← Beranda

Sri Mariyaningsih, Survivor Kanker yang Menginspirasi Perempuan Malang

Miftakhul F.SSelasa, 30 Mei 2017 | 02.17 WIB
INSPIRATIF: Sri Mariyaningsih menunjukkan tanaman komfrey yang membuatnya sembuh dari penyakit kanker.

Sri Mariyaningsih pernah divonis tak berumur panjang saat didiagnosis menderita kanker otak pada 2004 silam. Bahkan, pada 2015 lalu, dia juga didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening. Tapi, semangat hidup yang tinggi membuatnya terbebas dari dua penyakit mematikan tersebut. Semangat hidup itulah yang ingin dia coba tularkan kepada 60 kelompok UMKM binaannya.


NURLAYLA RATRI, Malang
DITEMUI di rumahnya, Perumahan Puri Cempaka Putih II Blok AR/14, pekan lalu, Sri Mariyaningsih terlihat asyik menata pot-pot tanaman obat keluarga (toga) bersama seorang perempuan paro baya. Ada beragam jenis tanaman toga yang mereka tata. Mulai empon-empon, sirih merah, hingga brotowali. Di antara deretan tanaman toga tersebut, yang cukup istimewa adalah daun comfrey atau komfrey (Symphytum officinale) dan okra (Abelmoschus esculentus). Sebab, dua tanaman itulah yang menyelamatkan hidup Mariya, sapaan akrab Sri Mariyaningsih. ’’Saya minum obat herbal ramuan saya sendiri dan Alhamdulillah sembuh. Melalui dua tanaman tersebut, saya sembuh dari kanker,’’ ujarnya.
Sejurus kemudian, dia teringat pada momen saat penyakit kanker mulai menggerogoti tubuhnya. Yakni, pada 1992 silam. Ketika itu Mariya dan keluarganya masih tinggal di Jakarta.
Waktu itu yang dia ketahui adalah dirinya menderita penyakit berat. Bahkan, dokter menganjurkan Mariya untuk pindah ke kota yang suhu udaranya lebih dingin, yakni Malang. ’’Tapi, belum tahu kalau menderita kanker karena keluarga menyembunyikannya. Bahkan, dokter memvonis usia saya tidak sampai dua tahun,’’ ucap istri Rofiq tersebut.
Tapi, kenyataannya, Mariya masih bisa bertahan. Hingga akhirnya, pada 2004 silam, dia merasakan sakit yang luar biasa saat mengantar putrinya ke sekolah. Kepalanya pusing. Lalu, dari hidung dan lubang telinganya keluar darah. Dia pun mesti menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jakarta.
Dari situlah, Mariya baru tahu bahwa dirinya menderita kanker otak. Tak tanggung-tanggung, kankernya sudah stadium 4 alias stadium akhir. ’’Saat dirawat di Jakarta, saya diberi dua pilihan. Operasi di Singapura atau rawat jalan, saya pilih rawat jalan,’’ terangnya. Sambil menjalani rawat jalan, Mariya mencari berbagai referensi mengenai penyakit kanker. Termasuk obat-obatan herbal yang mungkin bisa membantu.
Dia terinspirasi oleh sang nenek yang setiap sakit selalu meracik sendiri ramuan obatnya. Bahkan, sang nenek terus sehat hingga meninggal pada usia 103 tahun. Mariya bertekad untuk mencari obat herbal. ’’Saat jalan-jalan di Kota Batu, saya lihat daun komfrey. Saya minta ke pemiliknya. Pertama mencoba langsung terasa efeknya,’’ ujar alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.
Sebagai gambaran, daun komfrey bentuknya mirip sawi liar. Tumbuhan tersebut banyak ditemukan di tanah basah atau pinggir selokan di kawasan Eropa dan Asia Barat. ’’Saat mencoba rebusan komfrey, pandangan saya jadi jernih. Badan juga terasa enteng,’’ ungkapnya. Mariya kemudian rutin meminum rebusan komfrey setiap hari. Berkat ramuan herbal itu, kondisinya berangsur-angsur membaik. Penasaran dengan mujarabnya daun komfrey, dia kemudian mendatangi sebuah event ramuan herbal di Jakarta. ’’Saya bertemu Prof Suprapto Ma’at, ahli herbal, dan mengonsultasikan penggunaan daun komfrey,’’ tutur anak kelima di antara delapan bersaudara tersebut.
Hasilnya, memang belum ada penelitian soal khasiat pengobatan kanker pada tanaman komfrey. ’’Saat itu saya jelaskan kepada beliau. Saya niati ibadah dengan mengujicobakan daun komfrey ke tubuh saya. Alhamdulillah, kondisi saya menjadi lebih baik,’’ ujarnya. Ikhtiarnya berlanjut dengan terus meminum air rebusan daun komfrey. Dia pun sesekali check up kesehatan ke rumah sakit. Hingga akhirnya, pada 2007, dia dinyatakan bebas dari kanker.
Setelah terbebas dari penyakit dan kondisi tubuhnya jauh lebih bugar, Mariya bisa lebih aktif mengikuti kegiatan di masyarakat. Bahkan, pada 13 Maret 2013, dia mengembangkan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Kemuning di Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang. Salah satu kegiatannya adalah pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Makin banyaknya aktivitas yang dilakukan ternyata membuat Mariya tak lagi rutin meminum ramuan herbal berbahan daun komfrey. Kondisinya lalu terus menurun. Hingga akhirnya, dia divonis menderita kanker kelenjar getah bening pada 2015. Lehernya membengkak setelah minum salah satu produk air mineral kesehatan. ’’Saya minum daun komfrey nggak mempan. Akhirnya, direkomendasikan Prof Suprapto mengonsumsi tanaman okra,’’ jelasnya.
Hasilnya, okra membuat dia terbebas dari kanker kelenjar getah bening. ’’Mungkin sama Allah belum diizinkan (meninggal, Red). Harus berbuat sosial dulu kepada masyarakat. Akhirnya, hidup saya serahkan untuk kegiatan sosial,’’ terangnya. Karena itulah, sembari rutin meminum ramuan herbal, dia terus berkiprah di Posdaya Kemuning yang jumlah anggotanya kini mencapai lebih dari seribu orang. Mariya menyatakan, pendirian Posdaya Kemuning dilatarbelakangi rasa iba setelah melihat kondisi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Yakni, masyarakat yang rumah tangga dan ekonominya terpuruk. Terutama mereka yang terimbas jeratan utang rentenir.
Nah, lewat Posdaya Kemuning, Mariya membentuk kelompok-kelompok UMKM. Dia juga memfasilitasi pinjaman lunak kepada kelompok UMKM tersebut. ’’Saat ini ada 60 kelompok UMKM yang menggunakan aliran pinjaman lunak dari posdaya itu. Alhamdulillah, meski tidak meraih untung, saya ingin memberikan manfaat kepada masyarakat,’’ katanya. Kiprah Mariya bagi masyarakat Bumiayu tersebut mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Pada 26 April, dia dinobatkan menjadi Perempuan Inspiratif Kota Malang 2017. Dia berhasil menyisihkan 57 peserta pada ajang yang diselenggarakan dinas pemberdayaan perempuan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (DP3A-P2KB) untuk memperingati Hari Kartini.
’’Nggak nyangka menang karena banyak kontestan lain yang bagus. Saat itu niat saya hanya ibadah. Lagi pula, sejak sembuh dari kanker, saya mewakafkan diri untuk kegiatan-kegiatan sosial,’’ ujar perempuan kelahiran Blitar, 3 September 1967, tersebut. Selain itu, acap kali Mariya tak pelit berbagi resep ramuan herbal kepada para penderita kanker lainnya. ’’Ternyata banyak yang cocok. Di antaranya, dari Malang, Surabaya, Jakarta, hingga luar Jawa. Tapi, saya tidak ingin mengklaim (bahwa itu berkat, Red) ramuan saya,’’ pungkasnya. (muf/c22/end)


EDITOR: Miftakhul F.S