Tidak sekadar pintar. Namun, juga memiliki warna yang cantik. Itu pulalah yang membuat El Sahal Pulubuhu kesengsem benar pada burung macaw. Berkat tangan dingin Sahal merawat dan melatih, si burung kerap memenangi beragam ajang perlombaan.
BRIANIKA IRAWATI
AKTIVITAS El Sahal Pulubuhu (23/5) siang itu cukup seru. Ada dua burung macaw yang bertengger anteng di kedua pundaknya. Si Rambo yang berjenis scarletmacaw di sisi pundak kanan. Lainnya, si Jacky yang berjenis blue and goldmacaw di sisi kiri.
Dia mengelus-elus bagian punggung burung dengan warna-warna mencolok tersebut. Si Rambo memiliki tiga warna, yakni merah, kuning, dan biru. Sementara itu, yang mendominasi tubuh si Jacky dua warna, yaitu biru dan kuning.
Duduk di teras rumah, Sahal –sapaan akrab El Sahal Pulubuhu– terlihat ”ngobrol” akrab dengan dua burung kesayangannya itu. ”Mereka sudah seperti anak saya sendiri,” ungkap Sahal.
Siang itu, sesekali si Rambo menirukan kata-kata yang diucapkan Sahal. ”Rambo... Rambo..,” suara si Rambo terdengar begitu jelas. Jacky yang berada di sampingnya tidak mau kalah oleh Rambo. Hanya, si Jacky belum bisa bicara lancar. Ia hanya mengeluarkan kicauan yang merdu.
Sejurus kemudian, Sahal berdiri. Si Rambo diletakkan di tenggeran kayu. Selanjutnya, dia mengajak si Jacky untuk melakukan free fly. Itu merupakan salah satu teknik menerbangkan burung ke alam. Kendati terbang tinggi dan jauh, pasti burung akan balik lagi ke pemiliknya ketika dipanggil. Suara peluit juga dapat membantu burung agar kembali kepada empunya. Itu pulalah yang terjadi pada Jacky. Saat Sahal meneriakkan namanya, Jacky langsung terbang menuju sumber suara tersebut. Lalu, bertengger ke tangannya.
Sahal memelihara si Jacky sejak usia 3 bulan. Dia membesarkan serta melatih Jacky dengan penuh kasih sayang hingga kini usianya menginjak hampir 2 tahun.
Setiap hari Sahal mengajaknya mengobrol. Layaknya percakapan antarmanusia. ”Jacky ini pintar, tapi ya nakal. Suka gigit telinga saya kalau lagi bertengger di pundak seperti ini,” katanya, lantas tertawa.
Sejak kecil, Sahal melatih Jacky untuk teknik free fly. Wajar saja kalau si Jacky sudah meraih banyak piala dalam ajang perlombaan burung paruh bengkok. Mulai antarkomunitas di tingkat kota hingga tingkat nasional. ’’Seringnya ya memang jadi juara pertama,” jelas pria 51 tahun tersebut.
Pada akhir Maret lalu, Jacky menyabet juara II pada perlombaan kategori free flying-large parrot tingkat nasional. Jacky berhasil menyingkirkan ribuan peserta hingga pada posisi kedua dalam ajang perlombaan yang berlangsung di Malang tersebut. ’’Sudah bangga. Yang pertama memang dimenangkan peserta dari Makassar,” ceritanya. ’’Tahun depan coba lagi ya Jacky,” lanjut Sahal yang beralih ngobrol dengan burung kesayangannya.
Sahal menerangkan, memang tidak gampang melatih Jacky hingga mencapai prestasi saat ini. Dia harus meluangkan banyak waktu untuk melatihnya. Sehari-hari setidaknya waktu satu jam disisihkan untuk bermain dengan Jacky. Hal tersebut dilakukan agar Jacky mengenali karakter majikannya dengan baik. Kalau sudah merasa nyaman, burung akan mudah dilatih. ’’Kalau mudah dilatih, prestasi pasti bisa diraihnya,” kata pria asli Tanjungkarang, Lampung, tersebut.
Aktivitas bersama Jacky tersebut bisa dibilang cukup melelahkan. Namun, lantaran sudah menjadi hobi, Sahal merasa senang-senang saja. ’’Awalnya, memang susah. Tapi, kalau sudah biasa free fly, ya mudah,” jelas pria yang tergabung dalam Komunitas Surabaya Parrot Lovers (SPL) itu.
Sahal melatih free fly Jacky secara bertahap. Tingkat kesulitan saat berlatih free fly dibedakan berdasar arena yang digunakan. Tempat lapang tanpa adanya pepohonan menjadi area yang paling cocok melatih free fly pada tahap awal. Jika sudah mahir, barulah burung dapat dibawa ke tempat yang penuh ranjau. Ranjau atau rintangan yang dimaksud adalah pepohonan dan rumah yang padat. Itu pun masih standar. Lebih ekstrem lagi, burung dapat free fly di laut dan pegunungan.
Meski begitu, Sahal tidak ingin Jacky terlena. Dia terus mengasah kemampuan Jacky. Saat akhir pekan, Sahal rutin mengajak Jacky berwisata. Traveling sekaligus latihan. Kalau di dalam Kota Surabaya, Sahal sering melatih Jacky di daerah Pakuwon City. Sementara itu, saat memiliki waktu libur banyak, Sahal pasti mengajak Jacky ”jalan-jalan” ke luar kota. ”Macam-macam. Kadang ke pantai, kadang ke gunung,” ujarnya.
Sahal memang belum pernah kehilangan burung peliharaannya. ”Jangan sampai ya. Tapi, banyak teman saya yang mengalami hal buruk itu,” ungkapnya. Apalagi burung macaw itu bernilai puluhan juta rupiah. Satu ekor blue and goldmacaw bernilai Rp 30–50 juta per ekor. Harga tersebut didapat saat burung sudah dewasa. Nilainya lebih mahal lagi ketika burung memiliki prestasi.
Sementara itu, jenis scarlet macaw lebih mahal lagi. Satu ekor bisa dihargai Rp 140 juta untuk usia di atas 1 tahun. Jadi, Anda bisa membayangkan rasanya kalau kehilangan burung saat latihan free fly. ”Ya, arena gambling itu jadi tantangan. Cukup memacu adrenalin. Saya malah suka tantangan itu,” paparnya.
Namun, Sahal punya beberapa pengalaman yang bikin deg-deg ser. Saat itu, Sahal melatih free fly Jacky di Gunung Bromo. Begitu diterbangkan, tiba-tiba muncul burung elang yang mengejar Jacky. Langsung saja, Jacky terbirit-birit terbang dengan kecepatan tinggi. Ia berusaha menghindari serangan burung elang.
Kalau sudah begitu, panggilan Sahal untuk Jacky sudah tidak dihiraukan. ”Saya tahu ia (Jacky, Red) panik. Saya juga ikutan tegang,” jelasnya. Mengejar Jacky sudah tidak mungkin lagi. Apalagi itu adalah kawasan asing bagi Jacky. Jadi, hanya ada satu cara yang bisa dilakukan Sahal saat itu agar Jacky kembali.
Dia mengumpulkan Toyota Hardtop yang biasa digunakan untuk menjelajah kawasan Bromo. Hardtop memiliki warna mencolok. Nah, warna-warna itu bisa berfungsi sebagai pointer di tengah-tengah kawasan Bromo. ”Biasanya, Jacky mengenali warna-warna sebagai tempat yang aman untuk hinggap,” terang bapak dua anak tersebut.
Setelah kurang lebih dua jam, cara itu berhasil. Jacky bisa lolos dari kejaran elang dan meluncur ke arah area Hardtop. ”Sudah dekat, dia langsung mengenali suara saya saat memanggil namanya,” jelas Sahal.
Tidak ada kata menyesal di benak Sahal setelah pengalaman tersebut. Malah peristiwa itu menjadi bagian dari tantangan dalam memelihara burung macaw. Dia bahkan ingin mengajak Jacky dan Rambo berkeliling Indonesia. Sambil jalan-jalan, dia melatih kemampuan Jacky dan Rambo. ”Dalam waktu dekat, saya mau bawa mereka ke Makassar. Ada perlombaan juga di sana,” ucap Sahal.
Adapun Rambo menjadi koleksi terbaru Sahal. Dia memeliharanya sejak tiga bulan lalu. Itu pun Rambo sudah berusia 2 tahun. Jadi, saat ini Sahal sedang melatih Rambo. Menurut dia, si Rambo scarlet macaw sebenarnya memiliki kemampuan free fly lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis blue and gold macaw atau si Jacky. Namun, si Rambo belum terlatih. ’’Pemilik sebelumnya memang tidak melatih. Jadi, Rambo belum bisa free fly,” jelasnya.
Meski begitu, Sahal tetap yakin dapat mengasah kemampuan si Rambo. Dia sering mengajak Rambo berlatih bersama si Jacky. Bahkan, beberapa kali Sahal mengadu antara si Rambo dan si Jacky. ’’Semoga bisa jadi juara seperti Jacky ,” kata Sahal. (*/c6/git)