Megah Putra Perkasa membuka usaha kuliner setelah dunia penerbangan terhantam badai pandemi. Riset dulu sebelum menjadikan mi ayam sebagai menu andalan.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta, Jawa Pos
---
SUDAH dua bulan ini Megah Putra Perkasa ”menerbangkan” Kepten Kitchen. Tanpa joystick, yang ada sumpit dan saringan. Seragamnya cukup kaus dan celana kulot.
”Kalau kata istri saya, rezeki bukan hanya dari slip gaji,” tutur Megah kepada Jawa Pos Selasa lalu (22/9).
Megah seorang pilot berpengalaman. Tapi, pandemi telah menghantam dengan sangat keras dunia penerbangan. Dari udara, dia memilih mendarat dulu dan membuka usaha kuliner berupa mi ayam.
Awal puasa lalu Megah mengumpulkan istri dan empat anaknya. Dunia aviasi memang ngos-ngosan sejak awal tahun. Apalagi, ada pengumuman pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Aturan pemerintah juga membatasi mobilitas.
Tentu sangat berat bagi Megah tak terbang. Sejak 1997 dia menjadi pilot. Berawal dari pilot militer, lalu pensiun dan memilih menjadi pilot pesawat milik maskapai komersial.
Tapi, apa pun keadaannya, dapur harus tetap ngepul. Uang sekolah anak-anak juga tidak bisa absen. ”Saya memberi pengertian ke anak-anak bahwa Ramadan kali ini berbeda. Tidak bisa banyak jajan,” ucap suami Noviyanti tersebut.
Sebenarnya ayah Nalanda, Nadine, Khairisa, dan Rizky itu sudah punya ide untuk berjualan makanan. Dan, ternyata istri dan anak-anaknya menyambut baik ide tersebut.
Awalnya olahan rajungan yang akan dijual. Dia mengandalkan media sosial untuk menjadi toko pertama. Tentu teman-teman menjadi harapan sebagai konsumen pertama. ”Awalnya hanya PO (preorder),” katanya.
Hari pertama Megah sudah senang. Sebab, kegiatan baru itu mampu membuat keluarganya semakin guyub.
Pagi dia belanja dengan istri. Sorenya anak-anak membantu masak. Ini jarang dirasakannya ketika masih aktif terbang. Biasanya dia bekerja lima hari dalam seminggu. Kalau peak season bahkan lebih padat.
Kedekatan keluarga bukan satu-satunya yang membuatnya semangat. Respons konsumen untuk ikut PO pun membuatnya semakin giat berjualan.
”Setelah itu, adik saya bergabung,” tuturnya.
Dapat tambahan kru tentu menggandakan semangat. Jangkauan promosi otomatis juga semakin luas.
PO yang awalnya seminggu sekali lama-kelamaan menjadi seminggu tiga kali. Megah melihat ini sebagai prospek yang bagus. Karena itu, dia berencana membuka toko offline.
Sudah ada pembeli, tentu harus ada nama brand. Seluruh keluarga sepakat menggunakan profesi Megah sebagai ikon. Sehingga muncullah nama Kepten Kitchen. ”Pertama mau pakai captain, tapi sudah ada. Jadi, pakai bahasa Indonesia saja,” cerita Megah.
Di sela-sela perjalanan itu, muncullah menu baru: mi ayam. Menu yang selanjutnya menjadi andalan.
Menurut cerita Megah, mi ayam ini terinspirasi dari kesukaan anak-anaknya terhadap mi yamin. Resepnya pun tergolong mudah dibandingkan masakan lain yang dijual Megah.
Namun, sebelum menjual menu tersebut, tim Kepten Kitchen melakukan riset. Mereka meminta masukan teman-teman. Termasuk orang tua teman sekolah anak-anak. ”Mereka minta agar tidak pakai penyedap dan pengawet makanan,” ujar Megah.
Berarti seluruh bahan harus mereka olah sendiri. Termasuk mi.
Tim Kepten Kitchen pun bergerak menciptakan resep sendiri. Kepada Jawa Pos, Megah sedikit membocorkan resepnya. Untuk membuat kaldu, dia merebus tulang dan daging ayam. ”Rebusnya sampai lama. Sampai keluar kaldunya.”
Resep rumahan itu ternyata mendapat respons positif. Akhirnya dia percaya diri untuk menjualnya. ”Sekarang fokus mi ayam saja,” katanya.
Keputusan Megah membuka usaha memang tepat. Sebab, hingga kini pun dia hanya terbang 40 jam dalam sebulan. Itu pun dalam kondisi peak season.
Padahal, biasanya dia bisa terbang 100 jam per bulan. Waktu luang ini membuatnya belajar mengelola bisnis. Siapa tahu bisa menjadi jalan utama ketika memutuskan pensiun sebagai pilot kelak.
”Sehari kalau pas sepi bisa 40 porsi,” tuturnya tentang jumlah pesanan yang diterima Kepten Kitchen.
Namun, saat akhir pekan, Kepten Kitchen mampu menjual 100 porsi sehari. Itu belum termasuk pesanan mi ayam frozen.
Dengan banderol Rp 25 ribu untuk semangkuk mi ayam, Megah mengakui bahwa omzet bulannya jauh lebih sedikit daripada gajinya sebagai pilot. Meski demikian, dia menikmati kebersamaan ketika melakukannya dengan keluarga.
Pagi-pagi ke pasar, lalu menyiapkan dagangan. Siangnya anak-anak datang ke warung yang berada di kawasan Tangerang Selatan.
Pulang dari warung pun dia bertemu dengan keluarganya. ”Capek terbang dengan ini (berjualan, Red) itu berbeda. Sekarang setiap hari bisa bertemu keluarga,” bebernya.
Apalagi, ada pelanggan yang rutin memesan mi ayam buatannya. Ada yang dari Bogor. Yang terjauh adalah pesanan dari Surabaya. ”Ada yang bilang mi ayamnya ini pas,” ungkapnya.
Berjualan secara offline di masa pandemi, Megah tentu sangat memperhatikan protokol kesehatan. Dia selalu mengenakan masker saat melayani pembeli dan membuat mi ayam. Tempat duduknya pun dibuat berjarak.
Bahkan, dua minggu lalu dia tutup karena banyaknya kasus positif. Megah hanya melayani penjualan secara online. Kepten Kitchen baru buka lagi secara offline pada 14 September lalu.
Megah berharap usahanya bisa terbang setinggi pesawat-pesawat yang diawakinya. Yang dijalani pun dia harapkan dapat menyuntikkan semangat kepada siapa saja yang terhantam efek pandemi.
”Percayalah, usaha keras tak akan mengkhianati hasil,” katanya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=wJaSYjEpUkk