Berawal dari mainan senapan yang dibelikan sang ayah, Ramadhani Wahyu Kuspriawan jatuh hati pada dunia menembak. Kini dia adalah jawara dalam berbagai ajang menembak. Sosok bocah tekun.
Agas Putra Hartanto, Surabaya
DOR! Dor! Dor! suara tembakan air gun terdengar bersahut-sahutan begitu memasuki ruangan ber-AC yang berukuran 30 x 15 meter. Ya, ruangan di kompleks Perbakin (Persatuan Penembak Indonesia), Jalan Gajah Mada Nomor 1, itu merupakan sebuah lapangan tembak. Di sana biasanya para atltet menembak berlatih mengasah kemampuan.
Di antara para atlet siang itu, ada Dhani –panggilan Ramadhani Wahyu Kuspriawan. Pada Minggu itu, Dhani menghabiskan waktu dua jam. Mulai pukul 10.00 sampai pukul 12.00.
Di lapangan, terlihat bocah berumur 14 tahun itu sedang membidik kertas sasaran. Jaraknya 10 meter dari tempat dia berdiri. Menggunakan senjata ARM (air rifle match) laras panjang, dia menembakkan peluru gotri. Roman mukanya tenang. Tanpa ekspresi. Di sudut yang lain, Maolan –pelatih yang selama ini membimbing Dhani– serius mengamati setiap gerak-gerik anak asuhnya tersebut.
Setelah 20 kali menembak, Dhani beristirahat. Kertas sasaran hasil tembakan dia berikan kepada Maolan untuk dievaluasi. Enam kertas sasaran dicek satu per satu. Koreksi, arahan, dan nasihat diberikan. ”Menembak itu fokus. Pikiran bersih dan jernih. Jangan berpikir poin. Nanti tidak akan tenang. Dinikmati saja suasananya. Kalau lengah, hasilnya tidak akan optimal,” tuturnya.
Pelatih yang pernah mengantarkan atlet Indonesia merebut medali emas di ajang SEASA (South East Asia Shooting Association) Vietnam 2016 itu belum puas dengan capaian Dhani. Sebagai pelatih, hal itu wajar. Mengingat, pesaing dari luar provinsi juga bagus-bagus.
Itu memacu semangat Dhani untuk lebih giat dan bekerja keras dalam latihan. Maolan selalu mengarahkannya untuk mengikuti kompetisi. Meski harus ke luar kota dan luar pulau. Terakhir, Dhani mengikuti Kejurnas Piala Wali Kota Denpasar Februari lalu. Hasilnya, Dhani berhasil meraih juara I dalam kategori beregu.
Prestasi yang diraih remaja kelas IX tersebut tidak lepas dari dukungan orang tuanya. Terutama sang ayah, Aiptu Mepri Suwarno. Kebetulan, dia memiliki hobi menembak. Cita-citanya juga atlet. Sayangnya, belum kesampaian. Karena itu, bapak dua anak tersebut ingin suatu saat anak-anaknya bisa mewujudkan keinginan bapaknya: jadi atlet.
Mepri mengenalkan senapan kepada Dhani berusia 2 tahun. Awalnya, hanya berbentuk mainan. Treatment yang dia terapkan pun membuahkan hasil. Saat duduk di bangku TK, Dhani mulai menyukai hal-hal yang berbau senjata. ”Minta mainan senjata ini, pistol itu, saya turuti,” ujarnya.
Perlahan, Mepri mengajari anaknya cara memegang senjata dan cara membidik yang benar. Tentu baru sebatas bermain. Lambat laun, Dhani kecil semakin asyik sendiri bermain dengan senjatanya.
Beranjak usia 7 tahun, pria yang berdinas di Ditintelkam Polda Jatim tersebut mengajak Dhani ke lapangan. Awalnya, sekadar melihat lomba. Lambat laun, Mepri mengajak anaknya ikut bermain di arena paintball maupun airsoft gun bersama komunitasnya. Tak berselang lama, sebuah airsoft gun diberikan sebagai kado untuk Dhani. Sejak itu, Dhani meminta sendiri kepada ayahnya untuk latihan. ”Ayo Yah, latihan lagi. Pengin main tembak-tembakan lagi, Yah,” ujar Mepri mengenang.
Sejak itu, arena tembak Mapolda Jatim rutin dikunjunginya. Biasanya Minggu. Di sana berlatih sekaligus bermain. Cara menembak dengan benar diajarkan dan dievaluasi oleh sang ayah. Tidak melulu soal teknik. Kerja tim, mengatur emosi, dan konsentrasi juga diajarkan.
Namun, masa kecil Dhani tidak melulu soal senjata. Pria 42 tahun tersebut juga tidak mengekang anaknya untuk menyukai olahraga maupun minat yang lain. Mepri mengatakan, pernah saat berlatih, Dhani ingin membawa tamiya ke tempat latihan. Tidak masalah baginya. Malah diizinkan. Dalam hati, dia sangat menginginkan anaknya untuk berfokus menjadi atlet menembak. Tapi, jangan sampai si anak terpaksa melakukannya. Biar semuanya berjalan natural. Apa adanya. Tumbuh dari rasa suka, suasana latihan pun menjadi asyik.
Hingga memasuki usia 12 tahun, Mepri memberikan pilihan kepada anaknya. Jika ingin berprestasi, tidak sekadar menyukai hobinya. Dibutuhkan ketekunan, kemauan, kerja keras, dan fokus. Dengan berbangga hati, Dhani mengungkapkan pilihannya untuk menekuni dunia tembak-menembak.
Mulai 2016, Mepri memasukkannya ke Brawijaya Shooting Club. Wadah tempat berlatih jika ingin berfokus pada prestasi di olahraga menembak. Tentunya, klub itu berada dalam naungan Perbakin.
Pengenalan dengan berbagai macam jenis senjata air gun diberikan. Di antaranya, air pistol dan ARM yang berbentuk senapan laras panjang. Pilihan Dhani pun jatuh pada ARM. Alasannya khas anak-anak. Lebih keren. Maklum saja, untuk membidik sasaran dengan ARM, bagian belakang senapan diletakkan di pundak. Tangan kiri memegang depan senjata, tangan kanan memegang bagian belakangnya.
Dhani tidak terinspirasi oleh film ataupun komik. Dia malah berkaca pada foto ayahnya yang tampak gagah memegang senjata laras panjang. Foto itu terpampang jelas di ruang tamu rumahnya.
Awal-awal latihan, remaja yang bersekolah di SMP Negeri 32 Surabaya itu tampak malu-malu. Senjata juga masih dipinjami oleh klub selama dua minggu. Melihat kemauan Dhani yang tinggi, akhirnya Mepri membelikan senjata ARM untuk anak sulungnya tersebut. Meski beli bekas, Mepri merogoh kocek sampai Rp 32 juta. ”Ya, mau bagaimana lagi? Biar kemampuan semakin berkembang, ya harus punya sendiri,” imbuh Mepri.
Mengetahui dibelikan senjata, semangat Dhani berlipat. Cita-cita ingin menjadi atlet nasional dan berprestasi lebih baik memotivasinya untuk melangkah ke depan.
Baru tiga bulan berlatih, pelatih menyuruhnya untuk mengikuti kompetisi. Rasa senang, grogi, dan deg-degan campur aduk menjadi satu. Maklum, baru pertama menjajal atmosfer kompetisi. Capaian target pun tak muluk-muluk. Menjadi juara rasanya belum mampu. ”Kata pelatih, yang penting ikuti dulu. Fokus, dijalani, dan bisa mengatur emosi sama konsentrasi saat menembak,” lanjut Dhani.
Juara harus merasakan kalah. Itu jugalah yang dialami remaja asli Surabaya tersebut di kompetisi pertamanya. Tapi, ada kejutan menarik yang didapat sebagai pelipur lara. Skor yang diperoleh melebihi ekspektasi.
Kini dua setengah tahun sudah Dhani berlatih. Empat medali emas kejuaraan tingkat kota dan satu medali emas kejuaraan tingkat nasional telah diraihnya. Bulan depan dia menyiapkan diri untuk mengikuti Kejurnas Awank Faroek Cup di Kaltim. Turnamen tersebut merupakan ajang kualifikasi untuk dapat bertanding di ajang Pekan Olahraga Nasioanl (PON) Remaja 2018.
Menurut dia, hasil dan prestasi yang diraih tidak lepas dari usaha dan dukungan orang-orang terdekat. Yakni, orang tua, pelatih, dan teman-temannya. Untuk meraih prestasi, dibutuhkan kerja keras dan ketekunan. Percayalah, hasil tidak mengkhianati usaha. (*/c6/git)