alexametrics

Yesti, ART yang Nekat Kuliah Berbekal Rp 2,7 Juta dan Jadi Sarjana

28 September 2021, 07:48:04 WIB

Pepatah ”di mana ada kemauan, di situ ada jalan” tampaknya menjadi pedoman Yesti Rambu Jola Pati. Perempuan asal NTT itu nekat merantau ke Surabaya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Di Surabaya pula dia sekaligus menuntaskan pendidikan sarjananya di Universitas dr Soetomo (Unitomo). Penuh liku-liku.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, SURABAYA

TANGIS Yesti tak terbendung saat namanya dipanggil dalam acara wisuda Unitomo yang diselenggarakan secara luring di Dyandra Convention Hall, Jalan Basuki Rahmat, Sabtu (25/9). Penantian panjang untuk menuntaskan kuliah di jurusan pendidikan matematika akhirnya berakhir. Setelah berjuang selama tujuh tahun, perempuan kelahiran 1994 itu lulus dengan hasil yang baik. ”Saya langsung terbayang tujuh tahun lalu. Tepatnya pada Juli 2013. Saat saya mengambil keputusan untuk merantau ke Surabaya selepas lulus SMA,” tuturnya.

Nekat dan berani. Dua kata itulah yang menjadi pegangan Yesti saat memberanikan diri pergi ke Kota Pahlawan. Orang tua kala itu sempat tak mendukung. Namun, dia tetap memaksa. ”Saya harus mengubah kondisi keluarga,” katanya.

Dengan uang seadanya, dia lantas menjumpai kerabat jauh yang tak terlalu dikenalnya. ”Niat awal memang untuk bekerja. Belum kepikiran melanjutkan kuliah,” ujar Yesti.

Setelah berjuang mencari-cari pekerjaan, dia akhirnya diterima pengusaha bidang parfum di Nginden Intan Barat dan menetap di sana. Dia menjadi asisten rumah tangga. ”Nah, pada akhir 2013, sudah muncul niat untuk kuliah. Lalu, saya nekat pergi ke Unitomo pada awal 2014,” jelasnya.

Saat itu dia baru mengumpulkan uang Rp 2,7 juta dari hasil bekerja selama ini. Yesti sebenarnya sudah tak yakin diperbolehkan mendaftar atau tidak. Sebab, saat itu DP pendaftaran mencapai Rp 4 juta. ”Namun, lagi-lagi saya nekat,” ungkap anak kelima di antara enam bersaudara tersebut.

Orang pertama yang dikunjunginya adalah petugas satpam. Dia menanyakan alur masuk ke kampus Unitomo kepada petugas satpam. Yesti lantas diarahkan ke bagian administrasi. Di situlah dia memohon kepada bagian administrasi untuk memperbolehkannya kuliah di Unitomo. ”Saya pun diberi izin. Dengan perjanjian, setiap bulan saya harus bayar uang pembangunan,” ungkap Yesti.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads