Tak dipungut biaya untuk ikut sekolah macapat di lingkungan Keraton Jogjakarta. Makna dijelaskan para pengajar setiap selesai nembang.
ANISATUL UMAH, Jogjakarta
---
Ku-kusingdu-pa kume - lun
Nge-ningkentyas, sang a-pe-kik
Ka wengku sa gung ja -ja -han
Na ngingsa-nget -a-ngi-ki-pi
Sangre-si Ka-ne ka pu-tra
Tu-mu-runsakingwi-ya-ti
BAIT demi bait tembang kinanti itu dilantunkan Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Projosuwasono.
Suaranya terdengar sangat jernih. Tubuhnya menunjukkan penghayatan yang total. Lalu, "Monggo nyoba," kata pria yang akrab disapa Romo Projo itu begitu menyelesaikan tembang.
Kami, para murid sekolah macapat, pun segera mengambil napas. Lantas pelan-pelan mulai menirukan tembang yang sama yang baru dinyanyikan Romo Projo. Sambil merem Romo Projo mendengarkan dan meresapi. Sesekali mengoreksi sambil mengetuk-ngetukkan tongkat besi tipis mengikuti nada.
Pada Kamis (21/2) sore pekan lalu itu, 25 kursi tersedia di Pamulangan Sekar (Macapat) KHP Kridha Mardawa, satu-satunya sekolah macapat di lingkungan Keraton Jogjakarta. Tapi, hanya belasan yang terisi. Padahal gratis. "Tidak bayar sejak tahun 2012. Setelah ada dana keistimewaan, tidak dibolehkan memungut," terang Romo Projo.
Sekolah di rumah dinas abdi dalem itu berada di ruangan berukuran sekitar 5 meter x 6 meter. Sekitar 200 meter dari Keraton Jogjakarta. Ada kipas angin untuk mengusir sumuk. Di tembok kelasnya tampak dua foto, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan X.
Secara umum macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun, mengutip Wikipedia, itu bukan satu-satunya arti. Ada penafsiran lain.
Ada yang menyebutkan bahwa -pat merujuk pada jumlah tanda diakritis (sandangan) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat. Sedangkan menurut Serat Mardawalagu yang dikarang Ranggawarsita, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang artinya adalah melagukan nada keempat.
Yang diceritakan dalam tembang atau puisi tradisional Jawa itu adalah tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan "linimasa" seorang manusia. Mengutip kampoengilmu.com, dari lahir, mulai belajar di masa kanak-kanak, saat dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia.
Di dalam macapat dikenal istilah guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Guru gatra merujuk pada banyaknya jumlah larik atau baris dalam satu bait. Guru lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata dalam setiap larik. Sedangkan guru wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) dalam setiap larik.
Kinanti yang ditembangkan Romo Projo tadi merupakan satu di antara sebelas jenis tembang macapat. Tembang-tembang lainnya adalah mijil, sinom, asmarandana, gambuh, dandanggula, durma, pangkur, megatruh, pocung, dan maskumambang.
Sejarah sekolah macapat di lingkungan Keraton Jogjakarta itu dimulai pada 1960-an. Awalnya ditujukan hanya untuk keluarga raja. Tapi, kemudian abdi dalem juga tertarik untuk mempelajari. Dan diizinkan.
Ternyata tetangga abdi dalem juga tertarik. Akhirnya masyarakat umum diperkenankan ikut belajar macapat. Romo Projo juga pernah belajar di sekolah macapat itu sejak 1985. Lima tahun berselang, keraton memintanya membantu mengajar. Bersama dua koleganya, KMT Dwijo Cipto Wandowo, 75, dan Mas Ngabéi (MNg) Djoyoatmojo, 75.
Salsabila Maura Handani, salah seorang murid, mengungkapkan, awal ikut kelas pada 2014, dirinya sama sekali tak tahu makna tiap kalimat dalam macapat. Sebab, yang digunakan bahasa Jawa tingkat tinggi yang sangat puitis. Tapi, tiap selesai nembang, para pengajar selalu menjelaskan makna yang terkandung. "Ternyata asyik juga," kata mahasiswi Institut Seni Indonesia Jogjakarta semester VIII itu.
Salsa -sapaannya- yang sudah lama bergabung mengaku sempat ikut pendadaran di Bangsal Srimanganti, Keraton Jogjakarta. Pendadaran biasanya dilaksanakan di keraton dua tahun sekali. "Serunya di situ, orang biasa bisa dilibatkan di keraton," ungkapnya.
Romo Projo menjelaskan, dengan belajar macapat, orang bisa memahami fase-fase kehidupan manusia. Mijil menerangkan bayi yang baru lahir. Setelah menjadi balita, tembangnya kinanti. Beranjak remaja digambarkan dalam sinom.
Setelah remaja, wanita dan pria saling jatuh cinta, digambarkan dalam asmarandana. Kemudian, lanjut Romo Projo, memutuskan menikah digambarkan dengan tembang gambuh. Setelah menjadi suami istri, yang diangan-angankan hanya yang manis, seperti tergambar dalam dandanggula. Ternyata kehidupan banyak suka dukanya.
"Keberanian menghadapi hidup digambarkan dalam tembang durma. Bertambah tua menjadi tembang pangkur. Setelah tua meninggal atau megat ruh (putus dengan roh, Red) jadi tembang megatruh," jelasnya.
Sebelum dimakamkan, dalam Islam, orang dibungkus kain putih, yang diceritakan dalam pocung. Kehidupan di dalam alam barzah menjadi tembang maskumambang, yang berarti menanti kepastian untuk ke surga atau neraka. "Masih teka-teki atau ngambang."
Romo Projo memberi contoh makna yang terkandung dalam kinanti yang dia tembangkan tadi. Ku-kusingdu-pa kume -lun, kata dia, memiliki arti kebul atau asap dari dupa-dupa yang kumelun atau beterbangan. Nge-ningkentyas, lanjut Romo Projo, memiliki arti mengheningkan cipta. Sedangkan sang a-pe-kik berarti tampan. Sedangkan Ka wengku sa gung ja -ja -han berarti orang yang tampan tadi bertapa untuk keselamatan daerahnya.
"Na ngingsa-nget -a-ngi-ki-pi artinya wilayahnya sangat mengkhawatirkan. Sangre-si Ka-ne ka pu-tra Tu-mu-runsakingwi-ya-ti maknanya dewa yang bernama Kaneka Putra turun dari langit atau wiyati," terangnya.
Sekolah macapat di Keraton Jogjakarta itu buka enam hari dalam seminggu. Ketiga pengajarnya masing-masing mendapat jatah mengajar dua hari. Durasi kelas dua jam. Romo Projo, misalnya, biasanya mengajar pada pukul 16.00 sampai menjelang magrib.
Selain ikut kelas, keesokan harinya, Jumat (22/2), Jawa Pos diajak Romo Projo ke keraton untuk melihat tembang macapat dinyanyikan. Setiap Jumat memang abdi dalem nembang macapat dan bisa dilihat masyarakat. Sayang, Jumat lalu itu tak banyak yang hadir.