alexametrics

Budi Irawan, Seniman yang Melukis Ulang Kondisi Surabaya pada 1750

29 April 2021, 07:48:23 WIB

Bagi Budi, dapat melukis suasana lampau itu sama saja memperpanjang ingatan. Meskipun, objek lukisan tersebut kini sudah mengalami banyak perubahan besar. Namun, adanya teknologi dan literatur mampu menjadi sarana untuk menghimpun informasi yang tersebar luas.

AZAMI RAMADHAN, Surabaya

PEMANDANGAN Surabaya. Di sebuah jalan berlatar sungai dan bertemu sebuah jembatan kecil. Ada dua pohon di sebelah kiri dan seorang yang berjalan menggunakan payung. Di sungai ada beberapa perahu. Di sisi lain, terdapat deretan rumah dan pepohonan. Tertulis tanda pada bagian langit lukisan, ’’SOURABAYA’’. Begitu kira-kira deskripsi lukisan Surabaya tempo doeloe dalam situs rijksmuseum.nl.

Lukisan topografi itu dibuat Johannes Rach.

Pria yang lahir pada 1720 di Denmark tersebut memperlihatkan situasi Surabaya pada 1750. Tentu, kondisi saat itu tidak seperti saat ini. Menurut beberapa sumber, wujud lukisan aslinya tidak ada di Indonesia. Tetapi, terpajang gagah di Belanda. Namun, karena kemajuan teknologi, pemandangan abad ke-18 itu dapat dinikmati secara digital.

Meski begitu, bagi Budi Irawan, menikmati lukisan melalui layar ponsel atau laptop terasa tidak cukup. Ilustrator asal kampung Pandean, Peneleh, itu memilih merepro lukisan lawas tersebut. Keinginan itu klop setelah komunitas Begandring Soerabaia memintanya untuk melukis ulang meski melalui perantara layar ponsel.

”Iya. Kepinginnya sudah lama. Tapi, baru tahun ini terealisasi,” kata pria 50 tahun itu.

Budi bukan hanya sekali ini melukis objek yang membutuhkan akurasi dan ketelitian. Sebelum melukis ulang karya Johannes Rach, dia pernah melukis beberapa objek yang mengandung nilai sejarah.

Misalnya, melukis suasana Gedung Siola dengan tema Siola membara yang mengisahkan pertempuran arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Lalu, suasana gedung di Jembatan Merah, kawasan Kembang Jepun, Gedung Cerutu di dekat Jalan Rajawali, dan suasana Jalan Pahlawan lengkap dengan trem listriknya terlukis di atas kanvas.

Dia juga sempat melukis tembok Museum Tugu Pahlawan yang mengambarkan cerita para tokoh bangsa di Surabaya. Dia menggambar bersama rekannya, Edy Marga.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:





Close Ads