alexametrics

Duka Mendalam Keluarga dan Sahabat Korban Lion Air JT 610

Firman: Seharusnya Saya Yang di Pesawat Itu
31 Oktober 2018, 12:10:42 WIB

Siapa yang dapat menerka umur? Belum lama pamit, belum lama update status WhatsApp, tapi sesaat kemudian pergi selamanya. Kepergian mendadak orang-orang tercinta membuat keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air begitu terpukul.

FERLYNDA PUTRIJUNEKA S. MUFID, Jakarta

Duka Mendalam Keluarga dan Sahabat Korban Lion Air JT 610
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bertemu keluarga korban Lion Air JT 610 di posko RS Polri, Jakarta. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

MENDUNG kelabu menggelayuti langit di atas Gedung Sentral Visum dan Medikolegal Rumah Sakit Bhayangkara Tk I Raden Said Sukanto.

Mata sembap dan isak tangis keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menambah kelabu suasana rumah sakit (RS) yang dikenal dengan nama RS Polri Kramat Jati itu.

Salah seorang keluarga korban adalah Toni Priyonoadhi. Putri ketiganya, Puspita Eka Putri, turut menjadi korban. “Tanggal 26 lalu anak saya ulang tahun yang ke-24,” ungkap Toni lirih kemarin (30/10).

Foto-foto yang dijepret saat Putri ulang tahun masih tertempel di kamar rumahnya yang berada di Bali View Jatiwaringin, Bekasi. Sesuai pesan perempuan berhijab itu pada malam sebelum berangkat, foto-foto di kamar tersebut tidak boleh dicopot. “Dia juga tidak mau diantar ke bandara,” kenang Toni.

Anak ketiganya itu kukuh ingin berangkat sendiri. Padahal, sebelumnya, entah mama atau saudaranya pasti selalu mengantar. Toni merasa kecolongan karena menuruti apa yang diucapkan putrinya.

“Saya dapat kabar dari saudara bahwa pesawat Putri kecelakaan. Itu saya sedang nyetir. Mobil saya pinggirkan. Saya menangis,” bebernya. Hatinya berkecamuk. Putri yang paling dekat dengannya telah menghadap Sang Pencipta.

Kesedihan mendalam juga menggelayut di hati Firman Linus. Sahabatnya, Paul Ferdinan Ayorbaba, ada di dalam Boeing 737 Max 8 yang jatuh itu. Sebelum berangkat, Firman sempat mengantar sang rekan, bahkan merekam video Ferdinan ketika masuk ke bandara. “Di kantor Pak Ferdi (sapaan Ferdinan, Red) itu satu meja dengan saya,” kenang pegawai PT Marindo tersebut.

Mereka sering bertukar cerita. Sering makan siang bersama. Yang membuat Firman makin sedih adalah kukuhnya Ferdi untuk berangkat ke Pangkalpinang. Padahal, Firman-lah yang sebenarnya ditugaskan untuk berangkat ke sana mengantar dokumen.

Tapi, Ferdi bersikeras berangkat karena merasa itu adalah tugasnya. “Pak Ferdi memang tugasnya di bagian dokumen. Seharusnya saya yang di pesawat itu, saya yang jadi korban,” katanya dengan suara bergetar.

Firman pun bertekad setiap hari akan menunggui proses identifikasi di RS Polri. Walaupun tim DVI Polri menargetkan identifikasi baru bisa selesai empat hingga delapan hari ke depan. Sebab, hingga kemarin belum ada keluarga Ferdi yang bisa datang ke RS.

Sementara itu, suasana duka juga membayangi crisis center korban Lion JT 610 di halaman Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Keluarga korban yang baru mendarat di bandara tersebut langsung menuju lokasi crisis center yang terletak di halaman bandara.

Misalnya Mariana yang datang tergopoh-gopoh sambil menangis menuju tempat informasi dan pendataan sore (sekitar pukul 15.30) kemarin. Dia langsung menanyakan kabar putranya, Muhammad Nasir. Perempuan dari Aceh Selatan itu tak henti-henti menangis. Dia seolah masih belum percaya kabar duka yang menyelimuti keluarganya. “Anak saya, Pak. Anak saya. Bawa pulang anak saya, Pak,” pinta Mariana berurai air mata.

Kesedihan Mariana terasa begitu dalam. Sekeras apa pun upaya untuk menenangkan Mariana seolah tak mempan. “Aneuk lon sabo nyang agan (anak laki-laki saya satu-satunya, Red),” ujar Mariana dalam bahasa Aceh. “Tempat saya mengadu. Kalau saya sakit, siapa yang nanti merawat saya?” imbuh dia masih diiringi tangis.

Dari informasi Yuliani, kerabat Mariana, Nasir adalah anak pertama di antara empat bersaudara. Dua adik bungsunya kembar, Fitra dan Fitri. Nasir yang berusia 29 tahun sudah menikah dengan Dian Daniati dan dikaruniai seorang anak bernama Dafi.

Sebelum meninggal dunia, Nasir sempat berpesan kepada keluarga besarnya di Aceh untuk berkumpul bersama di Jakarta. “Keinginan dia mungkin berhasil. Tapi, ternyata begini caranya. Warga dari Aceh Selatan yang tinggal di Jakarta pada ke sini semua,” katanya.

Yuliani menjelaskan, Nasir bekerja pada sebuah perusahaan alat kesehatan di Jakarta Barat. Nasir disebut pergi ke Bangka Belitung untuk menggarap proyek kantornya. Keluarga memastikan bahwa Nasir menjadi korban dari informasi pihak perusahaan dan surat-surat yang ditemukan tim SAR. “Di WA Story pukul 06.10 dia menulis flight,” katanya.

Yuliani menyatakan, bisa jadi status di Facebook milik Nasir menjadi pertanda. Status itu bertulisan Jangan suka menyebarkan Hoax dan Fitnah, ingat masa umur dan ajal. Semoga sebelum ajal bisa baca syahadat. “Mungkin itu jadi pesan terakhir dia,” katanya.

Video Call sebelum Boarding

Duka mendalam juga dirasakan Mardiem. Warga Ngingas, Waru, itu kehilangan suaminya, Moejiono, 59. Kemarin para tamu terus berdatangan ke rumah duka.

Teguh Widodo, adik Moejiono, menyatakan bahwa kakaknya sempat menghubunginya sekitar pukul 03.15. Saat itu Moejiono sedang berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. “Dia chat, ngucapin bismillah. Doa selamat selama perjalanan,” ujarnya.

Sesaat sebelum pesawat lepas landas, Moejiono juga sempat mengirim kabar kepada istrinya. Dia mengirimkan foto saat berada di dalam pesawat. “Itu komunikasi terakhir,” katanya.

Putri, anak ketiga Moejiono-Mardiem, mengetahui kabar kecelakaan tersebut saat berada di rumah kosnya di dekat kampus Unair. Saat itu mahasiswi semester III tersebut menonton breaking news di sebuah stasiun televisi. “Saya tahu kode pesawatnya karena ayah selalu ngabarin,” ucapnya.

Sebelum boarding, Moejiono juga sempat melakukan video call dengan Putri. Ketika itu Putri menemani ibunya yang diopname di rumah sakit karena gejala tifus. “Ngobrol biasa. Tak ada firasat apa pun,” imbuhnya. Karena itu, Putri tidak menyangka ayahnya berpulang. Kini dia hanya berharap ayahnya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Sementara itu, duka juga menyelimuti Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jatim II. Tanda duka tersebut ditunjukkan dengan pita hitam yang ditempel di lengan kiri para pegawai. “Ini bentuk duka kami. Pakaian ini sesuai instruksi pusat,” kata Kepala Bagian Umum Kanwil DJP Jatim II Endah Retnowati. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/oby/c9/owi/oni)

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Duka Mendalam Keluarga dan Sahabat Korban Lion Air JT 610