← Beranda

Berhenti Jadi Akuntan, Eni Mengubah Kardus Bekas Jadi Bernilai Rupiah

Nurul Adriyana Salbiah19 Mei 2019, 19.15 WIB
Alumnus Unpad, Eni Nuraeni, Founder Kakardusan Cardboard Toys. Dimas Nur Apriyanto/Jawa Pos
JawaPos.com - Lewat tangan dingin Eni Nuraeni, kardus-kardus bekas menjadi sebuah mainan untuk anak yang memiliki nilai rupiah. Nominalnya mencapai ratusan ribu. Perjalanan dimulai pada 2015 lalu. Saat dia membuatkan mainan untuk malaikat kecilnya, Elora Najma Harvian.

Mainan dari kardus untuk Najma telah menjadi kenangan. Kenangan virtual. Berupa foto yang diunggah di media sosial (Medsos), Instagram miliknya. Tapi, Enie masih ingat bagaimana bentuknya.

”Bentuknya tokoh Russel di Film Up. Aku buatnya dari kardus double face dan diunggah di 18 Februari 2015,” kenang Eni saat ditemui Jawa Pos, pada 10 Mei lalu di kediamannya, di Bandung, Jawa Barat.

Lengkap dengan warna kuning khas outfit Russel. Kemudian sebuah kain yang dipakai di lehernya. Kain berwarna oranye, seperti hasduk pramuka jika di Indonesia. Tak ketinggalan topi dan wajah yang bulat serta lebar.

Sebelum Russel lahir, ternyata, Eni sempat menciptakan satu karya lain berupa crafting di 2014. Berbeda dari Russel. Dia membuat sebuah mainan yang biasa dipasang di atas kasur bayi. Lalu cara memainkannya yakni diputarnya. Mainan tersebut dibuat dari kertas karton HVS yang tak terpakai di kantornya. Kertas karton HVS memiliki ketebalan yang lumayan. Kertas-kertas itu ditemukannya di tempat kantornya.

Photo
Photo
Salah satu karya Eni Nuraeni, Founder Kakardusan Cardboard Toys. (Dimas Nur Apriyanto/Jawa Pos)

Saat Najma beranjak besar, tepatnya ketika berusia 2 tahun kurang, Eni justru ketagihan membuat mainan dari kardus lagi setelah Russel. Tentunya untuk Najma.

Jenis mainan kedua yang dibuat berupa matching the colors. Dia menyebutkan, ia mendapat informasi jika mainan yang baik untuk anak adalah yang sesuai dengan usia buah hati. Nah, di usia Najma yang kurang 2 tahun, permainan pencocokan warna dinilai pas. Mainan masih dibuat dari kardus.

Di 2015, Eni memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya. Dia ingin konsentrasi untuk mengurus keluarga kecilnya. Dan, berkutat kepada kardus-kardus bekas.

Sejak 2008, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) itu bekerja di sebuah perusahaan baja sebagai akuntan. Lokasi perusahannya ada di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat. Dia sempat riwa-riwi, Bandung-Bekasi. Pulang ke rumah setiap seminggu sekali.

Dia mengatakan bahwa apa yang ia kerjakan tidak sefrekuensi dengan apa yang disukai. Mulai dari jurusan yang ia ambil ketika kuliah hingga berakhir ketika menjalani dunia pascakampus.

”Kuliah di jurusan ilmu komunikasi, kan? Lalu lulus dan bekerja di dunia keuangan sebagai akuntan. Itu jauh banget. Sementara itu, passion-ku ada di dunia kreatif, crafting,” terangnya, lantas ia cekikikan kembali.

Hatinya terdistrupsi dengan realitas yang ada. Jika hatinya ada di dunia kreatif. Bukan tenggelam dengan angka-angka di sebuah perusahaan. Di 2017, Eni memberanikan diri untuk mem-branding passion-nya itu menjadi sebuah unit bisnis kreatif rumahan. Tepatnya pada 1 November, dengan nama Kakardusan Cardboard Toys.

Butuh waktu dua tahun, sejak 2015, ia mengambil langkah besar dalam hidupnya dengan membuat branding tersebut. Banyak pertimbangan yang ia lalui. Selama dua tahun, Eni bertemu dengan banyak orang. Bertukar pikiran dengan satu orang ke orang lain. Meramu keberanian dan ide. Dia juga menyempatkan diri untuk menghadiri dan mengisi workshop crafting.

Disadari olehnya, apa yang ia lakukan bukan sekadar sebuah inovasi terhadap mainan untuk anak. Menurutnya, ada nilai parenting yang ada di dalam mainan-mainan kardus tersebut. Yakni, bonding orang tua kepada buah hati.

”Dengan bermain bersama mainan kardus, anak bisa lebih dekat dengan orang tua. Dan, sebaliknya terhadap orang tua,” terang Eni.

Tantangan yang dihadapi Eni tidak hanya meyakinkan orang bahwa mainan-mainan itu bukan sekadar kardus biasa. Tapi, pasokan kardus yang dipakainya. Tidak jarang, ia menemukan hambatan dengan kondisi kardus bekas yang dipakainya untuk membuat produk Kakardusan.

Dengan pertimbangan estetika, dia beralih ke kardus yang dijual oleh pabrik kardus. Dia membeli 500 lembar kardus dari pabriknya langsung. Menurutnya, dengan begitu, ia tak terlalu kesulitan untuk membuat beragam bentuk produk Kakardusan.

Saat masih menggunakan kardus bekas, ia harus melakukan banyak tahapan. Salah satunya penyortiran kardus. Sebab, tak semua kardus yang didapatkannya kondisinya laik.

Hatinya senang ketika produk Kakardusan dipesan oleh penyanyi, Andien. Dia mengatakan, setelah dipesan oleh pemilik single Moving On itu, followers akun Instagram-nya menggemuk.

Harga yang dibandrol Eni untuk satu produk Kakardusan beragam. Yang paling mahal tidak mencapai Rp 500 ribu.

Semua dikerjakan sendiri oleh Eni. Tak ada tangan selain miliknya yang menyentuh setiap lembar kardus. Dia memilih untuk mengerjakan setiap produk pada pagi hari setelah shalat subuh. Diakui olehnya jika ia bukan tipikal orang yang bisa begadang.

Kini, Eni mengaku siap menghadapi pasar industri kreatif. Dengan banyak pesaing yang akan menjadi teman untuk mengorbit bersama di dunia industri kreatif. Tak ada rasa takut yang menyelimutinya. Berbeda ketika di awal saat ia memutuskan untuk membuat nama Kakardusan.
Photo
Photo
EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah