alexametrics

Mengunjungi Daerah Terdampak Gempa Palu

Tiap Ada Getaran, Siswa Berlari
31 Juli 2019, 14:51:51 WIB

Gempa, tsunami, dan likuefaksi meluluhlantakkan Kota Palu dan Donggala. Lebih dari 2 ribu orang meninggal akibat kejadian pada 28 September lalu tersebut. Kondisi alam sudah stabil. Warga yang menjadi korban terus berjuang melanjutkan hidup.

DIMAS NUR APRIYANTO, Palu, Jawa Pos

WAKTU berlalu hampir sepuluh bulan. Sindri masih ingat betul detail menit-menit terjadinya gempa di tempatnya tinggal. Di Desa Ramba, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Palu. Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter menghancurkan kampung halamannya.

”Kami sedang menggelar acara mengenang 40 hari meninggalnya tante,” kata Sindri yang ditemui di posyandu darurat milik Wahana Visi Indonesia dan HSBC di Desa Ramba dua pekan lalu.

Sindri sedang hamil enam bulan. Suara azan Magrib ketika itu mendadak terkalahkan oleh teriakan ketakutan dan ujaran takbir orang sekitar. Pada waktu bersamaan, dia merasakan kuatnya tanah yang bergerak karena gempa. Tangan suaminya erat mencengkeram jemarinya.

”Tanah bergoyang itu sekitar semenit. Tapi kencang sekali. Saya dan suami lari ke luar. Saya tiarap nggak jauh dari teras rumah. Ya, sekitar 2 meter. Kelihatan dari luar rumah, lemari bergerak dan beberapa atap rumah berjatuhan. Ngeri,” kenangnya.

Sebelum bertiarap di depan rumah, Sindri sempat terbentur tiang batu bata di teras. Dia pun tersungkur. Perutnya terbentur undak-undakan batu bata yang dibuat mengitari taman kecil depan rumah.

Begitu tanah tenang, Sindri dan suami berlari menjauhi rumah.

Kelegaan hati tak bertahan lama. Semenit kemudian, tanah kembali diguncang gempa. Kali ini lebih dahsyat. Rumahnya runtuh. Ambrol. Hanya tersisa fondasi. Tangis bersahut-sahutan dengan rapalan doa dan jeritan. Suasana sangat mencekam. Matahari sudah tenggelam. Langit gelap. Makin gulita karena listrik padam.

Kondisi Desa Salua, Sulawesi Tengah (Sulteng) ketika diguncang gempa pada 2018. Ketika itu Palu dan Donggala berduga setelah digoncang gempa besar. (Issak Ramdahani/Dok. JawaPos.com)

Sejak itu Sindri dan suami harus mengucapkan selamat tinggal pada rumahnya. Begitupun warga desa itu.

Sindri belum membangun rumah lagi. Memang masih takut ada gempa. Namun, alasan terbesarnya adalah tidak punya uang. Kini dia tinggal di rumah hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah.

”Dibilang nggak enak, mau bagaimana lagi? Siang hari sangat panas. Tapi, mau tinggal di mana lagi?” ungkapnya.

Sindri terdiam. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia membelai kepala putranya yang lahir Januari lalu. Perempuan 17 tahun itu menyebutkan, setiap kepala keluarga (KK) mendapat satu petak huntara. Berukuran 4 x 4 meter persegi. Satu blok berisi 20 KK.

Ditemui di lokasi yang sama dengan Sindri, kader posyandu Desa Ramba, Risna, menuturkan, dibutuhkan waktu sebulan untuk menggelar kembali kegiatan posyandu pascabencana. Dia menyatakan, saat itu banyak bayi yang mengalami penurunan berat badan.

”Anak berusia 5 bulan, berat badannya bisa sekitar 2 kg. Bayi-bayi makan dan minum seadanya. Belum lagi mereka yang melewatkan vaksin,” ungkapnya.

Dengan jumlah kader dan alat yang minim, posyandu digelar di tenda darurat. Tantangan yang dihadapi adalah mengembalikan rasa percaya diri para ibu yang menjadi korban. Menurut Risna, tidak mudah menggerakkan mereka datang ke posyandu. Tidak putus akal, Risna dan tim kader pun mendatangi mereka. Dari rumah ke rumah. Satu per satu.

”Respons yang didapat bermacam-macam. Kebanyakan negatif. Mereka protes, ini baru gempa, belum berpikir ke posyandu,” katanya.

Posyandu itu berlokasi sekitar 500 meter dari permukiman yang hancur. Tampak rumah-rumah sudah tak berbentuk. Ada yang tinggal atapnya. Ada yang hanya berupa tumpukan puing bangunan. Bukan hanya rumah tinggal yang hancur. Ada pula sekolah yang terdampak. Salah satunya Sekolah Dasar Bala Keselamatan Watubala.

Melenggang masuk ke halaman sekolah, terdengar suara anak-anak bernyanyi. Mereka sedang mendapat pelatihan tanggap bencana dari Wahana Visi Indonesia.

Jongkok senang, berdiri senang, berputar-putar mencari teman, berputar-putar berkeliling sambil mencari teman. Begitu lirik lagunya.

Vinrike, kepala sekolah, menuturkan, saat gempa, di sekolah sedang tidak ada aktivitas belajar-mengajar karena kejadian berlangsung sore. Perempuan 50 tahun itu mendatangi sekolah keesokannya. ”Bagian kelas di depan, ruangannya miring. Retakan tembok ada di mana-mana,” terangnya.

Berbagai alat peraga yang digunakan hancur. Sekolah kembali aktif pada 15 Oktober, dua minggu pascabencana. Semua aktivitas dilakukan di halaman. Belum ada yang berani masuk kelas. Beberapa gempa susulan terus terasa hingga Desember. Setiap tanah bergetar, para siswa berkumpul di titik selamat.

”Tembok kelas yang miring itu masih miring. Ada dua kelas yang miring yang tidak dipakai sampai sekarang. Kami takut. Kami masih menunggu dari dinas pendidikan untuk membantu sekolah ini,” papar Vinrike.

Menunggu bantuan pemerintah merupakan asa besar mereka saat ini. Yani, 45, yang juga seorang di antara ribuan korban gempa Palu tak berhenti berharap menunggu kabar cairnya bantuan. Ibu dua anak tersebut didatangi para petugas survei bantuan untuk masyarakat hingga 10 kali. Namun, hingga kini, bantuan yang dijanjikan pemerintah tak juga mengucur kepadanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c5/ayi)



Close Ads