Reservasi tur setelah Lokananta direvitalisasi selalu membeludak dan mayoritas pengunjung adalah anak muda. Diharapkan Lokananta bisa jadi tempat edukasi sekaligus hiburan.
BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Solo
---
TONI Sukarnoto duduk di bangku putih. Ada headphone yang disiapkan. Kabelnya terhubung ke tape recorder tepat di samping kursi.
Headphone dipakai. Tombol hitam ditekan. Toni memejamkan mata. Kepalanya bergoyang tipis ke kiri dan ke kanan.
”Suara musiknya sangat bagus. Suara detail kecil dari setiap alat musik terdengar jelas. Cuma ya itu, masih ada sedikit keresek-kereseknya,” katanya saat ditemui Jawa Pos di Lokananta Records, Solo (24/6).
Momen itu terjadi di ruang Aneka Nada, Lokananta. Ada lima kursi kecil yang dilengkapi headphone dan tape recorder.
Setiap pengunjung bebas menjajal. Lagu yang diputar tergolong lawas: tembang keroncong karya Ki Narto Sabdo.
”Sebenarnya yang ngajak ke sini (Lokananta) itu bapak,” ungkap pria yang kini bekerja di Bekasi tersebut. Sang ayah, Harmaji, sudah berusia 85 tahun. Dia masih bisa berjalan, tetapi memakai penyangga. ”Bapak ingin tahu sekarang kondisi Lokananta seperti apa. Saya sebenarnya juga penasaran. Setahu saya, dulu Lokananta ya tempat rekaman gitu aja,” ujar Toni.
Rasa penasaran bapak-anak itu dilampiaskan dengan ikut tur Lokananta.
Sejak direvitalisasi, Lokananta memang membuka tur. Sehari ada tiga sesi tur yang dilakukan. Pukul 10.00, 12.00, dan 14.00. Dalam setiap tur, jumlah pesertanya dibatasi. ”Hanya boleh 20 orang,” ujar In Magma, project manager Lokananta, saat ditemui Jawa Pos.
Itu, lanjutnya, dilakukan untuk memudahkan pengawasan. Sebab, banyak piringan hitam dan master lagu yang dipamerkan. Plus, tidak ada petugas keamanan di dalam galeri. Karena itu, peserta tur tidak boleh membawa tas. Peserta tur juga dilarang membawa kamera profesional ke dalam.
Meski begitu, reservasi peserta tur selalu membeludak. ”Sejak dibuka, peserta tur nyaris selalu full. Ada 60 orang per hari. Yang datang bukan hanya warga Solo, tapi juga berasal dari wilayah lain. Dari Surabaya juga sering,” beber pria yang akrab disapa Aak tersebut.
Sekali tur, pengunjung dikenai biaya Rp 25 ribu. Aak sempat kaget dengan peserta tur. Kebanyakan yang datang bukan generasi tua. ”Justru hampir 70 persen peserta tur ini adalah anak muda. Generasi yang zaman dulu malah jarang,” jelas Aak.
Syli Deva, misalnya. Perempuan 19 tahun itu sengaja datang dengan dua tujuan. ”Ingin tahu sejarah Lokananta seperti apa. Lalu, sekarang kondisinya bagaimana. Yang kedua tentu saja ini cari spot foto,” katanya, lantas terbahak.
Di Lokananta, banyak spot foto unik. Misalnya, di ruang Aneka Nada. Tembok setinggi 4 meter itu dikelilingi piringan hitam. Lokasi yang sangat Instagrammable.
”Tur memang dilakukan selama dua jam. Satu jam pertama keliling bersama tour guide. Satu jam berikutnya sesi bebas bagi pengunjung,” jelas Aak.
Sesi bebas itu biasanya dipakai untuk selfie atau foto-foto. Bagaimana dengan satu jam pertama? Peserta tur akan diajak masuk ke ruangan demi ruangan. Diberi penjelasan sejarah Lokananta.
Ruangan pertama adalah Linimasa. Di ruangan itu dijelaskan sejarah studio rekaman yang berdiri sejak 29 Oktober 1956 tersebut. Ada beberapa piringan hitam. Plus, kertas yang sudah lecek. Isinya adalah perjanjian kontrak antara penyanyi dan manajemen Lokananta. Mulai Waljinah sampai Ki Narto Sabdo. Dalam teken kontrak yang dilakukan pada awal 1960-an itu, ada yang senilai Rp 450 ribu.
”Jumlah itu sudah termasuk besar. Wong harga kaset (pita) saja masih 100 rupiah,” jelas Muhammad Yuri Kemal Fadhillah, tour guide Lokananta.
Bisa dibilang, Waljinah adalah gambaran sukses Lokananta. ”Dulu beliau sangat sering menang lomba,” ujar Kemal.
Bahkan, piala Bintang Radio 1965 turut dipajang di ruangan tersebut. Di ruangan itu pula, dijelaskan penyebab mati surinya Lokananta. Di dinding putih, tertulis 1982. Pada tahun itu, pembajakan mulai marak. Penjualan Lokananta yang biasanya mencapai 400 ribu keping kaset turun menjadi 300 ribu. Semakin parah pada 1991. Dari produksi 5.000 kaset pita, hanya terjual 700 keping. Puncaknya pada 2001, Lokananta dinyatakan pailit oleh pemerintah.
Karena itu, revitalisasi yang berlangsung sejak Agustus 2022 sampai Mei 2023 benar-benar menyelamatkan Lokananta. Sosok seperti Toni dan Harmuji, sang ayah, bisa melihat kembali kebesaran Lokananta.
Di ruangan berikutnya, Kemal mengajak peserta tur masuk ke ruangan Diskografi. Di situ master lagu yang pernah di-record di Lokananta dikumpulkan. ”Termasuk master lagu Genjer-Genjer. Rekaman lagu itu dilakukan di sini (Lokananta),” ungkap Kemal.
Ruangan itu disebut ”harta karun.” ”Total, ada 5.700 master yang dimiliki Lokananta. Tapi, tidak semua ditampilkan di ruangan ini karena luasnya terbatas,” terangnya.
Nah, master-master itu tidak nganggur. Beberapa master diambil untuk diolah menjadi musik versi digital. ”Beberapa lagu sudah kami upload di Spotify dengan tema Seleksi Lokananta,” ungkapnya.
Ada satu master lagi yang mengejutkan peserta tur: rekaman pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno. Piringan hitam rekaman diputar di ruang Proklamasi. Awalnya, rekaman pembacaan teks proklamasi dilakukan di RRI (Radio Republik Indonesia) pada 1951. ”Lalu, hasil master rekaman itu dikirimkan ke Lokananta dalam bentuk piringan hitam,” beber Kemal.
Aak berharap Lokananta tidak hanya menjadi tempat edukasi. Dia juga ingin Lokananta menjadi pusat hiburan. ”Kan sekarang halaman luar Lokananta bisa didatangi siapa saja dengan gratis. Hanya tur yang dikenai biaya,” jelas pria asli Solo itu.
Di halaman depan, ada banyak penjual UMKM. Ada pula kafe yang cozy untuk nongkrong. Pengurus sempat mengundang artis ibu kota dalam event Festival Lokananta. ”Jadi, harapan kami, Lokananta tidak hanya dikenal sebagai studio rekaman, tapi juga sebagai pusat hiburan di Solo,” tutur Aak. (*/c14/ttg)