alexametrics

Para Relawan Asing Membuat Keran Air untuk Anak – Anak Simokerto

Dibikin Warna - warni supaya Lebih Menarik
29 November 2019, 19:18:49 WIB

Sebanyak 20 relawan dari berbagai negara berkunjung ke Kecamatan Simokerto kemarin (28/11). Para aktivis yang didatangkan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan perusahaan Jebsen & Jessen itu bersemangat membuat keran air sebagai upaya mereka mengampanyekan cuci tangan kepada anak-anak.

EKO HENDRI SAIFUL, Jawa Pos

PERLU waktu lama bagi Rod Pagkalinawan dan rekan-rekannya untuk membuat keran air. Mereka sempat berdebat sebelum memulai pekerjaan. Sebab, yang dibangun bukan sekadar tempat cuci tangan biasa. Melainkan, keran air yang menarik dan mampu mendorong anak-anak untuk gemar cuci tangan.

Rod, satu-satunya relawan laki-laki di kelompoknya, lantas mengambil keputusan. Dia mengambil telepon genggam, menaiki tangga, dan menuliskan lima kata di dinding Balai RW 3 Kelurahan Tambakrejo. Yakni, basahi, sabuni, cuci, bilas, dan kering.

”Saya pengin pakai bahasa Filipina. Tapi, katanya tidak boleh,” ungkap Rod dalam bahasa Inggris sambil melucu. Candaan itu tentu saja membuat rekan-rekannya tertawa. Mereka sempat berniat mengecat muka Rod. Namun, niat tersebut dibatalkan. Han Nguyen Nguyen, Hazliyana Latip, Cyntia Lestari, dan Zhen Dong Ji lantas mengambil kuas dan ikut membantu Rod mengecat. Selama dua jam, Rod dan kawan-kawan menghias dinding balai RW Mereka dituntut untuk mengubah tembok yang semula kusam jadi menarik. Tujuannya, anak-anak tertarik dan memanfaatkan keran yang berada di bawahnya untuk cuci tangan.

”Pastinya anak-anak suka warna yang terang. Makanya saya menonjolkan warna kuning,” kata Rod yang dipercaya sebagai desainer kemarin. Pria berusia 27 tahun itu menjelaskan, pesan yang tertulis di dinding harus jelas. Karena itu, dia berkali-kali browsing di internet agar kata-katanya tak salah. ”Saya takut jika urutan katanya salah. Saya belum mahir bahasa Indonesia,” jelas Rod.

Hal yang tak jauh berbeda disampaikan Hazliyana Latip. Relawan asal Malaysia itu mengaku gugup saat menuangkan cat. Maklum, itu bukan pekerjaannya sehari-sehari. Selain itu, perempuan yang bekerja sebagai tenaga administrasi tersebut sudah lama tidak menggambar.

”Kebetulan saya alergi menggambar. Makanya hasilnya agak kurang bagus,” tutur Hazliyana sambil mengoleskan cat ke tembok. Baginya, aktivitas membuat keran cukup mengesankan. Selain dituntut kreatif, para relawan harus kompak dalam bekerja.

Program pembangunan keran air di Simokerto diikuti 20 relawan asing. Mereka dibagi dua lokasi. Dua kelompok di Kelurahan Tambakrejo, sisanya di Sidodadi. Meski berbeda lokasi, tugas relawan sama. Mereka harus membuat keran air untuk anak-anak. Waktunya selama seminggu. Para relawan tidak sendirian. Mereka dibantu masyarakat Simokerto.

Selain membuat fasilitas kebersihan, relawan mengadakan bakti sosial. Mereka membantu pembangunan IPAL di Simokerto. Para volunter juga harus menampilkan kreasi mereka saat hari perpisahan pada Sabtu (30/11). Boleh menyanyi, berdansa, atau lainnya.

Ajeng Danastri, manajer program area Surabaya WVI, berharap keran air itu bisa dimanfaatkan masyarakat. Terutama anak-anak usia 4–12 tahun. Sebab, mereka perlu hidup bersih untuk terhindar dari sakit.

”Keran air di empat lokasi itu bisa menjangkau 200 anak. Kami berharap sarana dimanfaatkan sebaik-baiknya,” kata Ajeng. Menurut dia, program sosial pembangunan keran air dilatarbelakangi banyak hal. Salah satunya masih kurangnya fasilitas sanitasi dasar di Simokerto.

Mengacu survei WVI, baru 19,8 persen rumah tangga di Simokerto yang memiliki fasilitas sanitasi dasar. Mereka belum sadar akan pentingnya mencuci tangan setiap hari. ”Dari survei kami, tingkat kebiasaan mencuci tangan orang tua atau pengasuh baru 37,3 persen,” kata Ajeng.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c6/tia



Close Ads