Nur Rahma Fairuz Maknuniyyah dan Nur Rahmi Fahira Nahlannisa (Rahma-Rahmi) dapat dipisahkan pada 16 Agustus 2016 di Batam. Tapi, perjuangan belum selesai. Rahma masih harus dirawat di Surabaya. Jantungnya mengalami kelainan.
DWI WAHYUNINGSIH
NUR Rahma Fairuz Maknuniyyah telah menginjakkan kaki di Surabaya pada 27 Maret. Bersama ibunya, Warmin Bahrudin, bayi satu tahun itu berangkat dari Batam, Kepulauan Riau. Dia terbang jauh untuk mengupayakan kesembuhan. Demi mengobati kelainan jantung bawaan yang dimilikinya.
Rahma terlahir bersama saudari kembarnya, Rahmi, pada 29 Maret 2016. Tapi, perut mereka dempet. Dua putri pasangan Junaidi Bakri Ratulolly dan Warmin Bahrudin itu dapat dipisahkan pada Agustus 2016. Kondisi mereka pun berangsur membaik. Berat badan dan keaktifan terus berkembang.
Yang masih bermasalah adalah Rahma. Jantungnya punya problem. Ada kelainan bawaan. Jantungnya hanya punya satu bilik. Karena itu, Rahma mudah lelah. Dia tidak bisa beraktivitas berat. Kalau terganggu, badannya akan membiru.
Setelah lahir, Rahma menjalani operasi pertama untuk memperbaiki kerja jantungnya tersebut. Arteri pulmonari, saluran yang mengangkut darah dari jantung ke paru-paru, dikecilkan. Nah, operasi pertama itu belum cukup. Rahma harus diterbangkan ke Kota Pahlawan ini untuk menjalani operasi kedua. Kali ini pembuluh darah kotor dari tubuh bagian atas disambungkan ke arteri paru-paru. Dengan begitu, darah bisa teroksigenase dengan bagus dan tidak biru lagi. Operasi itu dilangsungkan Senin (10/4).
’’Dia sudah siap menjalani operasi tahap kedua. Memang sedikit terlambat. Seharusnya, setelah operasi pertama itu, empat bulan kemudian kami operasi. Tentu sesuai dengan persyaratan yang ada,’’ tutur dr Heroe Soebroto SpB SpTPKV (K), operator dalam operasi, kepada Jawa Pos.
Sejatinya, selain terlambat, operasi kali ini memiliki risiko dan tingkat kesulitan lebih besar kalau dibandingkan dengan operasi pertama. Dada Rahma yang sudah pernah dioperasi cenderung lengket. ’’Jadi, dibutuhkan ketelitian, kecermatan, dan kehati-hatian agar pembuluh darah tidak terluka,’’ kata Heroe.
Posisi jantung Rahma yang tidak normal juga bisa menjadi kendala tersendiri. Normalnya, posisi jantung menghadap ke kiri. Tapi, jantung Rahma ternyata menghadap ke kanan (dextrocardia). Hal itu dapat menyulitkan identifikasi anatomi pembuluh darah yang akan dipotong dan disambung.
Senin itu sekitar pukul 07.00 Rahma digendong ibunya keluar dari ruang Nakula-Sadewa menuju gedung bedah pusat terpadu (GBPT) RSUD dr Soetomo. Dua kateter sudah terpasang di kaki Rahma. Dia berangkat menuju ruang operasi bersama dua pasien anak lain.
Sepanjang perjalanan ke ruang operasi, Rahma aktif bergerak dalam gendongan ibunya. Sesekali, dia menoleh menatap Jawa Pos. Seolah mengajak bermain melalui mata bulatnya. Belum banyak kata yang bisa diucapkan gadis cilik tersebut.
Sempat tidak mau ditidurkan di ranjang operasi, Rahma berubah pikiran saat didekati seorang dokter anestesi. Dia bersedia lepas dari gendongan sang ibu dan mulai terlelap di atas ranjang operasi. Seulas senyum ditunjukkan bocah satu tahun itu kepada sang ibu sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
Hiruk pikuk di ruang operasi jauh berbeda dengan kondisi ibunda Rahma, Warmin Bahrudin. Perempuan asli Flores itu tampak diam menunggu sambil sesekali memanjatkan doa untuk keberhasilan operasi putrinya. Tidak banyak yang bisa dilakukannya.
Sendirian di kota asing tanpa sanak saudara membuatnya tidak mengenal banyak orang. Hanya beberapa suster, dokter, dan petugas kebersihan yang cukup akrab. Beberapa kali air matanya menetes kala mengingat putri sulungnya tengah berjuang melawan maut di dalam ruang operasi. Warmin sempat putus asa. ’’Saya telepon suami. Bilang sudah tidak kuat. Pengin pulang. Jadi, kalau memang terjadi hal buruk sama Rahma, saya ada keluarga. Kalau di sini, kan, saya sendirian,’’ tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, Junaidi, sang suami, menguatkan. Warmin diminta untuk tidak egois memikirkan diri sendiri dan lebih berfokus kepada Rahma. Beberapa teman di media sosial pun memberikan dukungan. Setidaknya, jika memang terjadi sesuatu yang buruk, Warmin telah berusaha maksimal untuk Rahma.
Pagi sebelum Rahma dibawa ke ruang operasi, Warmin juga ragu mengizinkan anaknya dioperasi. Ada kekhawatiran besar yang bersarang di dalam hatinya. Apalagi setelah mendengar risiko-risiko yang bisa dialami buah hatinya.
Berusaha menghilangkan rasa cemasnya, Warmin memilih menceritakan kelucuan bayi kembarnya saat di rumah dulu. ’’Pernah waktu itu Rahma lagi tidur di ayunan, terus Rahmi merangkak mendekati Rahma. Lalu, dia seolah mendorong ayunannya, mengajak bermain’’ cerita Warmin, lantas tertawa bahagia.
Sembilan jam berlalu semenjak Rahma masuk ruang operasi. Namun, masih belum ada tanda-tanda operasi telah selesai. Raut wajah Warmin makin cemas. Satu per satu orang di ruang tunggu mulai beranjak pergi. Apalagi, dokter sempat memberi tahu bahwa operasi akan berlangsung selama 4–6 jam. ’’Kok belum selesai ya? Ini orang-orang sudah pergi. Nanti kalau tinggal saya sendiri, bagaimana?’’ ucapnya khawatir.
Raut cemas pun makin terlihat saat siang. Kami harus berpamitan. Ada wajah tidak rela karena Warmin akan kembali sendiri tanpa teman bercakap-cakap, sementara putrinya belum keluar dari ruang operasi. (*/c14/dos/sep/JPG)