alexametrics

Beternak Nyamuk Aedes Aegypti dan Pemandulan dengan Radiasi Nuklir di Batan

28 November 2016, 12:33:00 WIB

Pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan insektisida terbukti kurang efektif dan tak ramah lingkungan. Kini muncul upaya alami menekan pertumbuhan nyamuk inang virus dengue itu dengan pemandulan.

 

M. Hilmi Setiawan, Jakarta

 

SUARA nguing-nguing langsung terdengar begitu pintu Ruang Ae. aegypti Mass Rearing Laboratory di kompleks Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan, Lebak Bulus, Jakarta, dibuka. Pusat suara berasal dari ratusan ribu nyamuk Aedes aegypti di dalam delapan kandang. Di setiap kandang berkelambu tipis setinggi 1 meter dan lebar dua jengkal itu, hidup sekitar 18 ribu nyamuk.

Untuk setiap kandang, ada yang khusus berisi nyamuk jantan semua atau betina semua. Di pusat budi daya nyamuk putih hitam tersebut, tidak hanya tersimpan nyamuk dewasa. Ada juga telur nyamuk, larva atau jentik-jentik, dan pupa alias kepompong nyamuk.

Kepala Kelompok Entomologi Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) Ali Rahayu menceritakan, riset budi daya nyamuk penyebab demam berdarah itu berjalan sejak 2004. Kemudian, dia mengikuti pelatihan khusus di Austria pada Mei–Agustus 2007. ”Budi daya atau ternak nyamuknya mulai rutin pada 2011–2012,” ucapnya. Dalam sehari puluhan ribu telur dihasilkan.

Program ternak nyamuk tersebut, jelas Ali, merupakan bagian dari kegiatan teknik serangga mandul (TSM). Itu menjadi strategi pengendalian nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). ”Sebelum pemandulan dengan radiasi nuklir, beternak nyamuknya harus sukses dulu,” kata pria kelahiran Bandung, 9 April 1957, tersebut.

Ali lantas menceritakan alur pembudidayaan nyamuk khas daerah beriklim tropis itu. Budi daya dimulai dengan perkawinan alami nyamuk di dalam kandang. Setelah sukses kawin, keluar telur nyamuk menyerupai serbuk berwarna hitam menempel di kain yang disiapkan.

Supaya bisa bertelur, nyamuk betina harus diberi makan darah segar. Tim peneliti secara khusus memelihara marmut untuk makanan nyamuk betina. Marmut itu ditempatkan di dalam kandang mungil. Kemudian dimasukkan ke kandang nyamuk. Beberapa saat kemudian, nyamuk Aedes aegypti betina ramai-ramai mengisap darah marmut.

Setelah itu telur nyamuk yang menempel pada kain dipisahkan dan ditempatkan di dalam botol. Dalam 1 gram takaran, kira-kira terdapat 8.000 butir telur nyamuk Aedes aegypti. Setelah sukses sampai tahap telur, bisa dilakukan penyimpanan. Keunggulan telur nyamuk itu adalah bisa bertahan sampai enam bulan. Kemudian, ketika dimasukkan ke dalam air, selang beberapa menit sudah berubah wujud menjadi jentik-jentik atau larva.

Setelah didiamkan beberapa hari, larva nyamuk tersebut bermetamorfosis menjadi pupa atau kepompong. Meskipun fase kepompong, bakal nyamuk tidak diam, tapi terus bergerak-gerak. ”Tetapi, selama fase pupa ini tidak makan apa pun meskipun bergerak-gerak,” ucap sarjana biologi Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Pada tahap pupa tersebut, kemudian dilakukan pemisahan antara pupa jantan dan betina. Pemisahan pupa itu menggunakan alat pemisah khusus. Pupa jantan dan pupa betina akan mengelompok sendiri. Pupa jantan lebih kecil daripada pupa betina. Setelah dipisahkan, pupa betina dibudidayakan untuk menjadi indukan baru. Sedangkan pupa jantan siap untuk diradiasi supaya menjadi nyamuk jantan dewasa mandul.

Tim peneliti menyisakan 20 persen pupa jantan normal untuk melanjutkan proses budi daya berikutnya. Pemandulan nyamuk dilakukan dengan radiasi sinar gama dengan dosis 70 grey. Prosesnya tidak terlalu lama, hanya berjalan 37 detik. Dengan pancaran sinar gama itu, nyamuk yang diradiasi menjadi cacat, yakni cacat sistem reproduksinya sehingga menjadi mandul.

Pria yang bekerja di Batan sejak 1983 tersebut menambahkan, radiasi pemandulan nyamuk itu aman bagi manusia. Apalagi, secara alamiah nyamuk jantan tidak menggigit manusia. Sehingga kalaupun ada efek radiasi, tidak akan mengenai manusia. Nyamuk jantan dewasa yang berhasil dimandulkan kemudian menjadi kunci menekan kasus demam berdarah.

Caranya, nyamuk mandul itu disebar ke setiap rumah di daerah yang tinggi kasus demam berdarahnya. Setiap rumah mendapatkan jatah satu kotak berisi 50 ekor nyamuk jantan. Setelah dilepas, nyamuk akan beterbangan di dalam rumah. Secara alamiah nyamuk betina yang sebelumnya bersembunyi di sela-sela perabotan rumah akan keluar dan menghampiri nyamuk jantan. Dalam sistem perkawinan nyamuk Aedes aegypti, sifatnya nyamuk betina yang menghampiri nyamuk jantan.

Setelah kawin, nyamuk betina yang menjadi pembawa virus dengue itu akan bertelur. Nah, telur yang keluar tersebut kopong alias tidak bisa menetas. Sedangkan nyamuk betina setelah bertelur akan mati. ”Jadi, secara alami nyamuk di rumah itu menjadi hilang. Nyamuk jantan setelah kawin juga mati,” terangnya.

Ali menceritakan, program pemandulan nyamuk berbasis radiasi nuklir di Batan sempat dihentikan pada 2008–2009. Penghentiannya dilakukan dengan cara menyetop anggaran penelitian. Banyak alasan saat itu. Di antaranya adalah tudingan bahwa program tersebut tidak akan efektif menekan angka kasus demam berdarah.

Alasan tersebut, menurut Ali, wajar. Sebab, di Amerika Serikat pada 1960-an pernah dilakukan budi daya nyamuk dan pemandulan serupa di Batan. Tetapi tidak berujung kesimpulan apa-apa. ”Amerika dengan SDM dan peralatan yang canggih saja tidak bisa, apalagi Indonesia,” kenangnya.

Ali sempat berpikir juga, jika proses tersebut berhasil dan diterapkan nasional, banyak sekali yang terkena dampaknya. Antara lain, industri insektisida pemberantas nyamuk bisa kolaps. Termasuk pemain fogging (pengasapan), tidak punya pekerjaan lagi.

Ali tidak patah arang. Berbekal nekat dan tekad, dia melayangkan proposal kelanjutan riset budi daya dan pemandulan nyamuk Aedes aegypti ke Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Akhirnya dia berhasil mendapatkan suntikan dana dan menjalankan lagi risetnya pada 2010.

Selama riset itu, Ali hanya menguji di kompleks PAIR Batan, Lebak Bulus. Memasuki 2011, dia berani keluar kandang. Pertama adalah menguji keampuhan program penelitiannya di Banjarnegara. ”Hasilnya positif. Bisa menekan indeks keberadaan nyamuk di rumah,” ucapnya.

Sejumlah dearah pernah merasakan manfaat riset pemandulan nyamuk Batan. Paling anyar adalah masyarakat Bukittinggi. Beberapa bulan lalu Ali menyebar nyamuk jantan mandul ke 700 rumah di Bukittinggi. Upaya itu adalah permintaan dinas kesehatan setempat karena telah terjadi peningkatan kasus demam berdarah. Total jumlah nyamuk yang disebar ke 700 rumah tersebut mencapai 35 ribu ekor.

Sebelum membawa nyamuk ke luar kota, Ali memindah satu per satu nyamuk dari kandang besar ke botol-botol kecil. Caranya, disedot melalui slang. Satu per satu nyamuk disedot dari kandang besar, kemudian dimasukkan ke botol-botol kecil.

Supaya lancar dalam perjalanan menuju daerah pelepasan, botol dimodifikasi dengan cara memberikan lapisan kain tipis di dinding botol. Kain tipis itu berfungsi sebagai pijakan nyamuk. ”Kalau selama perjalanan nyamuk itu terbang terus, sampai tujuan akan mati,” katanya.

Secara garis besar, Ali mengatakan, program menekan populasi nyamuk Aedes aegypti tanpa insektisida terbagi atas tiga cara. Selain melalui radiasi nuklir, ada pula proses rekayasa genetika atau transgenik. Salah satu negara yang menggunakan cara transgenik adalah Brasil. Ali mengaku berpikir seribu kali ketika akan menerapkan model transgenik itu. Sebab, dia khawatir varian anyar nyamuk hasil transgenik justru menimbulkan masalah baru.

Cara ketiga dalam pengendalian nyamuk adalah menanamkan bibit bakteri Wolbachia di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Tujuan memasukkan bakteri itu adalah virus dengue di dalam tubuh nyamuk tidak bisa berkembang. Sehingga nyamuk tidak dapat menularkan penyakit demam berdarah. Di Indonesia, program pengendalian nyamuk Aedes aegypti berbasis bakteri Wolbachia dilakukan di Jogjakarta.

Sistem tersebut dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah baru. Sebab, menurut teori yang dipelajari Ali, bakteri Wolbachia adalah makanan cacing filaria. Dikhawatirkan, cacing filaria, penyebab penyakit gajah, nanti bisa hidup di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Padahal, selama ini nyamuk itu tidak pernah ditumpangi bibit cacing filaria. Jangan sampai ke depan nyamuk Aedes aegypti –selain menyebarkan penyakit demam berdarah –juga menularkan kaki gajah. (*/c9/oki)

 

 

Editor : fimjepe

Close Ads
Beternak Nyamuk Aedes Aegypti dan Pemandulan dengan Radiasi Nuklir di Batan