← Beranda

Pesannya, Kurangi Insecure dan Perbanyak Bersyukur

Ilham SafutraSelasa, 2 November 2021 | 00.06 WIB
MENTERI SEHARI: Afi Ahmad Ridho saat masuk ke dalam kantor menteri agama di Jakarta (21/10). (DOKUMENTASI KEMENAG)

”Menteri Agama” Afi Ahmad Ridlo dan Impiannya untuk Santri serta Pendidikan


Afi Ahmad Ridlo menitipkan gagasan soal guru dan jam pelajaran agama dalam rapim dengan para pejabat Kemenag. Dia bercita-cita menjadi public speaker dan motivator.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

---

TUGAS pertama sebagai ”menteri agama” langsung menghadapkan Afi Ahmad Ridlo dengan para pejabat eselon I dan II Kementerian Agama (Kemenag). Yang dibahas dalam rapat pimpinan (rapim) itu juga tak main-main: berbagai problematika di kementerian dengan satuan kerja terbanyak di Indonesia tersebut, termasuk soal layanan pendidikan.

Sedikit grogi, tapi pendidikan adalah dunianya. Dia tahu gagasan apa yang harus disampaikan. Salah satunya soal guru.

”Saya sampaikan, skill para pengajar harus ditingkatkan. Sebab, kunci perbaikan kualitas pendidikan adalah meningkatkan kualitas tenaga pengajar,” kenangnya tentang rapat pada Kamis (21/10) dua pekan lalu itu.

Arahan keduanya, memaksimalkan fungsi pendidikan. Menurut dia, ada tiga fungsi pendidikan: transfer ilmu pengetahuan, transfer nilai, dan transfer karakter.

Afi menilai tiga fungsi pendidikan tersebut belum berjalan maksimal. Karena itu, di kalangan siswa masih sering terjadi hal-hal negatif. Ironisnya, di sekolah umum, pelajaran agama juga hanya dua jam per pekan.

”Bisa melakukan perbaikan apa bila pendidikan agama hanya diberikan dua jam dalam seminggu,” katanya yakin.

Masih banyak gagasan dia sebenarnya. Tapi, dia harus berkejaran dengan waktu. Besoknya ”jabatannya” sudah berakhir.

*

Kecakapannya dalam menyampaikan gagasan, didukung argumentasi memadai, ditambah banyaknya pengalaman berorganisasi yang membawa Afi pada kursi Menag. Afi berhasil menyisihkan 139 pesaing dalam sayembara Sehari Menjadi Menteri.

Diawali dengan membuat video gagasan ketika menjadi menteri. Videonya berdurasi tiga menit. Dalam video tersebut, santri dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, itu menyampaikan gagasan pemberdayaan alumni pondok pesantren.

Dia menguraikan, pemberdayaan tersebut bisa dilakukan dengan menerjunkan ahli-ahli di bidangnya. Dengan begitu, alumni pesantren bisa lebih berdaya. ”Misalnya, berdaya dari sisi ekonomi melalui penanaman jiwa kewirausahaan,” kata santri yang kini duduk di kelas XII madrasah aliyah dan bercita-cita kuliah di Universitas Indonesia tersebut.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Waryono menyebutkan, santri kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 26 Juni 2003, itu menunjukkan potensi dan kompetensi menjalankan tugas menteri. Selain itu, anak seumuran Afi memiliki riwayat berorganisasi yang bagus.

”Afi juga pintar menulis. Bahasa Inggris-nya juga sangat bagus,” pujinya.

Meski cuma sehari ”memimpin” Kemenag, Afi memetik banyak pengalaman. Sebab, dia langsung dihadapkan pada agenda yang padat.

Tak hanya memimpin rapat, Afi juga sempat menerima tamu rektor IAIN Pontianak. Juga menerima kunjungan Eny Retno, istri Menag yang ”digantinya”, Yaqut Cholil Qoumas.

Afi berharap pengalamannya itu bisa menginspirasi para santri lain. Dia berpesan kepada kawan-kawannya supaya mengurangi insecure (perasaan tidak aman/kurang percaya diri) dan memperbanyak bersyukur.

Dia paham, santri kerap dicap sebagai kelompok yang kolot dan anggapan miring lain. ”Padahal, santri itu memiliki latar belakang yang penting dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sebagai bagian dari generasi muda, dia juga menyebut peringatan Sumpah Pemuda yang baru lewat sebagai momentum untuk menjalin persatuan. ”Seperti kita ketahui, Indonesia itu beragam. Perlu ada ikatan, yaitu melalui Sumpah Pemuda itu,” kata santri yang bercita-cita sebagai public speaker dan motivator tersebut.

Lewat sayembara yang dimenangi Afi itu, kata Waryono, Kemenag memang ingin menyampaikan pesan bahwa para santri bisa bercita-cita apa saja. Tidak hanya menjadi menteri, tapi juga jabatan yang lebih tinggi seperti wakil presiden atau bahkan presiden.

*

Jabatan Afi tepat berakhir pada peringatan Hari Santri Nasional Jumat (22/10) dua pekan lalu. Tepat pada Jumat (22/10) malam dalam pergelaran Santriversary 2021, pin Nayaka yang sehari sebelumnya disematkan kepadanya kembali disematkan di dada Yaqut Cholil Qoumas.

”Tidak ada pesan khusus kepada saya. Beliau (Menteri Yaqut) hanya titip pesan dan salam kepada kiai di Pondok,” tuturnya.

Yaqut berharap sayembara Sehari Menjadi Menteri dapat membangkitkan semangat para santri. Baik semangat belajar maupun kepercayaan dirinya.

Karena itu, lanjut dia, menjadi santri tidak perlu minder. Tidak perlu merasa terpinggirkan. ”Saya yakin Afi dan santri-santri di seluruh Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa,” katanya.
EDITOR: Ilham Safutra