← Beranda

Semangat Hidup Anak-Anak Cancer Fighter, Perut Membesar Benjolan di Setiap Lekukan

Suryo Eko PrasetyoRabu, 15 Februari 2017 | 05.17 WIB
DUKUNGAN SEMANGAT: Kunjungan tim Rotary Club of Surabaja. Dari kiri, PP Romy, PE Glendy, IPP Eka Soelistiawati, dan Pres Sulantari. Paling kanan adalah Kaka Baihaqi yang didampingi ibunya, Emah Mukharomah.

JawaPos.com



Kaka Baihaqi adalah salah seorang pasien kanker yang baru saja dijenguk Rotary Club of Surabaja. Seluruh kulitnya menghitam. Tangan dan kakinya kecil, hanya tulang berbalut kulit. Perutnya besar mirip orang kekenyangan.



FERLYNDA PUTRI



RUANG perawatan Bona 1 di Irna Anak RSUD dr Soetomo terlihat cukup semarak Jumat (10/2). Belasan orang dari Rotary Club of Surabaja menjenguk para pasien. Mereka membawa balon, boneka, dan alat gambar. Seketika senyum anak-anak yang sedang menjalani pengobatan itu merekah. Mata mereka berbinar saat mendapatkan jatah bingkisan.


Kaka Baihaqi yang tiduran di bed paling pojok langsung duduk. Dia tersenyum ketika President Rotary Club of Surabaja Laksma TNI (pur) dr Sulantari Sp THTK menghampirinya. Mata bocah lima tahun itu tertuju pada boneka Teddy Bear yang dibungkus plastik. Ketika bungkusan boneka itu sudah diterimanya, dia melihat ibunya. Meminta untuk segera dibuka.


Pemberian tersebut membuat Kaka bahagia. Beberapa waktu lalu, ada kunjungan dari donatur yang juga membagikan boneka. Namun, bocah asal Brebes tersebut tidak kebagian. Dia merengek kepada orang tuanya. ”Akhirnya kami membelikan ini,” kata Emah Mukharomah, ibu Kaka, sambil menunjukkan boneka warna oranye di ranjang anaknya.


Kaka yang suka menggambar pun langsung membuka buku gambar yang dibungkus bersama si boneka. Pensil warna pun segera dia rauti. Dia memilih warna ungu terlebih dahulu. Anak pertama pasangan Emah dan Surkim itu langsung menggoreskan ujung pena. Cuma garis-garis memang. Bosan dengan warna ungu, dia kemudian merauti pensil warna hijau.


Kaka sudah 35 hari menginap di RSUD dr Soetomo. Berdasar diagnosis dokter, dia menderita malignant lymphoma atau kanker getah bening ganas. Di setiap lekuk tubuhnya, seperti leher, ketiak, dan selangkangan, terdapat benjolan. Benjolan tersebut memang tidak keras. Kaka juga tidak merasa sakit jika dipegang.


Enam bulan lalu, Emah menemukan kejanggalan di bagian leher anak pertamanya itu. Di bawah telinga kanan Kaka ada benjolan. Seperti bengkak sehabis digigit serangga. Beberapa hari bengkak itu tidak kunjung kempis. Akhirnya dia memeriksakan Kaka ke dokter anak di Brebes.


Serangkaian pemeriksaan dilakukan. Hasilnya adalah malignant lymphoma. Dokter merujuknya ke tiga tempat, Jakarta, Semarang, atau Surabaya. ”Karena belum ada biaya, kami biarkan dulu. Kami bawa dia ke tukang pijat alternatif juga,” jelas Emah.


Keluarga kecil itu bukan tergolong orang mampu. Surkim bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta, sedangkan Emah tidak bekerja. Untuk mengobati anak semata wayangnya itu, mereka harus menjual beberapa barang berharga. Sesekali juga berutang ke saudara dan tetangga. ”Dulu pernah ke tukang pijat habis sekitar Rp 2,5 juta, tapi tidak sembuh,” jelas perempuan 27 tahun tersebut.


Seiring berjalannya waktu, perut Kaka semakin buncit. Buncitnya itu bukan karena dia kebanyakan makan. Hal tersebut terlihat dari anggota tubuh lain yang tetap kecil. Jawa Pos sempat menyentuh perut bocah itu dan memang terasa lebih keras.


Selain perut yang membuncit, sekitar awal Januari lalu benjolan muncul di kedua ketiak dan selangkangan Kaka. Itulah yang mengakibatkan Emah dan suaminya mantap untuk membawa anaknya ke rumah sakit yang lebih mumpuni. RSUD dr Soetomo dijadikan pilihan karena ada saudara di Kota Pahlawan. ”Di Surabaya juga masih ada nasi seharga Rp 7.000,” tutur Emah.


Dari Brebes, ketiganya hanya membawa baju seadanya. Mereka mengira bahwa pengobatan hanya berlangsung satu minggu. ”Namun, ternyata sampai satu bulan lebih,” bebernya.


Kaka harus menjalani kemoterapi. Baru satu kali dia menjalani kemoterapi. Dan, Emah melihat benjolan di leher anaknya sudah mengecil. Seminggu lalu, rencananya Kaka diperbolehkan pulang. Tetapi, karena batuk, kepulangannya ditunda.


Sebenarnya Kaka sudah berulang-ulang merengek minta pulang ke Brebes. Dia kangen dengan nenek dan teman-temannya. Kaka yang mulai masuk TK itu ingin bermain dengan teman-temannya. Sayang, bocah malang tersebut harus menjalani pengobatan.


”Saya sering sedih kalau melihat ada pasien lain yang dijenguk rombongan keluarganya,” cerita Emah. Kedatangan Rotary Club of Surabaja, menurut dia, sedikit menghibur. Apalagi, Kaka tidak hanya diberi bungkusan, tetapi juga diajak ngobrol. ”Merasa seperti dikunjungi keluarga,” imbuhnya.



Sementara itu, Sulantari mengatakan bahwa kali ini mereka membagikan 150 balon dan bingkisan kepada anak-anak yang dirawat di Bona 1 dan 2. Mulanya memang bingkisan tersebut hanya diperuntukkan anak-anak yang menderita kanker. Sekitar 60 anak. ”Tapi, kalau tidak dilebihi, nanti takut ada yang rewel karena tidak kebagian,” jelas spesialis THT-kepala leher RSAL dr Ramelan tersebut. (*/c7/dos/sep/JPG) 

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo