alexametrics

Di Balik Aktivitas Donor Kornea, Kegigihan dan Keikhlasan (1)

29 Juni 2022, 07:48:45 WIB

Berpacu dengan waktu. Begitulah yang harus dilakukan oleh tim eksisi kornea RS Mata Undaan. Terkadang keluarga yang sedang berduka pun dikesampingkan. Sebab, kornea harus diambil maksimal enam jam setelah kematian pendonor.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

PERASAAN gugup kala itu dikenang Rizal Maulana di sebuah rumah di Sidoarjo. Tepatnya, setahun yang lalu. Ketika itu keringat dingin deras mengalir.

Maklum saja, tindakan pengambilan kornea waktu itu dilakukan di depan anggota keluarga pendonor. Sebenarnya, ada sekat yang terpasang agar tindakan pengambilan kornea tak terlihat. Namun, kadang kala ukurannya yang kecil membuatnya tak bisa menutupi kegiatan tersebut.

Karena itu, kesedihan ahli waris dan pandangan mereka yang datang melayat harus dikesampingkan. Dalam melakukan tindakan, Rizal tidak sendirian. Dia ditemani Fajar Santoso, rekannya yang sama-sama bekerja di RS Mata Undaan.

Saat ada pendonor yang meninggal, biasanya pengambilan kornea dilakukan tiga orang. Dua orang masing-masing mengambil kornea kanan dan kiri. Seorang lagi melakukan pengawasan sekaligus membimbing.

Beda halnya dengan Rizal. Fajar lebih tenang. Maklum, dia pernah melakukan eksisi kornea pada 2019 di Malang.

Dalam pengambilan kornea, tim eksisi juga didampingi perwakilan dari sekretariat Cornea Donation Center (CDC) Fitri Oktaviani. CDC adalah wadah untuk pendonor kornea. Sekaligus menyalurkan kornea bagi yang membutuhkan.

Kedatangan Fitri bukan untuk ikut melakukan tindakan. Tetapi, menenangkan ahli waris. Suasana emosional begitu terasa. Keluarga memang sudah ikhlas. Bahkan bangga. Sebab, kornea bisa dimanfaatkan bagi yang membutuhkan.

Kejadian penolakan tim eksisi dari ahli waris memang belum pernah terjadi. Sebab, calon pendonor (caldon) mengomunikasikannya dengan keluarga sejak lama saat mereka hidup. Tak sedikit pula yang membentuk komunitas.

Tim eksisi datang juga karena ditelepon keluarga. Ibaratnya, sudah berwasiat. Caldon dilengkapi tanda khusus. Bentuknya mirip e-KTP. Kartu itu memang harus melekat pada e-KTP. Tujuannya, jika caldon meninggal, orang di sekitarnya bisa menghubungi nomor telepon tersebut.

Nomor itu adalah nomor telepon Bank Mata Indonesia. Setelah dihubungi, Bank Mata Indonesia akan menyesuaikan lokasi pendonor yang meninggal. Kalau di Jatim, otomatis dihubungkan dengan CDC RSMU.

Tim eksisi selalu berpacu dengan waktu. Pengambilan kornea dilakukan maksimal enam jam setelah kematian pendonor. Lebih dari itu tidak bisa digunakan. Karena itu, tim eksisi kapan pun harus siap bertugas. Termasuk jika ada caldon yang meninggal pada dini hari.

Saat ini, kata Fajar, tidak semua kota atau kabupaten di Jatim memiliki tim eksisi. Yang ada hanya di Surabaya. Tentu agak kerepotan kalau pendonor berada jauh di luar kota ini.

Tim eksisi juga pernah pulang tanpa membawa kornea. Tepatnya akhir Mei lalu. Seorang caldon meninggal karena kecelakaan pada dini hari. Pihak CDC baru dihubungi pukul 09.00 WIB. Saat berada di kamar jenazah, petugas tidak bisa melakukan pengambilan eksisi.

Rizal yang saat itu datang ke lokasi bercerita, petugas belum mengizinkan eksisi kornea sebelum ada keluarga inti datang. Meskipun izin sudah diberikan melalui telepon. ’’Ya, akhirnya kami pulang,’’ kata pria asal Madura itu.

Salah satu anggota tim eksisi kornea RSMU Habibiy menceritakan, waktu itu tim sudah berada di RSUD Ibnu Sina. Petugas belum bisa mengambil kornea. Sebab, ada ahli waris yang masih di perjalanan dalam pesawat. Sementara itu, keinginannya adalah melihat jenazah dalam kondisi utuh.

Karena berpacu dengan waktu, akhirnya ahli waris melakukan video call. Setelah itu, baru dilakukan tindakan. Sampai saat ini, kata dia, belum ada penolakan. Meskipun, cerita seperti itu sering terdengar di banyak tempat.

Tindakan eksisi memang baru sekali dilakukan Habibiy. Dia lebih banyak datang ke lokasi untuk membimbing. Selain peralatan, tim juga membawa media untuk tempat kornea. ’’Maksimal 14 hari pengambilan, kornea harus dimanfaatkan,’’ ucap Habibiy yang merupakan staf kamar bedah di RSMU.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini: