← Beranda

Gia: Aku Ingin Merawat Orang-Orang dengan Brain Injury

Lailatul FitrianiSelasa, 10 Oktober 2023 | 22.20 WIB
MENAMBAH ILMU: Ni Made Prami Dewanggi alias Gia di Kampus University of California, Davis.

Mahasiswa Surabaya yang Jadi Asisten Penelitian di Luck Lab, Amerika Serikat

Gia terpilih menjadi asisten penelitian di salah satu laboratorium neurosains kognitif ternama di Amerika Serikat (AS) setelah mengungguli 150 pendaftar lain. Juga pelajari komunikasi dan desain kopi.

LAILATUL FITRIAN, Surabaya

---

”DITERIMANYA bulan lalu, tapi baru mulai aktif minggu ini,” ujar Gia saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya kemarin (9/10).

Semua berawal dari ketertarikannya pada ilmu cognitive neuroscience atau neurosains kognitif.

Saking penasarannya, Gia cukup sering memanfaatkan office hour yang diterapkan University of California (UC), Davis, AS. Yakni, wadah untuk bertanya atau berkonsultasi secara privat dengan dosen. Dosen itu pula yang kemudian menyarankannya mendaftar research assistant di Luck Lab.

Ternyata dia terpilih setelah menyisihkan 150 kompetitor atau pendaftar lain. ”Di sini aku membantu pengoleksian data dari penelitian menggunakan electroencephalogram (EEG). Simpelnya, aku menguji subjek dengan EEG,” jelas pemilik nama lengkap Ni Made Prami Dewanggi tersebut.

Tentu kesempatan itu berharga mengingat belum ada universitas di Indonesia yang menggunakan EEG. Gia tengah menjalani studi di UC Davis lewat program IISMA (Indonesian International Student Mobility Award). Dia memulai perjalanannya sebagai awardee sejak summer quarter awal Agustus. Di sana Gia banyak menjajal mata kuliah multidisiplin lain.

”Aku ambil cognitive neuroscience dan computational cognitive neuroscience yang masih cukup berhubungan sama jurusan aku, psikologi. Sama design of coffee karena ayahku pencinta kopi dan aku mau tahu lebih banyak cara membuat kopi,” ungkap mahasiswi psikologi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, tersebut.

Dengan menimbang manfaatnya untuk karier di masa depan, Gia juga mengambil studi introduction to mass communication and presentation, communication and collaboration skill for international students (studi pengenalan komunikasi massa dan presentasi, komunikasi, serta keterampilan kolaborasi untuk mahasiswa internasional).

Menurut dia, semua pekerjaan profesional akan membutuhkan kemampuan dan pengetahuan komunikasi yang baik. ”Ilmu ini juga akan sangat berguna untuk posisi aku yang saat ini masih menjadi chief marketing officer (CMO) Sekreativ,” ungkap gadis yang bulan ini genap berusia 21 tahun itu.

IISMA menjadi impiannya sejak menjadi mahasiswa baru. Dua tahun dia dedikasikan untuk belajar IELTS dan aktif berkegiatan. Gia sempat tidak percaya diri akan mendapat skor tinggi. Karena itu, dia mempertimbangkan mengambil universitas di Eropa.

”Ternyata skorku cukup tinggi dan itu bikin kepercayaan diriku naik. Aku pilih Amerika karena ingin pergi sejauh yang aku bisa untuk menuntut ilmu. Go big or go home!” tuturnya.

Pilihan itu juga tak terlepas dari andil orang tua Gia. Meski merasa khawatir melepas anak sulungnya merantau jauh, mereka mendukung penuh keputusan dia sejak awal. Gia pun selalu memberitahukan perkembangan pendaftarannya, dari lolos tahap wawancara hingga menjadi awardee.

”Pada minggu-minggu pertama aku di sini, mereka sering sekali menelepon dan menanyakan kondisiku. Sekarang mereka udah cukup percaya dan terbiasa dengan aku di Amerika. Jadi, komunikasinya makin nyaman,” ujar Gia.

Pertengahan Desember mendatang, studi Gia di UC Davis berakhir. Sekembalinya ke Indonesia, dia ingin berfokus menyelesaikan kuliahnya di Unair. Dia berharap bisa kembali ke Amerika atau benua lain untuk mengambil pendidikan tambahan berkaitan dengan minatnya di bidang neurosains kognitif.

”Aku ingin mengembangkan minat itu menjadi karier aku ke depan. Aku ingin bisa merawat orang-orang dengan brain injury (cedera otak traumatis) seperti TBI, stroke, dan tumor,” tuturnya. (*/c14/ttg)

EDITOR: Ilham Safutra