih dan udara bersih. ’’Kami sebagai anak-anak muda Indonesia punya hak atas semua itu,’’ tegasnya.
EDITOR: Dhimas Ginanjar