alexametrics
Cerita-cerita Korban Pesawat Lion Air JT 610

Tak Sempat Bulan Madu, Deryl Tinggalkan Istri yang Baru Dinikahi

30 Oktober 2018, 11:10:19 WIB

Lutfiani Eka Putri harus merelakan kepergian Deryl Fida Febrianto yang baru dua pekan menikahinya. Sang suami pun urung menjalani pekerjaan pertamanya. Deryl menjadi salah seorang korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

HISYAM, Surabaya

Tak Sempat Bulan Madu, Deryl Tinggalkan Istri yang Baru Dinikahi
Foto pernikahan Deryl Fida Febrianto dengan Lutfiani Eka Putri yang dilangsungkan 2 pekan lalu. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)

Halah lapo apik-apik juga,” ucap Lutfiani membacakan jawaban yang dikirim suaminya. Pesan itu dikirim Deryl untuk menjawab pertanyaan Lutfiani.

Sebelumnya, perempuan 23 tahun itu sempat bertanya mengenai baju yang dikenakan Deryl. Sang suami pun menjawab bahwa dirinya memakai baju tentara.

Jawaban itulah yang kemudian membuat Lutfiani bertanya lagi. Dia bertanya kenapa harus memakai baju tersebut. Dan seperti yang diucapkan Lutfiani itulah jawaban laki-laki yang menikahinya 15 Oktober 2018 tersebut.

Rupanya, jawaban itu menjadi percakapan terakhir Lutfiani dengan Deryl. Setelah itu, tidak ada percakapan lagi. Sebab, setelah menjawab pertanyaan soal baju tersebut, Deryl sudah terbang. Saat keduanya saling berkirim pesan, posisi Deryl ada di dalam pesawat. Dia hendak terbang dari Jakarta ke Pangkalpinang. Menumpang pesawat Lion Air JT 610.

Lutfiani pun membayangkan laki-laki yang dicintainya itu menikmati perjalanannya. Sebelum akhirnya telepon dari sang mertua, Didik Setiawan, menggagetkannya. “Tiba-tiba bapak mertua telepon, suruh lihat berita,” ujar Lutfiani.

Kemudian, dia menghidupkan televisi dan menonton berita. Ternyata ada kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 penerbangan Jakarta-Pangkalpinang. Lutfiani kaget dan badannya mendadak lemas. Dalam kondisi seperti itu, dia lantas mengecek foto tiket pesawat yang dikirim sang suami sehari sebelumnya. Ternyata pesawat yang ditumpangi suaminya itu adalah pesawat yang dikabarkan jatuh tersebut.

Sontak Lutfiani menangis pilu. Tangis Lutfiani mengagetkan ibu mertuanya, Saining. Apalagi, perempuan 44 tahun tersebut juga mendengar kabar dari televisi tentang jatuhnya pesawat Lion Air tersebut. Saining pun ikut lemas. Bahkan, dia sampai terjatuh dari kasur.

Meski sudah melihat foto tiket pesawat yang ditumpangi Deryl, Lutfiani masih tak menyangka bahwa pesawat yang jatuh adalah pesawat yang ditumpangi suaminya. Air mata pun terus mengalir dari matanya. Terlebih ketika para tetangga datang menyampaikan belasungkawa.

Di mata Lutfiani, Deryl merupakan sosok pemaaf, humoris, dan tidak egois. “Apa pun kesalahan saya, dia nggak pernah ngomel. Malah saya yang sering ngomel sama dia,” ujarnya sambil mengusap air mata.

Kesedihan juga dirasakan Didik Setiawan. Meski tampak berusaha tegar saat menerima para tetangga, Didik tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihan atas peristiwa yang menimpa putra pertamanya tersebut. Sesekali dia mengelus dada dan memegang kepala. “Saya nggak menyangka saja kalau bakalan jadi begini,” tutur pria 45 tahun itu.

Deryl berangkat ke Jakarta 17 Oktober 2018. Atau dua hari setelah hari pernikahan. Dia berangkat dari rumahnya di Simopomahan, Surabaya, ke Bandara Juanda sekitar pukul 04.00. Dia berangkat diantar keluarganya. Deryl ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja sebagai juru mudi di PT Pelayaran Gebejaya Sejati. Itu pekerjaan pertamanya.

Sebelum berangkat, tidak banyak pesan yang disampaikan. Dia hanya berkata kepada orang tua dan keluarga lainnya, titip sang istri. “Saya titip istri saya, jaga dia baik-baik,” ujar Lutfiani mengulang ucapan suaminya kepada orang tuanya sebelum berangkat.

Dari Jakarta, Deryl lalu terbang ke Pangkalpinang. Sebelum ke Pangkalpinang, dia menginformasikan kepada istrinya akan berangkat ke Pangkalpinang pada 29 Oktober 2018. Dia mengabarkan akan memulai pekerjaan di sana sebagai juru mudi kapal. Di Pangkalpinang, Deryl akan tanda tangan kontrak dan akan membawa kapal dari Pangkalpinang ke Singapura. “Jelasnya kurang tahu, informasi terakhir dari suami saya seperti itu,” tutur Lutfiani.

Mengetahui jadwal keberangkatan, Senin pagi (29/10) Lutfiani sempat menelepon suaminya agar segera bangun dan bersiap-siap. Sebab, jadwal keberangkatannya sekitar pukul 06.10. Saat sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Deryl sempat mengirim beberapa foto ke istrinya.

Salah satunya foto saat berada di ruang tunggu bandara. Setelah beberapa saat, Deryl mengirim dua foto sayap pesawat yang diambil lewat jendela pesawat. Selain itu, foto pesawat yang diambil dari apron dan dua foto selfie ketika duduk di atas kursi pesawat. Satu dari foto itu juga dikirim ke bapaknya.

Dari sekian banyak foto tersebut, Lutfiani sempat merasa heran. “Kok tumben ya dia ngirim foto pesawat segala, padahal kalau naik pesawat sebelumnya juga nggak begini,” ujarnya. “Biasanya, hanya foto selfie, nggak sedetail itu,” tambahnya.

Setelah mengirim foto, Deryl terlibat percakapan dengan Lutfiani. Percakapan itu seputar rambut dan pakaian yang dikenakan Deryl. Istrinya sempat bertanya, kenapa rambutnya acak-acakan. Deryl menjawab itu karena empasan angin selama perjalanan dari mes ke bandara. “Pesannya disertai emotikon ketawa gitu,” ujarnya.

Sementara itu, keluarga besar Slamet dan Kartini, orang tua pramugari Alfiani Hidayatul Solikah, di Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Madiun, berharap-harap cemas. Kemarin perwakilan keluarga berangkat ke Jakarta untuk mencari informasi tentang kondisi Alfiani yang merupakan salah seorang korban kecelakaan Lion Air. “Kakak sepupunya perjalanan ke Jakarta untuk memastikan,” kata Sukarno, paman Alfi, sapaan Alfiani.

Keluarga Alfi menutup diri terhadap awak media ketika rumahnya dikunjungi kemarin siang. Mereka menolak membicarakan gadis yang genap 20 tahun pada Desember nanti itu. Baik ketika ditanya seputar awal mula keluarga memperoleh kabar duka tersebut maupun sosok Alfi di mata keluarga dan kerabatnya. Sukarno menyatakan, keluarga masih shock. “Mohon doanya agar kondisinya (Alfi, Red) baik-baik saja,” ujarnya.

Wijayanti, saudara sepupu Alfi, mengungkapkan bahwa kabar duka itu datang langsung dari manajemen Lion Air. Maskapai penerbangan tersebut menyampaikan berita duka lewat sambungan telepon bahwa Alfi menjadi salah seorang korban pesawat jatuh.

Padahal, beberapa saat sebelum kejadian atau menjelang pesawat lepas landas, Alfi sempat menelepon Wijayanti. Tidak banyak yang diobrolkan. Alfi sebatas mengabarkan bahwa dirinya hendak terbang ke Pangkalpinang, Bangka Belitung. “Tidak ada pembicaraan yang aneh, biasa saja. Sekadar say hello tanya kabar,” ungkapnya.

Pada bagian lain, seorang penumpang Lion Air yang jatuh merupakan warga Bangkalan. Dia adalah Rabagus Noerwito Desiputra, teknisi maintenance Lion Air. Pria kelahiran 5 Desember 1991 tersebut bergabung dengan maskapai penerbangan Lion Air sejak tujuh tahun silam.

Muhammad Noerachman, 52, ayah Rabagus, mengaku kaget mendengar informasi bahwa pesawat yang ditumpangi anaknya dikabarkan jatuh. Dia mengaku baru mendengar kabar duka itu dari salah seorang anggota keluarga sekitar pukul 09.30 kemarin. Upaya menghubungi Rabagus dilakukan, tapi tidak bisa tersambung.

“Saya baru menerima informasi bahwa anak saya pesawatnya terbang, kemudian hilang kontak. Dari keluarga informasinya,” ujar pria yang tinggal di Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan, itu kepada Jawa Pos Radar Madura. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (bad/hud/c9/c10/fim/agm)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Tak Sempat Bulan Madu, Deryl Tinggalkan Istri yang Baru Dinikahi