← Beranda

TKI di Yunani, Betah Meski 3 Bulan tak Digaji

ArwanSenin, 28 September 2015 | 14.44 WIB
Ngadinem (kanan) dan Sutarno (tiga dari kanan) saat menikmati kemeriahan Monastiraki bersama para TKI di pusat Kota Athena.

Krisis memang membuat para TKI di Yunani mengalami berbagai kesulitan. Tapi, program pemulangan yang ditawarkan pemerintah toh tetap tidak begitu diminati. Berikut laporan wartawan Jawa Pos AHMAD BAIDHOWI yang baru kembali dari sana.



 



Pemandangan khas Indonesia begitu kuat terlihat di rumah berukuran 8 x 12 meter itu. Pot-pot kecil warna hitam berisi tanaman cabai, tomat, dan pare berderet rapi di samping rumah. Cabai kuning kemerahan dan tomat hijau tampak ranum menyembul di sela dedaunan yang menghijau.



Saat Jawa Pos melangkah ke dalam rumah bercat krem itu, rasa Nusantara kian terasa. Begitu Jawa Pos menginjakkan kaki di ruang tamu, pandangan mata langsung disambut piring-piring berisi rengginang, kerupuk, keripik kentang, dan tape ketan yang terhidang rapi di atas meja. 



Di ruang tengah, mata dan hidung langsung dimanjakan aroma barisan sayur lodeh, sambal terong, oseng-oseng buncis, dan ayam goreng yang ditata melingkar. Ragam sayuran dan lauk itu menemani sebuah magic jar putih yang terbuka, memamerkan pulennya nasi putih dengan kepulan uap hangat yang menggoda.



Menu camilan dan lauk-pauk itu memang terasa biasa jika dihidangkan di sebuah rumah di Indonesia. Tapi, menjadi begitu istimewa ketika bisa ditemukan di sebuah rumah di Athena, Yunani, nun 10.200 kilometer jauhnya dari Indonesia.



”Silakan Mas dicicipi makanannya. Anggap rumah sendiri,” ujar Hendrik Yuana, pria 39 tahun asal Besuki, Tulungagung, Jawa Timur, dengan ramah kepada Jawa Pos yang bertandang ke rumahnya pada akhir Agustus lalu.



Berada di kawasan Perbukitan Voula, sekitar 25 kilometer arah selatan Kota Athena, Hendrik menyewa rumah itu sejak 2010 bersama istrinya, Suyanti, juga asal Tulungagung.



Pasangan suami istri tersebut menjadi sosok penting sejarah masuknya para tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Yunani. Total kini ada sekitar seribu TKI yang bekerja di negara yang kondisi ekonominya tengah kelimpungan itu.



Suyanti adalah TKI pertama yang masuk ke negeri yang tim sepak bolanya secara mengejutkan menjuarai Euro 2004 tersebut. Yakni, ketika pada 1998 dia diajak seorang agen untuk menjadi pramuwisma atau pembantu rumah tangga di Athena, ibu kota negeri tua yang kini dipimpin Perdana Menteri Alexis Tsipras.



Sejak itu, satu demi satu TKI masuk ke Yunani, negara yang sebelumnya tidak pernah menjadi destinasi para pencari kerja asal Indonesia. Awalnya Suyanti mengajak lingkaran keluarga seperti sepupu, keponakan, lalu tetangga-tetangganya.



Hendrik, suaminya, baru pada 2004 masuk ke Eropa melalui Belanda. Lalu, menuju Yunani yang tengah gegap gempita karena menjadi tuan rumah Olimpiade Athena. ’’Mayoritas dari kami masuk dengan visa turis. Jadi, izin tinggalnya sebenarnya sudah habis,’’ kata Hendrik.



Bapak dua anak itu mengakui, awalnya banyak yang enggan bekerja di Yunani. Alasannya, selain lebih jauh daripada negara-negara utama tujuan TKI selama ini, Yunani yang berada di kawasan Eropa bagian selatan menghadirkan cerita betapa panasnya Athena yang dikelilingi perbukitan tandus.



Realitanya memang demikian. Pada musim panas periode Juni hingga Agustus, suhu udara di Athena saat siang mencapai 40–42 derajat Celsius. Itu jauh lebih panas, misalnya, jika dibandingkan dengan suhu di kota-kota di Indonesia. Jakarta, contohnya, saat siang terik pun suhunya masih 34–36 derajat Celsius.



Karena itu, ketika masuk pertama ke Yunani, para TKI biasanya langsung mengucap janji hanya akan bekerja maksimal dua tahun. Setelah itu kembali ke Indonesia.



Tapi, seiring berjalannya waktu, banyak yang sudah belasan tahun menetap di Yunani masih kerasan dan belum ingin kembali ke Indonesia. ’’Yang membuat kerasan itu duitnya,’’ ucap Hendrik, lantas tertawa.



Di Yunani, rata-rata gaji pramuwisma sekitar EUR 800 (Rp 13,1 juta) hingga EUR 1.000 (Rp 16,3 juta). Selain pramuwisma yang menginap di rumah majikan, ada pramuwisma yang hanya bekerja beberapa jam. Yakni, untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci, dan menyeterika. Semacam buruh pocokan.  



Untuk pramuwisma pocokan seperti itu, mereka bisa bekerja kepada dua majikan sekaligus. Caranya, pagi sampai siang di majikan A dan siang sampai sore di majikan B. Gajinya otomatis dobel.



Dengan pendapatan menggiurkan seperti itu, biaya Rp 50 juta–Rp 70 juta yang harus dibayar melalui agen untuk bisa berangkat ke Yunani pun menjadi terasa kecil.  



Namun, bayang-bayang lembaran Euro itu kini mulai pudar. Terpuruknya ekonomi Yunani gara-gara jeratan utang yang menggunung tidak hanya menyesakkan dada warga Yunani. Para TKI pun kena getahnya.



”Saya sudah dua bulan tidak digaji, teman lain ada yang tiga bulan tak digaji,” kata Sutarno, TKI asal Kebumen yang menjadi ketua Ikatan Kerukunan Keluarga Indonesia di Yunani (IKKIY), paguyuban yang menaungi sekitar 300 TKI di Yunani.



Pria berusia 44 tahun itu memiliki relasi panjang dengan Yunani. Sejak 1992, Sutarno bekerja di rumah George Tsounas, pengusaha sekaligus diplomat senior asal Yunani yang sudah mendapat warga negara kehormatan dari Presiden Soekarno.



George Tsounas meninggal pada 2008 di Jakarta. Sutarno lalu diajak ke Yunani untuk bekerja kepada cucu Tsounas. Dia lantas mengajak istrinya, Siti Sampin.



Sutarno mengatakan, dirinya mendengar cerita perihal krisis Yunani dari bosnya, George Manoloudis, yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Sutarno pun mengetahui sulitnya ekonomi di Yunani saat ini. Perusahaan melakukan banyak PHK (pemutusan hubungan kerja) untuk mengurangi beban operasional agar tetap eksis.



Sebagian perusahaan lain harus menghadapi kenyataan bangkrut karena tidak mampu lagi beroperasi. ’’Bos saya bilang, gajinya juga dipotong,’’ ucapnya.



Sebagai ketua IKKIY, Sutarno harus sabar menjadi tempat curhat para TKI yang mengeluh karena gajinya dipotong sejak krisis mengimpit Yunani. Yang awalnya EUR 800 menjadi hanya EUR 500 (Rp 8,2 juta).



Bahkan, tidak sedikit yang sudah tidak digaji seperti dia. Tapi, bukan itu saja hal menyesakkan yang harus dihadapi para TKI. Sejak capital control atau pembatasan lalu lintas uang diberlakukan Mei lalu, para TKI tak bisa lagi mengirim uang kepada keluarganya di Indonesia.



Padahal, dahulu, dengan jasa perusahaan pengiriman uang seperti Western Union atau Intel Express, para TKI bisa mengirim uang dengan mudah ke Indonesia. Biayanya pun murah, hanya EUR 9 (Rp 147.221) untuk setiap pengiriman EUR 1.000.



”Makanya, sekarang banyak yang bingung. Para TKI yang kebanyakan ibu-ibu di sini mayoritas adalah tulang punggung ekonomi keluarganya di Indonesia,” katanya.



Bayangan orang tua dan anak-anak di kampung halaman yang menanti kiriman uang sering memicu rasa sesak di dada para TKI. Apalagi, Juni dan Juli lalu kiriman uang benar-benar dibutuhkan karena bertepatan dengan Lebaran maupun tahun ajaran baru sekolah.



Recovery atau pemulihan ekonomi Yunani yang berjalan lambat membuat pembatasan lalu lintas uang itu tak jelas kapan berakhir. ’’Banyak teman yang curhat, ngenes (sedih, Red) rasanya,’’ ucapnya.



Bukan hanya itu, sejak ekonomi Yunani memburuk, banyak imigran yang mendapat perlakuan kurang ramah dari penduduk asli Yunani. Terutama orang-orang tua yang uang pensiun dan tunjangan sosialnya dipotong atau tidak dibayar lagi oleh pemerintah Yunani.



”Biasanya nenek-nenek yang suka marah, mereka bilang kenapa para imigran tidak pulang saja ke negara kalian. Saya pernah dimarahi juga,” kisah Sutarno, lalu tersenyum.



Memang, tak selamanya kisah para TKI di Yunani dibalut kesedihan. Sutarno mengatakan, masih banyak TKI yang hingga saat ini mendapat gaji penuh dari bosnya, termasuk jatah libur dua minggu dan tiket pergi pulang dari Yunani ke Indonesia.



Selain itu, para TKI memiliki posisi tawar tinggi karena jasanya yang sangat dibutuhkan. Meski kemampuan berbahasa Yunani para TKI kalah oleh para pramuwisma asal Filipina yang memang benar-benar dilatih pemerintahnya, ketekunan dan etos kerja para TKI tak tertandingi.



Karena itu, Sutarno mengakui, sebagai ketua IKKIY, dirinya hampir setiap hari dihubungi para agen maupun orang Yunani yang ingin mencari pramuwisma asal Indonesia. Informasi itu selalu dibagikannya melalui jejaring sosial Facebook sehingga jika ada TKI yang merasa tidak kerasan karena gajinya dipotong bisa pindah mencari bos baru.



”Tapi, jarang ada yang pindah karena hubungan dengan bos sudah telanjur baik,” ujarnya.



Meski hidup di negeri yang tengah diimpit krisis ekonomi, banyak yang mengatakan bahwa mengais rezeki di Yunani masih lebih baik daripada kembali ke kampung halaman. ”Kalau pulang, paling jadi buruh tani. Jadi, lebih baik di sini dulu, siapa tahu kondisinya bisa segera membaik,” kata Narti, TKI asal Tulungagung yang sudah delapan tahun merantau di Yunani.



Meski hidup jauh dari keluarga di kampung halaman, para TKI itu tak merasa sebatang kara karena kuatnya persaudaraan. Selain IKKIY, ada perkumpulan Van Ngapak serta Paguyuban Musik dan Joget (Pamujo). ”Mayoritas kami berasal dari Tulungagung, Cilacap, dan Banyuwangi,” ujar Sutarno.



Setiap Minggu, saat para TKI mendapat jatah libur, hampir selalu ada acara kumpul-kumpul. Sore itu, di rumah yang disewa Hendrik dengan biaya EUR 500 per bulan, beberapa TKI tengah asyik berkumpul dan bercengkerama. Ada Yuli, Narti, Dwi Lestari, dan Yuni asal Tulungagung, lalu Mutamimah dan Suliah asal Trenggalek.



Hendrik mengatakan, biasanya jumlah TKI yang berkumpul di rumahnya bisa sampai 20 orang setiap Minggu. ”Sekarang kebetulan lagi musim panas. Jadi, banyak teman yang diajak bosnya liburan ke pulau,” ujarnya. (Bagian-1/Bersambung)

EDITOR: Arwan