alexametrics

Paramedis Jalanan Surabaya, Bekerja untuk Kemanusiaan saat Unjuk Rasa

29 Oktober 2020, 07:48:04 WIB

Atas dasar kemanusiaan, paramedis jalanan berhimpun untuk menolong mereka yang menjadi korban saat demonstrasi berlangsung. Kini paramedis jalanan Surabaya beranggota lebih dari 60 orang yang terdiri atas mahasiswa, dokter muda, perawat, bidan, dan buruh.

MUHAMMAD AZAMI RAMADHAN, Surabaya

Lakban merah berbentuk palang menempel di tas dan lengan kiri. Tidak hanya itu, lakban merah juga menempel di helm proyek milik beberapa personel relawan. Itu bukan sembarangan tanda. Melainkan tetenger bagi mereka yang mendedikasikan dirinya sebagai relawan medis.

Para relawan itu muncul di tengah-tengah aksi demonstrasi. Terkadang juga berkeliling. Tujuannya satu, memastikan massa aksi baik-baik saja. Juga menjadi orang pertama yang memberikan pertolongan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan, mereka rela menerjang gas air mata jika mendapat laporan adanya massa aksi yang terluka. ”Kami sering mobile. Kalau ada yang butuh bantuan, ya kami datang,” terang Monica Putri saat ditemui akhir pekan lalu.

Dia merupakan satu di antara puluhan paramedis jalanan Surabaya yang tak pernah absen bekerja. Termasuk saat aksi penolakan UU Cipta Kerja pada 8 Oktober lalu di Surabaya yang berakhir chaos.

Sebelum gas air mata pertama pecah di depan Grahadi, paramedis jalanan menangani beberapa mahasiswa yang terluka, seperti terkena pagar pembatas berduri dan kelelahan.

Selanjutnya, mereka menangani demonstran yang sesak dan mata perih akibat terkena gas air mata. Bahkan, massa yang terluka karena pagar berduri bertambah.

Prosedur utama yang mereka lakukan ketika terjadi chaos adalah melakukan evakuasi terlebih dahulu, baru memberikan pertolongan. Tak hanya mahasiswa tentunya, evakuasi juga dilakukan kepada tukang soto dan PKL di sekitar lokasi tersebut.

Sebelum aksi tolak omnibus law pada 8 Oktober berlangsung, paramedis jalanan memprediksi bahwa aksi tersebut bakal berakhir chaos. Sebab, aksi yang berlangsung di beberapa kota lain juga berakhir ricuh. Kata dia, tidak tertutup kemungkinan aksi di Surabaya berakhir ricuh.

”Sebenarnya, siapa sih yang ingin chaos? Nggak ada. Cuma, intensitas beberapa aksi di kota lain tinggi. Jadi, lebih bersiap,” ujarnya.

Sebelum 8 Oktober itu, beberapa flayer rekrutmen sudah disebar. Lebih dari 100 orang mendaftar. Mayoritas adalah mahasiswa. Karena persiapan terlalu mepet, pihaknya tidak sempat membuat agenda pertemuan untuk memperkuat bounding antar-relawan. Skrining hanya dilakukan melalui media sosial (medsos).

Lalu, dilakukan pembagian tim untuk teknis. Misalnya, dibentuk tim Mutual Aid Medic (MAM) dan tim Tear Gas Defensive (TGD). Juga disiapkan pemetaan jalur evakuasi dan posko lapangan. Perlengkapan medis sebanyak tujuh kit standar P3K, seperti kasa perban, plester, revanol, alkohol murni, dan obat merah, dibagi sesuai jumlah tim yang ada.

Ditambah memperbanyak tabung gas oksigen, cokelat, dan susu. Kemudian, bersiap dengan cairan antacid dan saline water untuk menetralisasi efek racun dari gas air mata di sekitar wajah dan kepala.

Namun, karena sebelumnya di Surabaya belum pernah chaos yang mampu mengubah jalanan bak arena pertempuran, skema penanganan yang mereka buat pun belum berjalan maksimal. Dia menjelaskan, dua tim khusus itu memang sengaja dibentuk sesuai kebutuhan. Misalnya, tim TGD membawa dry bag yang berisi air. Tujuannya, meredam gas air mata yang dilontarkan aparat dengan memasukkan gas tersebut ke kantong.

Banyak hal yang membuat relawan paramedis jalanan Surabaya tetap bertahan hingga saat ini. Terhitung sejak aksi pertama paramedis pada 29 September 2019. Dukungan moral demonstran menjadi semangat tersendiri. Terlebih, mampu membawa demonstran terluka ke rumah sakit dan mengetahui keadaannya menjadi lebih baik.

Bahkan, mampu menghimpun puluhan juta rupiah untuk membantu biaya pengobatan para demonstran.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads