alexametrics

Cara Bhabinkamtibmas Bantu Kampung RW 6 Rangkah, Atasi CoviD-19

Masuk Kampung, Warga Luar Harus Titip KTP
29 Juni 2020, 04:04:22 WIB

Kompak dan tertib. Kiat itu dipegang teguh oleh warga Rangkah Buntu, RW 6, dalam mengatasi persebaran Covid-19. Lewat kampung tangguh, mereka swadaya mencukupi kebutuhan warga terdampak dan menerapkan sistem satu pintu kampung untuk mencegah persebaran.

EDI SUSILO, Surabaya

’’Hayo, maskermu endi? Gak gawe masker mbalek. Nggak boleh masuk kampung,’’ tegas Brigadir Suyono kepada dua pemuda yang melintas tanpa masker di Jalan Rangkah Buntu II pada Jumat siang (26/6). Yang ditanya hanya cengengesan sambil menjawab singkat, ’’Lupa, Pak’’.

Awalnya, mereka tetap memelas minta tetap diperbolehkan masuk. Namun, Suyono dengan tegas meminta mereka putar balik karena tidak memakai masker. ’’Kalau kalian pakai masker, pasti saya izinkan,’’ tuturnya.

Dua pemuda yang tidak memakai masker siang itu memang tampak aneh. Sebab, mayoritas warga yang melintas di Jalan Rangkah Buntu II telah tertib mengenakan masker. Bahkan, tanpa diperintah, beberapa warga sudah hafal prosedur masuk kampung mereka.

Berhenti di depan petugas, turun dari motor, lalu mencuci tangan di wastafel di samping pos. Setelah itu, motor baru dinyalakan lagi. Jika ada warga yang bawa barang bawaan, mereka tidak perlu turun dari kendaraan. Petugas pos akan langsung mendatangi dan memberikan cairan hand sanitizer kepada warga. ’’Biar enggak kerepotan turunkan barang,’’ kata Suyono sambil memencet botol hand sanitizer untuk disemprotkan ke tangan seorang warga yang melintas.

Bersama Joko, petugas sekuriti kampung, Suyono bergantian mengatur lalu lintas warga kampung.

Setiap hari bapak tiga anak itu ikut berjaga di Rangkah Buntu bersama warga kampung. Kadang dia datang pagi. Namun, jika ada tugas dari Polsek Tambaksari, Suyono biasanya datang pada malam hari dan ikut berjaga bersama pengurus RT di posko.

Posko Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo RW 6, Kelurahan Rangkah, dijaga warga secara bergantian selama 24 jam nonstop. Penjagaan digilir, mulai petugas sekuriti, pengurus RT, hingga ibu-ibu PKK. Semuanya menjaga satu pintu tersebut lantaran dua akses lain menuju kampung ditutup warga. Akses keluar-masuk warga hanya satu. ’’Kami di sini memberlakukan one gate system,’’ ujar Bhabinkamtibmas Kelurahan Rangkah tersebut.

Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan warga, Suyono menjelaskan bahwa saat ini kampung menerapkan presensi dan titip KTP. Bagi warga luar yang ingin masuk kampung, KTP bakal dikembalikan setelah warga tersebut pulang. Semuanya dibuat untuk mengontrol akses keluar-masuk warga. Terutama orang luar agar terdata warga kampung. Jadi, jika terjadi hal yang tidak diinginkan, warga sudah bisa mengetahui orang yang bersangkutan.

Selain kesiapan berjaga dan memperketat keamanan, RW 6, Rangkah Buntu, sukses menjadi kampung tangguh berkat kekompakan warga. Mereka saling peduli. Misalnya, yang bisa dilihat dari kekompakan warga bahu-membahu mencukupi kebutuhan mereka yang karantina mandiri di rumah. Bulan lalu, saat rapid test, 12 warga RW 6 dinyatakan reaktif. Di luar itu, ada lima warga yang dinyatakan positif. Warga mengantarkan makanan tiga kali sehari ke rumah warga yang reaktif dan positif selama dua pekan. Semua biaya makan itu berasal dari urunan warga kampung yang dikoordinasi RT.

Selain masalah penanganan Covid-19, kekompakan warga tampak ketika ada tetangga yang meninggal. Warga juga inisiatif menanggung total biaya penguburan dan tahlilan hingga tujuh hari. Makanan untuk acara tahlilan juga langsung dimasak warga. ’’Kami ingin meringankan kesedihan keluarga yang ditinggalkan,’’ tutur Koordinator Emak-Emak Rangkah Buntu Yetty Wachid.

Ketua RW 6, Rangkah Buntu, Sigit Sudartono menyatakan bahwa kesiapan warga untuk antisipasi memang dilakukan jauh-jauh hari. Bahkan sebelum ditemukan kasus positif di Surabaya. ’’Awal Maret kami sudah bikin skema one gate system,’’ ungkapnya. Langkah itu diambil untuk mencegah penularan Covid-19 sekaligus mempermudah kontrol aktivitas warga. Karena itu, perlu ada satu akses keluar-masuk.

Gotong royong juga dilakukan untuk pembelian disinfektan. Dalam sehari, setidaknya dibutuhkan 100 liter cairan disinfektan untuk mensterilkan permukiman dan jalan lewat posko. Seluruh kegiatan itu murni inisiatif warga.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git



Close Ads