← Beranda

Eric Sanjaya dan Talenta Unik Menjadi Dua Karakter, Tak Mau Bawa Image Banci Show

Suryo Eko PrasetyoMinggu, 26 Februari 2017 | 01.05 WIB
DUA WAJAH: Eric Sanjaya saat tampil pada pernikahan di Chang Palace Lontar.

Bukan hanya kepribadian yang ganda, penampilan dan suara juga bisa ganda. Itulah daya tarik Eric Sanjaya di dunia hiburan. Dia memiliki karakter suara yang enggak ada ngebas-ngebasnya. Struktur wajahnya pun terbilang mungil sebagai lelaki.



ASA WISESA BETARI



SOSOK ’’perempuan’’ cantik bergaun putih panjang bertabur bunga berjalan dengan diiringi para penari. Sebagian rambutnya yang hitam disanggul ke atas. Tak lupa, tusuk konde dengan gantungan mutiara terpasang melintang. Sisa rambut yang lain dibiarkan tergerai lurus. Lagu-lagu Mandarin mengalun dalam suara lembut.


Para tamu dalam sebuah pernikahan di Pakuwon Imperial Ballroom malam itu pun terhanyut. Terlebih, memandang lenggak-lenggok tubuh plus senyum aduhai sang penyanyi.


Sambil bernyanyi, dia membaur bersama para penari, lalu bergerak seirama di beberapa bagian lagu. Dua lagu telah dia bawakan dengan baik. Tepuk tangan menyeruak kala penyanyi itu, Eric Sanjaya, menundukkan kepala tanda penghormatan. Para penari berkumpul dengan membuka kipas-kipas mereka. Sim salabim! Si perempuan cantik menghilang. Para penari masih melanjutkan tariannya.


Alunan musik berubah. Si penyanyi kembali muncul. Namun, dengan dandanan yang berbeda. Eric menjadi laki-laki dengan setelan tuksedo dan dasi kupu-kupu. Penampilan mulai ujung rambut hingga kaki berubah total. Suaranya pun berbeda. Para tamu masih tidak menyadari bahwa si penyanyi adalah orang yang sama. Dua lagu Mandarin dinyanyikan pada resepsi tersebut.


Tinggal menyisakan satu lagu lagi dan penampilan Eric selesai. Pada lagu terakhir, dia menyanyikan lagu andalan, yakni Xin Gui Fei Zui Jiu. Lagu itu dipopulerkan artis opera Tiongkok, Li Yugang. Kebetulan, lagu tersebut merupakan lagu Mandarin pertama yang dipelajari Eric.


Lagu itu berkisah tentang Gui Fei, permaisuri zaman Kerajaan Tang yang paling disanjung rakyatnya. Pada suatu hari, permaisuri menantikan sang raja yang hendak menemuinya. Namun, sekian lama menunggu, raja tak datang jua. Ternyata, raja sedang berkunjung kepada selirnya. Permaisuri pun murka dan sedih. Dia mabuk sambil bernyanyi karena raja mengingkari janji untuk datang menemuinya.


Penonton dibuat tercengang saat mendengar suara Eric yang mendadak menjadi perempuan. Suaranya sama dengan perempuan yang menyanyi dua lagu sebelumnya. ”Lho, ternyata cewek tadi cowok,” ucap salah seorang penonton yang terdengar sayup di telinga Eric.


Penonton yang kaget di antaranya langsung tertawa. Ada pula yang berbisik ke kanan dan kiri membicarakan si penyanyi bersuara ganda. Yang semula naksir penyanyi perempuan pun jadi geger. ”Aku denger gerombolan cowok yang bilang, ’Yah, makan tuh cowok!” kenang Eric menirukan ucapan penonton, lalu tertawa.


Dalam setiap penampilan Eric, reaksi penonton memang selalu ditunggu-tunggu. Bahkan, pria kelahiran Sidoarjo, 29 Maret 1982, itu memiliki tim dokumentasi yang bertugas merekam ekspresi para penonton ketika Eric mengubah suaranya. Sorot kamera selalu stand by pada wajah penonton saat lagu terakhir. Tim Eric tentu sudah memegang bocoran kapan Eric akan membuka identitas.


Eric tidak pernah mengeluarkan suara laki-laki ketika tampil dengan pakaian perempuan. Hal itu dimaksudkan untuk menghapus kesan banci show. ”Aku nggak mau dianggap banci. Lalu, disawer. Ih, horor,” katanya. Ya, Eric memiliki pengalaman disawer. Orang memang cenderung memandang bahwa banci adalah pribadi yang suka digoda dan menggoda. Tidak hanya itu, orang yang menganggap penampilan Eric adalah banci show kerap beraksi jahil.


”Dulu ada orang yang mau nyawer. Manggil-manggil ’sayang’. Aku sempat waswas. Duh, nanti kalau duitnya diselipkan di dada gimana. Aku tinggal pergi aja,” ucap Eric, lantas geli. Oleh karena itu, Eric selalu tampil dengan tampilan perempuan dahulu, kemudian laki-laki. Kejutannya berada di akhir penampilan. Sejauh ini, dengan cara itu, Eric tidak mendapat pelecehan.


Sulung di antara tiga bersaudara itu memang tidak pernah menyangka akan jadi penyanyi bersuara ganda. Namun, sejak lulus dari SMA Katolik Diponegoro Blitar, dia berfokus untuk menjalani karir di dunia entertainment. Saat SMA, dia tinggal bersama kakek di Blitar. Ketika kelas XII SMA, Eric mengikuti kursus tarik suara. ”Tapi, ya suaraku masih mentah banget. Vibra aja belum bisa,” katanya di rumahnya, Sutorejo Prima, Mulyosari.


Setelah lulus dari SMA, Eric bergabung dengan grup barongsai di Blitar. Melanglang buana bersama grupnya selama dua tahun, ada seseorang yang menasihatinya. ”Kamu kalau mau fokus di entertain, jangan di sini. Sana ke kota besar biar berkembang,” ujar Eric menirukan. Lalu, putra alm Tan Tjin Liong dan Lin Tjai Jun itu memutuskan kembali ke Surabaya.


Eric mendalami seni lain. Dia menjadi salah seorang penari dan bergabung di salah satu grup tari modern Surabaya, Exdio. Tampaknya, kala itu dia sangat enjoy dengan aktivitas sebagai dancer.


Menjalani pekerjaan sebagai dancer, Eric sudah menjajal puluhan panggung di berbagai kota, terlebih Surabaya. ”Semua orang yang ketemu aku, pasti taunya aku penari. Jam terbangku sebagai penari jauh lebih tinggi daripada nyanyi,” jelas pria 35 tahun tersebut.


Cukup lama menyerap ilmu, pada Januari 2015, Eric membuat sekolah dance yang dinamai D’Cubic Dancer. Sekolah itu dikhususkan untuk menyalurkan hobi nge-dance anak-anak usia SD hingga SMA. Lagi-lagi, adrenalinnya tertantang ketika Eric menyaksikan beberapa temannya mengikuti lomba nyanyi.


Iseng-iseng latihan menyanyi lagi. Eric pun bergaul dengan para penyanyi dari Young Mandarin Singer Community. ”Main-main dulu ke base camp mereka. Lihat cara mereka latihan, lalu nyoba nyanyi deh,” tuturnya.


Dari komunitas itu, Eric berlatih dan menemukan karakter asli suaranya. Suara Eric bisa dibilang tanggung. Sebagai pria, suaranya tidak memiliki karakter bas sama sekali. Namun, jika menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi perempuan, Eric malah lebih nyaman.


Tidak dibutuhkan waktu lama untuk berlatih suara perempuan. Dua tahun terakhir dia fokus menjadi penyanyi lagu-lagu Mandarin. ”Dari awal suara yang keluar memang sudah cocok untuk lagu-lagu Mandarin,” ujarnya. Eric pernah menyanyikan lagu Barat atau bahasa Indonesia, namun kurang sreg. Menurut dia, lagu berbahasa Indonesia itu sangat susah dibawakan.


Dengan karakter yang dimiliki saat ini, Eric menyadari bahwa dirinya bukan orang pertama yang memiliki suara ganda. Ada beberapa penyanyi yang terlebih dahulu populer. Misalnya, penyanyi yang khas dengan penampilan kostum setengah laki-laki dan perempuan Hudson Prananjaya yang dikenal dengan nama Hudson IMB (Indonesia Mencari Bakat). Atau artis kenamaan Tionghoa Li Yugang yang khas dengan konsep opera.



”Saya menjadikan Li Yugang sebagai idola tanpa menjiplaknya. Dalam berbusana, saya selalu totalitas, baik saat jadi perempuan maupun laki-laki. Konsep penampilan di atas panggung pun saya ciptakan sendiri,” papar pria yang bercita-cita menghelat pertunjukan kolosal Tiongkok itu. (*/c6/dos/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo