Bagi sebagian besar orang, burung merpati identik dengan balapan. Kecepatan terbang dengan stabil biasa menjadi incaran. Makin lihai, merpati pun makin mahal. Tapi, tidak demikian bagi Muhammad Arif. Kades Dukuh Tengah, Buduran, itu malah hobi merawat burung dara yang nggak bisa terbang. Lho kok?
RESVIA AFRILENE
SABTU pagi (3/12) Arif terlihat asyik bercengkerama dengan merpati-merpatinya di kandang sederhana. Halaman belakang rumahnya seluas 8 x 4 meter disulap menjadi rumah bagi puluhan ekor merpati hias.
Dengan telaten, Arif memberi makan merpati-merpati kesayangannya tersebut. Burung dengan aneka warna itu pun seolah sudah sangat mengenal sang pemilik.
Kandang merpati di rumah Arif terbagi dua tempat. Pertama, di halaman belakang rumah. Kandang-kandang merpati tersebut dibuat berbentuk kotak kayu dengan dinding dari jaring kawat.
Nah, di dalam setiap kotak, ada sepasang merpati. Jenisnya sama. Hampir semua jenis merpati hias itu tidak bisa terbang cepat dan tinggi, layaknya merpati pada umumnya.
Di antara merpati tersebut, ada seekor merpati betina berjenis jacobin dengan bulu merah. Merpati itu sedang mengerami telurnya. Adapun, si jantan mengepak-ngepakkan sayap dengan lembut.
Namun, si jantan tidak terbang sama sekali. Bagi para peternak merpati hias, jenis itu tentu sudah tak asing lagi. Ya, merpati tersebut berasal dari India.
Ada satu ciri khusus, yakni hampir seluruh bagian kepala tertutupi bulu. Wajahnya terlihat mungil bak ditutupi wig rambut saja. ’’Tinggal ini yang saya punya. Yang lain, saya jual semua,” ujar Arif.
Karena tidak banyak polah, merpati jenis jacobin memang mudah ditangkarkan. ’’Terbang pun nggak bisa lebih tinggi dari saya,” lanjut Arif.
Selain jenis jacobin, Arif merawat merpati yang lagi booming. Yakni, french mondain. Merpati itu berbadan tinggi dan gemuk. Arif memiliki lima pasang. Selain mudah diternakkan, kelebihan french mondain adalah harganya yang tinggi.
’’French mondain ini jenis termahal yang saya punya. Rata-rata berkisar Rp 9 juta per pasang,” ujar Arif sembari menunjukkan salah satu french mondain andalannya yang berwarna hitam dengan guratan-guratan hijau berkilau.
Selain di halaman belakang rumah, Arif memiliki kandang merpati di lantai 2 rumahnya. Bukan tanpa sebab Arif membuat kandang di lokasi tersebut. Dia ingin memberikan ruang adaptasi bagi burung-burung daranya.
’’Kalau yang bisa terbang agak tinggi, saya liarkan (tidak dalam kandang, Red). Saya taruh atas saja biar bisa melatih sayapnya,” jelas suami Indahtul Lailiyah tersebut.
Saat Arif datang, beberapa ekor burung dara itu langsung menyambut dengan meloncat-loncat. Terbang rendah ke sana-kemari. Di antara merpati itu, ada yang berjenis lahore.
Merpati berbadan besar dan kaki bersimbar tersebut tampak cantik. Warna dasarnya putih. Pada persimpangan paruh dan pial ke belakang mata, ada nuansa sekunder perak.
Warna itu membelah leher sampai ke belakang sayap. Arif memiliki lima pasang merpati lahore. ’’Tapi, yang warna perak ini spesial,’’ ujarnya.
Disebut spesial lantaran merpati asal Pakistan tersebut baru saja membawa kemenangan di Jambore Nasional Merpati Hias yang diselenggarakan di Batu pada Minggu lalu (27/11).
Lahore silver mengantarkan Arif sebagai juara I. Adapun, merpati jenis french mondain miliknya juga meraih juara pertama. Selain itu, jenis indian fantail atau yang akrab disebut ekor kipas mendapat juara III.
’’Selama ini kontes di Batu itu yang paling berkesan bagi saya. Soalnya, dewan jurinya langsung pakar merpati hias dari Filipina sama Aljazair,” tutur pria kelahiran Sidoarjo, 25 Juni 1977, tersebut.
Dalam kontes selama dua hari itu, Arif mengaku mendapatkan banyak ilmu soal breeding dan standar merpati berkualitas. ’’Jadi sudah senang karena mendapat juara, ilmu bertambah, plus untung juga,” ujar Arif, lantas tersenyum.
Sama dengan kontes burung lain, setelah meraih kemenangan dalam kontes tersebut, harga sepasang merpati pun melambung. Bisa berlipat ganda sampai tiga kali dari harga normal. ’’Ya, lumayan buat menambah pundi-pundi,’’ kelakarnya.
Merawat burung merpati tidak jauh berbeda dengan merawat anak saja. Butuh kasih sayang, kesabaran, dan ketelatenan. Ditanya merpati mana yang paling manja kepadanya, Arif menjawab jenis show king.
’’Soalnya ginuk-ginuk. Menggemaskan kalau dipegang. Jenis show king juga suka diajak bercumbu,” ujar Arif, lantas tertawa.
Hobi memelihara burung merpati hias dan beberapa kali meraih juara itu sejatinya bukan murni keinginan Arif. Malah, yang kali pertama meminta dibelikan merpati adalah putra sulungnya, Solahuddin Yusuf Al Ayubi.
’’Tapi, namanya anak kecil, ya belum bisa ngrumat (merawat, Red). Jadi, waktu itu mati,” ceritanya. Arif pun mencarikan lagi burung dara buat si buah hati.
Akhirnya dia browsing jenis-jenis merpati hias. Termasuk merpati yang disukai penggemar asal luar negeri. Nah, satinette adalah jenis yang kali pertama dibeli untuk percobaan perawatan.
Karena belum memahami seluk-beluk beternak merpati hias, satinette milik Arif terlambat produksi. ’’Normalnya dua atau tiga minggu. Tapi, waktu itu sampai tiga bulan,” katanya.
Namun, Arif percaya betul siapa giat pasti dapat. Begitu pula keyakinan dalam merawat merpati hias. Meski tidak memiliki ilmu khusus, kalau mau belajar, Arif yakin dirinya pasti bisa.
Nah, yang menggembirakan, setelah cukup menguasai ilmu beternak merpati, Arif pernah menelurkan tiga anakan dalam satu periode perkawinan. ’’Jadi, saat itu senang banget,” kenangnya.
Selama berusaha, Arif juga pernah salah. Namun, berawal dari kesalahan, Arif pun banyak belajar. Cara pengandangan yang baik, misalnya.
Kalau tidak bisa terbang sama sekali, kata dia, sebaiknya dibuatkan boks tersendiri. Merpati hias itu juga sangat suka dimandikan dengan memakai sabun agar bersih dan bulunya tetap kinclong.
Rutinitas itu pun dilakukan Arif. ’’Lucu kalau pas dimandikan, jadi ngalem (manja, Red). Sukanya dielus-elus,” ucap Arif.
Untuk merawat merpati-merpati hiasnya, Arif rutin memberikan antibiotik. Tujuannya, mencegah terjangkit mulut karena perubahan cuaca.
’’Bahasa sini itu lumpangen. Kalau di dalam mulutnya sudah luka, susah sembuh,” ujarnya. Bagi Arif, hobi merawat burung hias itu juga bisa mengisi waktu di sela-sela menjabat kepala desa.
Tugas utama tentu tetap bersama-sama masyarakat untuk membuat desa makin maju dan mandiri. ’’Hobi seperti ini jangan sampai melupakan kewajiban,’’ tegasnya. (*/c7/hud/sep/JPG)