alexametrics

Dari Jakarta ke Surabaya dengan Bus Melintasi Tol Trans-Jawa

Jangan Asal Ngebut, Amannya 80-100 Km/Jam
29 Mei 2019, 11:57:18 WIB

Bagian jalan tol yang masih cor semen dan minimnya penerangan di sejumlah titik harus jadi perhatian para calon pemudik yang akan melintasi tol dari Jakarta ke Surabaya.

Agas Putra hartanto, Jakarta

DI pinggir tol Bojong, Pekalongan, bus itu berhenti. Toni Budianto, si sopir, bergegas turun sembari membawa semacam bingkisan yang dibungkus tas plastik.

Lalu sedikit menuruni pagar pembatas tol. Sampai tak terlihat lagi. Namun, tak lama. Tak sampai 15 menit, Toni sudah naik lagi, kembali ke kursi pengemudi, dan perjalanan pun berlanjut.

”Istri diantar anak pertama saya nyegat di bawah tol. Ketemu sebentar ngasih uang THR (tunjangan hari raya),” katanya berjam-jam kemudian saat saya ajak berbincang ketika bus mulai masuk Surabaya.

Pada Senin lalu (27/5) dan Selasa siang kemarin itu, Toni bersama koleganya, Bambang Sugiarto, bergantian menyopiri Bus Lorena. Bus yang saya tumpangi bersama fotografer Imam Husein tersebut berangkat dari terminal bayangan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Dengan tujuan akhir Sumenep, di ujung timur Madura.

Bambang mengemudi dari Jakarta sampai Caruban, sedangkan Toni mulai Caruban hingga Sumenep. Dengan bus berpenumpang 40 orang itu, kami menempuh perjalanan melintasi tol trans-Jawa.

Sebenarnya bukan kali itu saja Toni dan Bambang melintasi tol dengan total panjang 840 kilometer tersebut. Sudah berkali-kali, sejak tol itu diresmikan. Tapi, di hari yang sama Senin lalu itu, kebetulan memang ada seremoni pemberangkatan bus trans-Jawa yang mengangkut pemudik oleh Kementerian Perhubungan.

***

Petugas ketika melakukan uji kelayakan bus yang akan digunakan untuk ankgutan mudik Lebaran 2019 di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Tiket bus kelas eksekutif itu dibanderol Rp 485 ribu. Dengan harga tersebut, penumpang mendapat dua kali makan, di Indramayu dan Caruban.

Lengkap dengan selimut dan bantal yang telah disediakan. Bahan kursi terbuat dari kain beludru berwarna ungu. Membuat kursi terasa empuk, nyaman, dan terkesan elegan.

Sayang, lorong penumpang tidak terlalu luas. Hanya cukup dilalui satu orang dengan membawa barang. Kabin bagian dalam bus juga sempit. Hanya mampu menampung tas berukuran kecil. Tak ayal, banyak pemudik yang meletakkan barang bawaan di bawah kursi mereka.

Saat menunggu keberangkatan, cukup banyak penjual yang masuk ke dalam bus menjajakan barang dagangan. Ada makanan ringan, minuman, hingga buku dengan berbagai judul dan tema sebagai bacaan. Bagi orang yang baru pertama naik bus, mungkin hal itu akan membuat sedikit kurang nyaman.

Kami berangkat meninggalkan terminal pada Senin siang sekitar pukul 12.00. Tidak langsung masuk tol, tapi mampir dulu ke agen terakhir di Cilandak untuk menaikkan menumpang. Barulah kemudian masuk pintu tol, sekitar 45 menit setelah meninggalkan terminal.

Bambang maupun Toni sama-sama menggeber bus dengan kecepatan 80 hingga 100 km per jam. “Kecepatan amannya segitu. Nggak asal ngebut. Agar membuat nyaman penumpang,” tutur Toni sembari mengemudi.

Selain itu, demi menjaga usia mesin agar tetap awet. “Kalau digeber 100 km per jam terus cepat panas to. Itu yang bikin cepat rusak,” imbuhnya.

Tol trans-Jawa membentang dari Jakarta sampai Probolinggo, Jawa Timur. Yang harus diingat, pengemudi tak boleh terlena dengan kondisi jalanan. Karena tidak semuanya mulus.

Misalnya, kondisi jalan dari Jakarta-Cikampek hingga Cipali (Cikopo-Palimanan) agak bergelombang. Di sana ditemukan banyak tambalan aspal baru.

Bagi mereka yang akan mudik dari Jakarta via tol dengan mobil pribadi, yang perlu diingat lagi, sepanjang tol trans-Jawa tidak semuanya beraspal. Rangkaian tol baru mulai Pemalang, Jawa Tengah, hingga Surabaya masih cor semen.

Ban akan lebih cepat panas ketika melintasi jalanan cor daripada aspal. “Cor permukaannya kan tidak mulus kayak aspal. Ibarat kelapa diparut, parutannya itu jalan cor,” terang Toni yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah.

Jika mobil terus digeber dalam jangka waktu yang panjang, tidak tertutup kemungkinan ban mudah pecah. Untuk antisipasinya, Toni menyarankan agar sempatkan mobil diistirahatkan dua hingga empat kali di rest area. Jika tujuan akhir hingga Surabaya atau Probolinggo mungkin bisa lebih. Selain itu, harus memikirkan kondisi pengemudi. Baik fisik, psikis, maupun konsentrasi.

Penerangan sepanjang tol trans-Jawa juga terbilang kurang. Hanya bisa ditemukan ketika akan melintasi simpang susun, gerbang tol, dan sekitar rest area. Jika memutuskan untuk menempuh perjalanan malam, Toni mengimbau agar kondisi pengemudi benar-benar bugar. “Dan jangan hanya satu sopirnya. Harus ada anggota keluarga lainnya yang bisa mengemudi biar bisa diajak gantian,” tuturnya.

Sesampai di Gringsing, Kendal, Jawa Tengah, bus tiba-tiba berhenti 15 menit. Bambang yang saat itu mengemudi keluar dari bus. Lalu turun ke bawah badan jalan tol. “Hehehe iya Mas, maaf nggih. Ketemu (istri) sebentar tadi,” kata Bambang.

Ya, seperti juga yang dilakukan Toni sebelumnya, di tepian tol itu, Bambang menemui sang istri sebentar untuk menyerahkan THR. Maklum, kepadatan jadwal mengemudi membuat dia dan Toni tak akan bisa pulang Lebaran ini.

“Yang paling berat itu nggak ketemu anak, Mas. Tadi si kecil yang masih usia 4 tahun nangis pas saat saya pamitan di pinggir tol tadi,” ungkap Toni.

Sepanjang perjalanan kami, intensitas kendaraan yang melalui tol trans-Jawa cukup padat dari Jakarta menuju Semarang. Tapi, selepas ibu kota Jawa Tengah itu, konsentrasi jumlah kendaraan terpecah. Ada yang menuju ke arah Jogjakarta, melanjutkan melalui jalur pantai utara untuk menuju Pati, Kudus, Jepara, hingga Tuban, atau memang berakhir di Semarang.

Tol trans-Jawa memang benar-benar memangkas waktu tempuh dari Jakarta ke Surabaya. Namun, tetap saja ada orang-orang seperti Toni serta Bambang yang harus merelakan waktu Lebaran mereka di atas jalan.

Tapi, setidaknya, berkat mereka, para penumpang seperti Abdul Muhid, istri, dan ketiga anak mereka bisa sampai ke kampung halaman di Bangkalan, Madura, dengan nyaman. Ini pengalaman mereka mudik melintasi tol dari Jakarta ke Surabaya. “Saya juga ingin menunjukkan (Jembatan) Suramadu kepada anak saya yang paling kecil yang belum pernah ke Madura,” ungkapnya.

Begitu pula Nurdin. Dia kali pertama mudik bersama istrinya dari Bogor menuju Bangkalan. Dia naik bus dari Pondok Cabe. “Kaget juga baru pukul 02.00 sudah sampai Surabaya. Biasanya baru pukul 09.00 sampai Madura,” ujarnya.

Tepat pukul 02.14 kemarin, saya dan Imam tiba di Halte Perak Timur, di bagian utara Surabaya. Dari Terminal Bayangan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, kami menempuh perjalanan selama 14 jam 3 menit.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads