JawaPos Radar

Masjid Nurul Jalal

Masjid Tertua di Kabupaten Tebo yang Tetap Ramai Jamaah

29/06/2017, 17:01 WIB | Editor: Mochamad Nur
Masjid Tertua di Kabupaten Tebo yang Tetap Ramai Jamaah
Masjid Nurul Jalal di Kabupaten Tebo yang butuh perhatian karena terancam longsor sungai Batanghari (Dok.Jambi Ekspres/JPG)
Share this image

JawaPos.com- Memiliki sejarah tersendiri, Masjid Nurul Jalal di Desa Jayo, Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo merupakan masjid tertua di Kabupaten Tebo. Sejarah mencatat masjid ini sebagai tempat pengajian para ulama dan pendiri Pondok Pesantren di Kabupaten Tebo.

MUHAMMAD HAFIZH ALATAS

BERADA tepat di bibir sungai Batangahari, kondisi masjid Nurul Jalal sangat memprihatinkan. Masjid tertua di Kabupaten Tebo itu nyaris runtuh ke sungai Batanghari. Pasalnya, tebing di sebelah masjid sudah mulai terkikis. Kini hanya tinggal beberapa jengkal tebing saja untuk menopang bangunan masjid tersebut.

Kondisi itu sudah terjadi sejak lama. Mulai maraknya Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Tebo, tebing-tebing Desa Mangun Jayo sudah mengalami longsor, termasuk tebing masjid Nurul Jalal itu. Hingga saat ini masjid itu masih tetap berdiri kokoh.

Masjid tersebut masih tetap aktif digunakan untuk beribadah. Uniknya pada setiap hari raya Idul Fitri, masjid itu di khususkan untuk tempat salat Ied nya perempuan di Desa Mangun Jayo.

Meski kondisinya berada di bibir sungai, tidak menyurutkan niat masyarakat Mangun Jayo memenuhi masjid untuk beribadah. Masjid Nurul Jalal itu, saat ini memang bukan masjid utama di Desa Mangun Jayo, karena di Desa itu sudah didirikan masjid baru yang tidak jauh dari masjid Nurul Jalal. Masjid Nurul Jalal itu biasa disebut majid lamo oleh warga sekitar.

Masjid yang didirikan sebelum Indonesia merdeka itu, baru mengalami sekali pemugaran. Wujud aslinya tidak mengalami perubahan. Pemugaran pada tahun 1978 silam merupakaan hasil swadaya masyarakat Desa itu sendiri.

“Sebelum saya lahir masjid itu sudah ada. Masjid itu sudah berdiri sebelum tahun 1945,” kata Razali, Imam di Desa Mangun Jayo sebagaimana dilansir Jambi Ekspres (Jawa Pos Group), Kamis (29/6).

Kata dia, masjid itu dulunya merupakan pusat pengajian di Desa Mangun Jayo. Banyak ulama-dan pendiri pondok pesantren di Jambi ini lahir dari masjid lamo itu.

“Masjid lamo itu dulunya pusat peribadatan umat muslim di Kabupaten Tebo,” imbuh Razali.

Basit, Kepala Desa Mangun Jayo menambahkan, menurut sejarah, dulunya lantai masjid lamo itu setinggi dua meter, namun dilakukan pemugaran pada 1978, oleh masyarakat dijadikan lantai semen.  “Pemugarannya swadaya masyarakat,” kata Basit. (nas/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up