Dakon ternyata bukan hanya milik Indonesia. Permainan tradisional yang melatih kemampuan hitung-hitungan itu juga ada di negara lain. Bukan cuma dakon, beberapa permainan tradisional Indonesia punya ’’saudara jauh’’ hingga Malaysia dan Korea Selatan.
DEBORA DANISA SITANGGANG
HYUN Jae Lim tinggal di Indonesia selama delapan bulan. Meski lumayan lama, bahasa Indonesianya masih terbata-bata. Apalagi saat diminta menjelaskan permainan tradisional Korea kepada anak-anak di RW 2, Kelurahan Simokerto. Namun, bentuk permainan itu tidak asing bagi mereka. Permainan tradisional bernama biseokchigi tersebut hampir sama dengan engklek. Dia melemparkan batu beberapa puluh sentimeter, kemudian melompat dengan satu kaki ke arah batu tersebut.
Hyun Jae hanyalah satu di antara tiga mahasiswa asing yang ikut dolanan siang itu. RT 4, RW 2, Kelurahan Simokerto, kini memang membangun citra sebagai Kampung Dolanan. Sebagai langkah awal, perangkat RT beserta karang taruna mengundang mahasiswa asing untuk berbagi tentang permainan tradisional negara mereka kepada anak-anak. Kegiatan sederhana itu dikemas dalam acara bertajuk Kampoeng Dolanan Culture Exchange pada Minggu pagi (21/5).
Sebaliknya, relawan Kampung Dolanan memperkenalkan permainan tradisional Indonesia, yang ternyata punya banyak kemiripan dengan permainan luar negeri. Misalnya, batu seremban dari Malaysia. Nur Atirah, warga Malaysia, menjelaskan permainan yang pernah muncul di serial kartun Upin & Ipin tersebut. ’’Cara bermainnya hampir sama dengan bekel kalau di Indonesia,’’ jelasnya. Batu seremban atau batu selambut dimainkan dengan melempar satu batu ke udara, kemudian mengambil sebanyak-banyaknya batu yang berserakan di tanah sebelum batu terlempar itu jatuh.
Hyun Jae maupun Atirah mengakui, permainan tradisional juga mulai ditinggalkan di negara mereka. Sebab, anak-anak lebih suka bermain game dalam ponsel pintar. Padahal, permainan tradisional bisa memberikan banyak manfaat. Tidak cuma melatih fisik dan pikiran, permainan tradisional juga membuat pergaulan lebih sehat. Misalnya, yang diakui Hyun Jae. ’’Permainan tradisional bisa membuat saya ketemu banyak teman. Rasanya sangat puas dan bangga, apalagi kalau sampai menang,’’ tutur pemuda asal Gangneung tersebut.
Anak-anak di Kelurahan Simokerto sebenarnya masih akrab dengan beberapa permainan tradisional. ’’Tapi, kalau permainan yang benar-benar lama dan jarang dimainkan, rata-rata juga tidak tahu,’’ ujar Ketua RT 2 Dedy Prasetyo. Menurut dia, kurangnya minat anak terhadap permainan tradisional saat ini sedikit banyak dipengaruhi orang tua. Ada orang tua yang khawatir jika anaknya bermain terlalu lama di luar. ’’Orang tua lebih memilih anaknya main di dalam rumah dengan gadget,’’ ungkap Dedy.
Meski zaman telah berganti, Dedy ingin anak-anak zaman sekarang tetap diperkenalkan dengan permainan tradisional. ’’Supaya mereka juga tahu senangnya anak zaman dulu seperti generasi saya,’’ katanya.
Sementara itu, salah seorang anggota karang taruna, Mustofa Sam, penasaran dengan permainan tradisional dari luar negeri. Itulah salah satu motivasi Karang Taruna Kampung Dolanan mengadakan pertukaran budaya kemarin. ’’Padahal, jaraknya jauh, belum ada teknologi seperti sekarang, tapi kenapa permainan tradisional bisa mirip? Ini yang jadi pertanyaan,’’ tegasnya.
Dengan culture exchange tersebut, dia berharap wawasan anak-anak di Simokerto tentang permainan tradisional bisa bertambah. Bahkan, siapa tahu anak-anak tertarik memperkenalkan permainan tradisional Indonesia ke luar negeri. Misalnya, cita-cita Nayla Octavia, salah seorang peserta Kampung Dolanan Culture Exchange. ’’Ingin juga cerita permainan tradisional sampai ke Korea atau Malaysia seperti Kak Lim (Hyun Jae, Red),’’ ucap siswa SDN Simokerto 5 tersebut. (*/c14/oni)