← Beranda

Kartika Indrayana Budidayakan Buah Tin di Pekarangan Rumah

Suryo Eko PrasetyoSenin, 9 Januari 2017 | 22.41 WIB
RASANE ENAK REK: Kartika Indrayana menunjukkan aneka jenis buah tin yang ditanam di pekarangannya.

Tin sering dianggap buah yang turun dari surga. Buah yang banyak tumbuh di Timur Tengah itu kini dikembangkan banyak negara. Termasuk di pekarangan rumah Kartika Indrayana, pegawai Pemkot Surabaya.



SALMAN MUHIDDIN



BUAH tin biasa disebut buah ara. Bentuknya mirip bawang bombai. Bulat meruncing. Tetapi terasa lunak saat dipegang. Seperti tomat.


Buah itu tumbuh menggelantung di batang pohon. Berbuah sepanjang tahun. Tidak mengenal musim. Ada 80 koleksi buah tin dalam pot di rumah Kartika Indrayana di Griya Kebraon Tengah Blok Y 12.


Rumah tersebut sengaja tidak ditempati. Buah itu dilabeli sesuai dengan jenisnya. Ada yang berasal dari Spanyol, Prancis, Arab, Israel, Chechnya, Bulgaria, Australia, Thailand, Amerika, dan Italia.


’’Kayak piala dunia yo,’’ ucap Indra –sapaan Kartika Indrayana– sambil mengiris buah tin yang sudah matang. Indra tinggal tidak jauh dari rumah buah tinnya. Saban subuh dia mengunjungi pohon-pohon tinnya.


Menyiram dan memupuk. Saat malam tanaman itu dijaga anjing dan kura-kura. Anjing berjenis tekel ’’ditugasi’’ ronda. Menghalau tikus yang sering mengocar-ngacirkan tanah dalam pot.


Anjing berwarna cokelat itu sudah dilatih khusus untuk menangkap tikus. Tikus yang berkeliaran digigit kepalanya hingga mati. Jika sudah tidak berdaya, tikus ditinggalkan. Tidak dimakan.


Sementara itu, kura-kura berjenis Forsteni asal Sulawesi menjadi teman si anjing. ’’Tapi, kadang anjingnya nangis digigit kura-kura. Kalau gigit bisa berdarah. Ati-ati,’’ ujar mantan camat Tenggilis Mejoyo tersebut.


Indra lalu menunjukkan sejumlah koleksi buah tin di halaman belakang rumahnya. Terdapat tanah berukuran 6 x 9 meter yang dipayungi atap tembus pandang.


Atap itu berfungsi melindungi pohon tin dari guyuran hujan. Sebab, di negara asalnya buah tin memang jarang diguyur hujan lebat.


Salah satu buah tin yang paling disukai Indra berjenis martinencha rimada dari Spanyol. Warnanya kuning hijau. Belang-belang seperti macan.


Jika sudah matang, warna buah berubah menjadi keunguan. Untuk menembus rindangnya pohon-pohon tin, pria kelahiran 22 Agustus 1968 itu berhati-hati saat berjalan.


Sebab, daun-daun tin lumayan kaku dan tajam. Juga, harus tetap awas menengok ke bawah. Lengah sedikit saja, jari kaki bisa terkena gigitan kura-kura.


Benar juga peringatan itu. Si kura-kura muncul dari belakang pot hendak mengincar jari kaki. Beruntung, Indra sigap. Kura-kura itu dibalik. Kakinya meronta-ronta.


’’Tenang saja, dia bisa berguling lagi,’’ kata alumnus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang kini bernama IPDN tersebut.


Benar saja. Tidak sampai dua menit, kura-kura tersebut bisa membalikkan tubuhnya. Indra lantas memetik buah ara berwarna kuning yang sudah matang.


Dia memberi makan kura-kura itu dengan buah ara. Makanan favorit kura-kura selain daun sawi. Di ruang tamu, ada lima kotak styrofoam.


Di dalamnya terdapat buah tin yang dia setek. Dia sedang belajar cara membudidayakan tin dengan cara itu. Biasanya, Indra memperbanyak jumlah tanaman dengan cara cangkok.


Cangkok lebih mudah. Namun, cara menanam dengan teknik setek dilakukan untuk belajar. Tidak ada yang mengajarinya menanam buah tin.


Dia mendapat pengetahuan dari komunitas pencinta buah tin. Pada Agustus 2016 dia mendirikan Tig (Tin) Lover Indonesia Jatim. Indra didaulat menjadi ketuanya.



Menurut dia, antusiasme masyarakat Jatim terhadap budi daya tin mulai meningkat. Dia memiliki mimpi buah tin menjadi produk unggulan yang dikembangkan para petani.


Di Surabaya dia menilai buah tin berpotensi menjadi wisata petik buah urban farming. ’’Sekarang kami memulai membangun mimpi itu,’’ ungkap mantan plt kepala dispendukcapil tersebut. (*/c15/oni/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo