Belakangan ini, kualitas sungai di Surabaya disorot. Sebanyak 200 kuintal popok di Kali Surabaya dievakuasi LSM lingkungan Ecoton. Setelah itu, muncul kasus pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Kali Lamong. Peneliti senior Ecoton Riska Darmawanti tahu betul seberapa parah penyakit sungai tersebut.
SALMAN MUHIDDIN, Surabaya
THEO Colborn adalah peneliti perempuan Idola Riska. Perempuan asal New Jersey, Amerika Serikat, tersebut menyandang pahlawan lingkungan berkat penelitiannya.
Colborn menemukan bahwa berbagai macam burung, reptil, dan mamalia di danau-danau besar atau Great Lakes di Amerika Utara mengalami gangguan reproduksi. Bahan kimia industri yang mencemari sungai dituding sebagai penyebabnya.
Ilmuwan senior World Wildlife Fund (WWF) itu juga menyatakan bahwa zat kimia dalam pestisida, plastik, hingga bahan kosmetik turut memengaruhi hormon hewan air.
’’Yang membuat saya kagum, penelitiannya bisa mengubah kebijakan nasional. Itu keren banget,’’ kata Riska di sela-sela acara lokakarya yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Hotel Santika Premiere Gubeng pada Rabu (19/7).
Perempuan 33 tahun tersebut berupaya mengikuti jejak Colborn. Dalam penelitiannya, Riska menemukan bahwa 85 persen ikan di Kali Surabaya adalah betina. Beberapa bahkan dikategorikan sebagai ikan ’’banci’’. Ikan lawra. Lanang ora, wedok ora...
Bagi mamalia seperti sapi, misalnya, jumlah betina yang banyak bakal makin mempercepat pertumbuhan populasi. Namun, ikan berbeda. Beberapa jenis ikan membutuhkan populasi jantan dan betina sama banyaknya. Ada juga yang butuh jantan yang lebih banyak. Ikan bader memerlukan jantan dua kali lipat dari betina saat pembenihan.
Sisa ikan pejantan yang tinggal 15 persen itu pun masih terkena imbas senyawa pengganggu hormon tersebut. Banyaknya zat kimia yang bersifat estrogen mengakibatkan ikan-ikan mandul. Jika dibiarkan, sejumlah jenis ikan terancam punah.
Selain jenis kelamin yang tidak ideal, ikan-ikan mengalami perubahan makanan. Riska mendapati ikan jendil di daerah Kediri masih berupa lumut. Berdasar sampel yang diambil di daerah Legundi, ikan itu justru memakan kotoran manusia. Sebab, masih ditemukan jamban di pinggir sungai. Selain itu, saluran kamar mandi warga bantaran sungai tidak ditampung di septic tank.
Hasil penelitian yang dia lakukan pada 2012 itu akhirnya didengar Gubernur Jatim Soekarwo. Gubernur mengeluarkan surat keputusan pada 2014. Kawasan sungai yang melintas di Wringinanom dinyatakan sebagai zona bertelur ikan. Wilayah tersebut harus bebas sampah. Penggunaan listrik untuk mencari ikan juga dilarang keras di wilayah tersebut.
Meski sudah ada respons dari pemprov, perjuangan Riska dan peneliti Ecoton lainnya masih panjang. Dia menilai saat ini perilaku masyarakat serta kebijakan pemerintah belum sepenuhnya mendukung pelestarian lingkungan.
Tengok saja Kali Surabaya. Mulai Mlirip di Mojokerto hingga ujung utara Surabaya di Petekan. Secara kasatmata, masih banyak sampah yang mengambang. Airnya pun jauh dari kata jernih. Saat air dipompa, permadani buih selalu terlihat. Ikan-ikan yang mati masal juga terjadi setiap tahun.
Fokus penelitiannya tahun ini adalah mencari tahu berapa banyak kandungan dioksin dan klorin pada sungai. Kandungan itu biasanya digunakan industri untuk pemutih atau disinfektan. Ambang batasnya tidak boleh lebih dari 0,1 mg/l. Namun, setelah dilakukan penelitian pada Juni lalu, hasilnya tampak bahwa Kali Surabaya mengandung 1,4 mg/l dioksin. Sampel diambil di depan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karang Pilang. ’’Jelas melebihi ambang batas. Padahal, kandungan itu bisa menjadi agen kanker,’’ jelas Magister Biologi Universitas Airlangga (Unair) tersebut.
Ada perjuangan panjang dalam menentukan kadar senyawa tersebut. Sebab, Ecoton yang dipimpin Prigi Arisandi belum punya laboratorium sendiri. Biasanya, mereka menyewa lab milik Jasa Tirta.
Namun, khusus penelitian tersebut, alat yang dibutuhkan tidak ada di Surabaya. Mereka harus mengirimkan sampel ke Water Laboratory North (WLN) di Manado. Empat sampel yang masing-masing berisi 600 ml air sungai dikirim melalui pesawat. Mereka harus membayar Rp 600 ribu untuk setiap sampel.
Setelah sampel diteliti, hasil langsung dikirim melalui e-mail. Selain di WLN Manado, sampel diteruskan ke WLN Belanda. Tujuannya, mengetahui lebih detail kandungan air. Diperlukan teknologi lebih canggih untuk mengetahuinya.
Harga pengiriman satu sampel mencapai Rp 5 juta. Karena ada empat sampel, biaya pengiriman mencapai Rp 20 juta. Hingga kini, hasil penelitian dari Belanda ditunggu-tunggu.
Hasil penelitian tersebut akan dipaparkan ke masyarakat, industri, dan pemerintah. Harapannya, ada perubahan perilaku dan kebijakan setelah fakta-fakta disajikan. Jika ada fakta baru yang mencengangkan, biasanya pemerintah baru bergerak. Industri juga mulai membenahi instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Namun, yang agak berat adalah mengubah perilaku masyarakat.
Riska mengungkapkan, awal Juli lalu dirinya meneliti di daerah Sumber Brantas di Kota Batu. Dia mewawancarai para petani sayur yang menggunakan pestisida. Dia tercengang ketika mengetahui bahwa para petani itu tidak memakai alat perlindungan apa pun saat menyemprotkan obat pembasmi hama tersebut. ’’Kalau bajunya belum ngebes (basah kuyup, Red), belum nyemprot katanya. Ngeri, Pak,’’ ujar alumnus Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya tersebut.
Dalam satu hektare ladang, mereka bisa menghabiskan Rp 40 juta untuk pestisida. Belum diketahui secara pasti berapa liter pestisida yang digunakan. Saat hujan, cairan pestisida terbawa ke sungai dan meresap ke tanah. Padahal, cairan itu sangat beracun. Lebih memprihatinkan lagi, warga membuang bungkus pestisida langsung ke sungai.
Riska sempat mengambil sampel di permukaan air di Sumber Brantas. Sampel tersebut telah dikirim ke Manado. Dia berencana kembali ke Batu untuk mengambil sampel sedimen tanah. Sebab, kandungan pestisida dapat bertahan 20–30 tahun. ’’Itu terbawa sampai ke Surabaya,’’ ungkap perempuan yang juga menjabat Koordinator Indonesian Water Community of Practice (IndoWaterCop) tersebut.
Setelah penelitian menemukan hasil, masyarakat bakal diberi tahu. Harapannya, mereka dapat menggunakan pestisida secara bijak. Bisa berupa pestisida organik atau membatasi penggunaan zat beracun tersebut.
Tidak terasa sudah 10 tahun Riska mengabdi di Ecoton. Dia masih menikmati profesi tersebut dan tidak ingin beralih ke profesi lain. Sebab, cita-citanya menjadi peneliti muncul sejak dia duduk di kelas V SD. Pemicunya adalah kartun-kartun Disney.
Pada 1990-an, Disney memang mengeluarkan banyak kartun yang berlatar belakang kecantikan lingkungan. Karakternya sering melibatkan hewan-hewan. Sebut saja Beauty and the Beast, The Lion King, atau Pocahontas. Dari tontonan itu, dia banyak mengenal jenis-jenis hewan.
Unsur-unsur sihir dimasukkan dalam alur cerita Disney. Hewan-hewan itu bisa berbicara. Karena itulah, imajinasi Riska memuncak. Dulu dia berangan-angan menjadi peneliti yang menemukan cairan yang bisa membuat pohon-pohon berubah menjadi raksasa. ’’Yah, namanya juga anak SD. Bayangannya ke mana-mana,’’ ucapnya.
Kini profesi sebagai peneliti sudah tercapai. Saking menjiwai, dara asal Malang itu jarang pulang. Dia memilih tinggal di kantor Ecoton di Wringinanom, pinggir Kali Surabaya.
Sejak lulus SMA, dia memang ingin bekerja di sungai atau laut. Jiwa petualangannya menolak untuk menjadi pegawai kantoran. ’’Ya, akhirnya terwujud di Ecoton,’’ jelas alumnus SMA Katolik Santa Maria Malang tersebut.
Salah satu prinsip yang dia pegang saat menjadi peneliti adalah tidak pelit membagi ilmu. Sebab, selama ini banyak mahasiswa yang melakukan penelitian hanya untuk memenuhi syarat kelulusan. Ujung-ujungnya, yang membaca hanya mahasiswa lain yang punya tema penelitian sama. ’’Saya eman-eman kalau ilmu itu mandek di perpustakaan,’’ tutur perempuan yang masih betah melajang tersebut.