alexametrics

Andi Prajitno, Pria 64 Tahun yang Sudah Jelajahi 20 Gunung

Mendaki agar Rasa Sakit di Lutut Hilang
31 Oktober 2019, 20:48:07 WIB

Andi Prajitno selalu merasa lututnya nyeri. Dokter bilang, minyak yang diproduksi lututnya sudah berkurang karena usianya telah memasuki kepala enam. Namun, siapa yang menyangka, setelah pendakiannya yang pertama ke Rinjani, nyeri di lututnya hilang.

MARIYAMA DINA, Surabaya

GUNUNG tertinggi di dunia, Everest, ditaklukkan Andi Prajitno. Andi memulai perjalanannya pada 3 Oktober hingga 15 Oktober 2019. Menghabiskan sekitar Rp 40 juta, Andi berhasil mencapai Everest Best Camp (EBC).

”Saya sebenarnya bukan orang yang suka mendaki dulu itu,” terang Andi saat ditemui di Hotel Singgasana pada Sabtu (26/10). Olahraga yang dia sukai sebelumnya adalah berenang dan karate. Namun, setelah mendaki untuk kali pertama pada 2015, dia mengaku menemukan sesuatu yang tidak tergantikan.

”Pesonanya pas sudah sampai puncak itu bener-bener nggak bisa dilupakan. Rasanya puas banget. Padahal, awalnya juga nggak tahu kalau ternyata mendaki gunung itu seberat ini,” ceritanya. Bahkan, awal pendakiannya ke Rinjani, dia hanya memakai sneakers standar, bukan sepatu untuk naik gunung. Jaket yang dibawanya saat itu pun hanya jaket tipis.

Namun, hal lain yang tidak pernah disangkanya dari hasil mendaki gunung adalah sakit di bagian lututnya tidak terasa lagi. ”Padahal, dulu dokter bilang kalau sudah usia tua, produksi minyak di lutut itu memang berkurang Tapi, sekarang saya tahu rahasianya biar nggak sakit-sakit lagi,” jelasnya. Yakni, dengan selalu mengajak kaki-kakinya berjalan.

Meski memulai pendakian pada usia 60 tahun, hanya dalam empat tahun terakhir, Andi berhasil mendaki 20 gunung. Baik di Indonesia maupun luar negeri. ”Itu jumlah gunungnya. Tapi, ada gunung yang saya daki dua sampai empat kali,” sambungnya.

Bagi Andi, Gunung Raung menjadi lokasi yang paling berkesan. Pria yang menyelesaikan S-3 di Jurusan Hukum Unpad itu mengatakan bahwa Raung punya kesan tersendiri. ”Di gunung itu ada sisi-sisi tebing. Tracking-nya itu bener-bener luar biasa. Pokoknya kalau mau naik Gunung Raung itu perlu keyakinan khusus. Kalau nggak yakin pokoknya jangan naik,” imbuhnya.

Meski Everest telah dijelajahinya, buat dia, Raung punya cerita sendiri. ”Bagi saya, Everest itu memang seperti impian semua orang. Tapi, ya kayak cuma impian. Tantangannya cuma bener-bener dingin. Harus pintar-pintar agar otak enggak kehabisan oksigen. Tapi, kalau Raung, bener-bener kayak tantangannya dapat,” jelasnya.

Pada usia senja, agar tubuhnya tetap kuat untuk bisa mendaki gunung, Andi punya dua rahasia. Yakni, persiapan fisik dan doa. ”Nah, fisik ini saya selalu membiasakan jalan kaki kalau lagi sempat,” ujarnya. Biasanya saat jam istirahat kantor, Andi bakal jalan dari kantornya di daerah Tidar ke Jalan Basuki Rahmat. ”Naik-turun tangga di Basuki Rahmat. Terus kalau capek, duduk-duduk di depan McDonald’s sebentar. Terus balik lagi jalan ke kantor,” jelasnya tentang rahasia agar fisiknya tetap kuat untuk naik gunung.

Menurut dia, semakin tua, orang tidak boleh semakin malas. Malah harus bergerak lebih banyak agar produksi minyak yang dihasilkan persendian tulang terus lancar. ”Selain itu, biasanya saya minum vitamin. Kalau kepepet, biasanya cuma makan gula merah,” tuturnya. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/c6/tia



Close Ads