← Beranda

Cerita Aiptu Muhammad Rikza Firmansyah, Polisi Penggemar Tokusatsu

Suryo Eko PrasetyoSelasa, 11 Juli 2017 | 10.25 WIB
BERUBAH!!!!: Foto kanan, Aiptu Muhammad Rikza Firmansyah memperagakan aksi salah satu tokoh favoritnya.

Sebagaimana cinta, hobi tidak memandang apa pun. Ia bisa merasuki profesi apa pun dengan usia berapa pun. Itulah yang menjangkiti Aiptu Muhammad Rikza Firmansyah.





DRIAN BINTANG SURYANTO, Surabaya





DALAM bahasa Jepang, tokusatsu punya makna special effect atau efek khusus. Ia juga merupakan kategori film khas jagat Negeri Sakura tersebut. Film-film tokusatsu adalah film yang selalu memunculkan efek khusus berlebih.



Dengan begitu, banyak film yang masuk kategori tersebut. Mulai horor, fantasi, hingga fiksi ilmiah. Jenis efeknya juga beragam. Mulai suara di latar belakang hingga sebuah ledakan yang mendramatisasi sebuah adegan.



Tetapi, ada pemahaman umum di masyarakat bahwa tokusatsu adalah film-film tentang superhero. Memang, film-film itu memunculkan banyak efek khusus. Tokusatsu.



Sebut saja film Godzilla, Ultraman, Super Sentai (Power Ranger, Red), hingga Kamen Rider (biasa diterjemahkan sebagai Satria Baja Hitam). Nah, Aiptu Firmansyah adalah salah satu ’’korban’’ kecintaan pada genre tersebut.



Pria berambut cepak itu mengatakan, tokusatsu adalah cinta keduanya. Yang pertama tentu cinta pada Dian Lestari Handayani, istrinya. Cinta kedua pada tokusatsu, terutama tokoh Kamen Rider.



Satria bermotor itu selalu menjadi idamannya. Baju zirah yang kukuh selalu menyihir Firmansyah masuk ke dunia khayalan. Apalagi jika melihat tokoh-tokoh tersebut beraksi.



’’Saya dari dulu suka sekali dengan martial art. Makanya begitu melihat itu, rasanya pas sekali,” jelas pria yang bertugas di dikyasa satlantas tersebut.



Firmansyah mengakui bahwa superhero asal Jepang lebih memikat ketimbang pahlawan Amerika. Kostumnya lebih memikat.



’’Coba baju zirahnya. Bandingin sama kostum superhero sana. Pasti kalah,” jelasnya tak mau kalah.



Dengan tekun, Firmansyah mengumpulkan action figure Kamen Rider. Jumlahnya ratusan. ’’Dulu saya taruh di lemari-lemari kecil. Terus sumpek, akhirnya saya buang semua lemarinya. Terus saya beli yang besar,” kata pria kelahiran Jakarta tersebut.



Memang, sebagian besar action figure koleksinya bukan yang paling mahal. Tapi, harga satuannya tetap membikinnya menguras kocek. ’’Gini-gini harganya Rp 200 ribuan lho per satu mainan,” sahut Firmansyah.



Beberapa koleksi juga harus dilengkapi pernik-pernik mahal. Misalnya, sabuk perubahan Kamen Rider Gaim yang harganya Rp 1,65 juta. Itu belum termasuk pelengkap alat perubahan Kamen Rider yang mengadaptasi buah-buahan tersebut.



Firmansyah juga harus membeli efek-efek yang melengkapi perubahan sang Satria Baja Hitam. Bentuknya adalah gembok kecil yang diletakkan di tengah-tengah sabuk.



Gembok itu bernama lockseed. Ia warna-warni, sesuai bentuk perubahan sang Kamen Rider. Salah satu gembok itu menyerupai buah jeruk. Untuk melakukan perubahan, gembok tersebut harus dibuka terlebih dahulu dari tuas yang ada di bagian bawahnya.



Setelah lockseed dikaitkan, tangan kanan Firmansyah memegang benda menyerupai pisau yang berada di sisi sebelah kanan sabuk. Dengan mengucapkan mantranya, dia meniru cara orang mengiris buah. Pisau itu dia ayunkan ke bawah. ’’Henshin!!’’  teriak ayah dua anak tersebut yang menirukan tokoh idamannya.



Lockseed itu dibeli terpisah dengan sabuk yang dia beli sebelumnya. Untuk satu gembok perubahan tersebut, Firmansyah menghabiskan uang Rp 400 ribu. Bentuknya bermacam-macam, harganya juga bermacam-macam. ’’Paling mahal itu bisa sampai Rp 750 ribu. Nah, itu yang saya tidak punya,” terang pria yang biasa bertugas memberikan penyuluhan kepada anak-anak tersebut.



Itu bukan termasuk salah satu koleksi paling mahal yang pernah dimiliki Firmansyah. Dia bahkan memiliki kostum Kamen Rider Kabuto yang asli. Kostum tersebut harus dia tebus dengan uang Rp 10 juta.



Dia mendapatkan kostum itu dari sang kakak yang bekerja di kapal pesiar. Karena tahu adiknya gemar sekali dengan tokoh asli Jepang tersebut, sang kakak pun membeli kostum tersebut untuk Firmansyah. ’’Tidak gratis juga. Saya cicil pembayarannya ke kakak,” ujar pria yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.



Sayangnya, Firmansyah tidak bisa memperlihatkan kostum itu. Sebab, Firmansyah menyewakan kostum satu-satunya tersebut ke salah seorang kerabatnya untuk ditunjukkan ke pameran. ’’Per bulannya saya dapat Rp 400 ribu. Akhir tahun ini kontraknya baru habis,” ungkapnya.



Firmansyah juga membeli beberapa mainan dari tokoh tokusatsu lain. Misalnya, Ultraman dan Power Ranger. ’’Saya juga punya Megazord-nya Power Ranger Wild Force yang lengkap. Jadi, bisa disusun menjadi satu,” ucap pria yang sering disapa Bang Jarwo tersebut.



Menurut Firmansyah, koleksinya itu merupakan sebagian dari hidupnya yang telah lama hilang. Otomatis, jika ada yang rusak sedikit saja, dia pasti langsung murka. ’’Saya pernah punya edisi yang limited edition. Tapi, rusak karena sama istri saya dipinjamkan ke keponakan,” kenangnya.



Sang istri, Dian Lestari Handayani, memang tidak tahu. Dia meminjamkan mainan milik suaminya tersebut tanpa seizin Firmansyah. ’’Pas saya balik ke rumah, sudah rusak semua,” imbuhnya.



Firmasnyah pun ngambek. Istrinya didiamkan. Dingin. Selama tiga hari. Betapa tidak, satu mainan yang rusak seharga Rp 450 ribu. Karena dua, dia rugi Rp 900 ribu.



Dian pun awalnya tidak langsung setuju pada hobi sang suami. Kekanak-kanakan, katanya. Tapi, Firmansyah tak lelah berjuang. ’’Saya bilang, ketimbang pelihara burung, lebih baik koleksi Kamen Rider. Nggak ribet,’’ ucapnya.



Kini, sang istri sudah mulai tertarik. Setidaknya, kalau Firmansyah sedang nonton serial Kamen Rider, Dian bertanya. ’’Itu episode berapa, Mas?” ujar Firmansyah yang menirukan istrinya.



Meskipun sudah memiliki ratusan mainan Kamen Rider, Firmansyah belum merasa cukup. Dia masih ingin memiliki satu kostum bikinannya sendiri. Rencananya, dia menggunakan kostum itu untuk bekerja. ’’Dulu ada, namanya Kesatria Bhayangkara, Kamen Rider Polisi Indonesia Tapi, jalan ceritanya jelek,” jelas ayah beranak satu itu.



Jika digunakan bekerja, kostum tersebut akan lebih bermanfaat ketimbang hanya menjadi pajangan di etalase kaca. Firmansyah memang bertugas mendidik generasi masa depan untuk lebih patuh berlalu lintas. Kostum yang menarik tentu saja akan menambah ketertarikan anak-anak yang diajarnya.



Firmansyah ingin hobinya tidak sekadar penghilang penat. Dia ingin hobi itu bisa membuat pengabdiannya ke masyarakat kian maksimal. (*/c7/dos)


EDITOR: Suryo Eko Prasetyo