Saatnya Surabaya Punya Badan Pengelola Cagar Budaya

29 Mei 2022, 19:09:49 WIB

ARTI penting Surabaya dalam lintasan jalur rempah Nusantara diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 akan start dari Surabaya pada 1 Juni. Menumpang KRI Dewa Ruci, para anggota Laskar Rempah dari 34 provinsi akan singgah di lima pelabuhan penting lainnya. Makassar, Baubau–Buton, Ternate–Tidore, Banda, dan Kupang.

Jalur rempah di Kalimas juga menyemarakkan kampung-kampung kuno di Surabaya. Utamanya, kampung yang menjadi tempat bermukim para pedagang asing. Di kampung-kampung itulah jejak rempah tertinggal. Ampel salah satunya.

Terik matahari sudah menyengat kulit saat Jawa Pos sampai di kawasan Ampel. Gapura di Jalan Sasak yang menyambut para peziarah menuju Makam Sunan Ampel menarik perhatian. Lima relief menghiasi gapura tersebut. “Ada lambang cengkih di relief itu,” kata Ketua Begandring Soerabaia Nanang Purwoko yang menemani Jawa Pos menyusuri Ampel kemarin (28/5).

Penggiat budaya itu menerangkan bahwa relief cengkih tersebut merupakan jejak jalur rempah di Surabaya. Cengkih merupakan komoditas yang banyak dan sering digunakan di kawasan Ampel. Tepatnya, pada abad ke-15. “Itu bersamaan dengan waktu pembangunan gapura di kompleks Ampel,” terangnya.

Pria 55 tahun tersebut mengatakan, Ampel tidak kalah penting dari Kalimas. Di sanalah pusat transaksi rempah Nusantara pada abad ke-16 sampai abad ke-17. Penguasa Surabaya pada masa itu bermitra dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). “Seperti yang dituliskan di buku Oud Soerabaia,” tegasnya.

Kemarin Nanang menyatakan apresiasinya kepada Kemendikbudristek yang memilih Surabaya sebagai titik keberangkatan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022. Itu selaras dengan program pemerintah sejak 2020 untuk mempromosikan jejak rempah Nusantara. Tujuannya adalah penetapan Indonesia sebagai titik tolak jalur rempah dunia oleh UNESCO pada 2024. “Jangan sampai nanti UNESCO lebih memilih India atau Afrika,” harapnya.

Terpisah, Kurcarsono Prasetyo menegaskan bahwa Pemkot Surabaya sudah harus mengambil langkah konkret untuk mengangkat peran penting Kota Pahlawan dalam sejarah Nusantara. Yakni, dengan membentuk badan pengelola sejarah. Khususnya, untuk menelusuri dan menelisik lokus-lokus penting jalur rempah Nusantara di Surabaya.

“Candi Borobudur dan Prambanan sudah ada pengelolanya. Kini saatnya jejak rempah Surabaya juga ada,” ungkap lelaki yang menginisiatori lahirnya Begandring Soerabaia itu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sam/c6/hep

Saksikan video menarik berikut ini: