← Beranda

Puji Wirawan, Guru Bahasa Inggris yang Terbitkan Cerita Berbahasa Jawa

Miftakhul F.SMinggu, 14 Mei 2017 | 01.06 WIB
BERISI PETUAH: Puji memperlihatkan salah satu buku yang berisi kumpulan cerkak karangannya.

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang diucapkan sebagian besar masyarakat di Trenggalek. Namun, jarang ada masyarakat yang menekuninya.





ZAKI JAZAI, Trenggalek





SEKILAS tidak ada yang berbeda pada diri Puji Wirawan, warga Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh, Trenggalek. Seperti guru pada umumnya, perawakan yang ramah dan santun melekat pada pria tersebut.



Bukan hanya itu, dengan dipercaya menjadi guru bahasa Inggris di salah satu SMP swasta di Kecamatan Pule, Trenggalek, dia dipastikan fasih berbahasa Inggris. Namun, jangan salah, di luar keahliannya tersebut, dia juga mahir memadukan kata-kata dalam bahasa Jawa hingga menghasilkan cerito cekak (cerkak/ cerita pendek).



Dengan kepiawaian tersebut, puluhan judul cerkak dia terbitkan di salah satu majalah terkenal bahasa Jawa hingga menerbitkan dua judul buku yang berisi kumpulan ceritaitu. Ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di salah satu lokasi perbelanjaan, ayah dua anak tersebut asyik duduk-duduk di salah satu tempat.



Dia membuka buku yang merupakan karangannya. ”Ini buku terbitan kedua. Pada Juni mendatang, buku ketiga akan diterbitkan kembali,” cerita Puji.



Saat itu pula, sambil menunggu kedua anaknya dan sang istri yang berbelanja, dengan memperlihatkan buku karangannya, dia mulai bercerita tentang aktivitasnya tersebut. Ternyata kepiawaiannya dalam mengarang cerkak timbul begitu saja.



Itu muncul ketika sekolah, Puji membaca majalah berbahasa Jawa milik ayahnya. Setelah beberapa kali membaca, ternyata dia mulai tertarik dan terus membaca berbagai cerkak dari majalah tersebut. ”Mulai 1999, ketika masih muda, saya mulai aktif membaca dan ingin suatu saat nanti menjadi pengarang cerita di majalah itu,” katanya.



Secara berangsur, dengan membaca tersebut, Puji mulai memahami karakteristik cerita itu dan memutuskan untuk belajar mengarang. Namun, dalam hal tersebut, ketika kali pertama mengarang, dia terbentur dengan malas hingga minimnya ide untuk dijadikan sebuah cerita.



Hingga pada suatu hari, ketika nongkrong di warung kopi (warkop), dia bertemu dengan seorang teman yang menceritakan keluh kesahnya. Saat itulah dalam benaknya terpikir untuk menjadikan pengalaman temannya itu sebagai cerita dan langsung mengarang.



Di sisi lain, pengarangan sendiri biasanya dilakukan ketika waktu luang dan pikirannya tenang. Sebab, moment tersebut merupakan waktu terbaik baginya untuk menghindari malas.



”Ternyata cerkak yang dibuat bersumber dari pengalaman teman itu, ketika saya kirim, langsung diterbitkan. Semenjak 2008, saya selalu aktif mengirim,” ungkap pria 39 tahun tersebut.



Jadi, saat itu seluruh ide pengarangan cerkak selalu bersumber dari kehidupan sehari-hari, baik cerita pengalaman orang lain maupun situasi yang terjadi di sekelilingnya. Tujuannya, cerkak yang ditulis bisa dijadikan petuah atau nasihat bagi pembaca, khususnya generasi muda, untuk berpikir ulang ketika melakukan tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.



Biasanya cerkak yang ditulis berbentuk roman dan sosial yang ditunjukan kepada pemuda. ”Rata-rata setiap bulan saya mengirim empat hingga enam judul cerita yang mayoritas diterbitkan. Dengan cerkak ini, saya berharap, selain bisa memberikan nasihat generasi muda, cerkak ini membuat mereka tidak malu untuk mendalami bahasa Jawa yang melekat sejak kecil,” jelas suami Luluk Sustiana tersebut. (*/and/c24/diq)










EDITOR: Miftakhul F.S