JawaPos Radar

Andrew Wijaya Hidayat, Relawan Kebakaran Kota Pahlawan

Tidak Dibayar, Malah Kehilangan Helm

28/09/2016, 18:28 WIB | Editor: admin
Andrew Wijaya Hidayat, Relawan Kebakaran Kota Pahlawan
DORONGAN CITA-CITA: Andrew Wijaya Hidayat yang sudah tiga tahun menjadi relawan kebakaran di Surabaya. (Dida Tenola/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa aktivitas yang dilakoni Andrew Wijaya Hidayat ini kurang kerjaan. Bagaimana tidak, saat orang lain sibuk mencari uang, Andrew malah wira-wiri mengikuti pemadam kebakaran. Tanpa dibayar, dia mau bersusah payah membantu petugas sebisanya.

DIDA TENOLA

SEBUAH motor gede berwarna kombinasi merah-putih terlihat gagah. Di bagian bawahnya, ada speaker mungil seharga Rp 250 ribu. Kabel-kabelnya tersambung ke aki.

Tapi, motor itu bukan sekadar produk modifikasi. Bukan pula sekadar bergaya. Bagi Andrew Wijaya Hidayat, motor itu tak ubahnya belahan jiwa.

Saat menjadi relawan, motor produksi India tersebut punya andil penting: mengawal mobil pemadam mencapai lokasi kebakaran!

Meski sudah mendapat hak prioritas jalan dan dilengkapi dengan sirene, PMK kerap susah mendapat akses. Apalagi kalau sudah masuk gang-gang sempit.

Saat itulah Andrew biasanya mengambil posisi 10 meter di depan mobil untuk memberikan aba-aba awal pada kendaraan yang menghalangi.

’’Kalau jalan sudah macet, memang sulit menembus. Makanya, saya di depan biar petugas lebih gampang,’’ cerita Andrew kepada Jawa Pos, Senin (26/9).

Sejak kecil, Andrew begitu menggilai mobil pemadam kebakaran. Bunyi sirenenya meraung. Warnanya merah cerah dan garang. Dia pun ingin menjadi petugas pemadam kebakaran.

Namun, imajinasinya kala masa kanak-kanak tak terwujud saat dirinya tumbuh dewasa.
Pria berkacamata itu kini merintis bisnis keluarga. Membuka usaha kafe dan memasarkan beberapa produk elektronik.

’’Tapi, mimpi kecil saya tidak bisa dihilangkan,’’ ucapnya. Rupanya, keinginan untuk menjadi petugas pemadam tersebut tidak bisa dibendung. Meski bukan petugas resmi, dia tetap turun ke lokasi kebakaran.

Hal tersebut dilakoninya sejak tiga tahun silam. Jawa Pos sempat melihat aksinya pada insiden di Jalan Gemblongan, 24 Agustus. Kebakaran hebat melanda enam toko furnitur.

Sebanyak 20 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Saking besarnya api dan kuatnya embusan angin, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya sampai menurunkan mobil Scania Bronto Skylift F55 RLX.

Itu adalah truk gede dengan tangga yang bisa menjulur sampai tinggi. Seperti brontosaurus, binatang purba dengan leher superpanjang. Saat itu petugas membagi konsentrasi di dua sisi.

Sepuluh regu berada di Gemblongan. Lainnya berfokus di Jalan Baliwerti. Warga bergerombol menonton kebakaran itu. Mereka sedikit mengganggu kerja petugas mengulurkan slang air.

Warga yang berkerumun di tengah jalan juga menghambat mobil pendukung yang datang belakangan. Padahal, saat itu si jago merah sudah mulai melahap bagian belakang bangunan yang terbakar.

Ketika warga tidak bisa diatur, muncul Andrew. ’’Ibu, Bapak, minggir dulu. Mau kebakarannya tambah besar?’’ teriaknya lantang. Orang memang tidak langsung menggubrisnya.

’’Pikirnya siapa saya ini? Nggak pakai seragam, tapi kok marah-marah,’’ ujar anak kedua di antara tiga bersaudara tersebut, lantas tersenyum. Pada kebakaran itu, dua petugas cedera.

Ada yang tangannya melepuh. Ketika itu, lokasi ambulans lumayan jauh. Mereka akhirnya digotong. Andrew ikut membantu. Meski, pertolongannya itu tidak sebanding dengan risiko yang diemban petugas resmi.

Bukan perkara uang, bukan pula sok jagoan, bagi Andrew pekerjaan sukarela tersebut memuaskan hatinya. Dia merasa bisa membantu kerja PMK. Ada saja kejadian kecil yang menggelitik hatinya.

Tapi, itu dianggapnya sebagai risiko. Selepas kebakaran di Gemblongan, Andrew berniat mengawal sebuah mobil untuk kembali ke pos. Pria kelahiran 8 Juni 1991 itu pun langsung bergegas menuju motornya.

Tapi, sesampainya di tempat tunggangannya tersebut diparkir, Andrew langsung garuk-garuk kebingungan. ’’Helm saya hilang. Heran saja, saat-saat genting kayak gitu, ada aja orang jahat,’’ tutur Andrew.

Sebagai relawan, dicela orang adalah hal yang biasa dialaminya. Tak jarang, warga malah marah karena menganggap Andrew petugas abal-abal.

Tak mau kalah, ayah satu anak itu juga tidak segan untuk gontok-gontokan dengan warga.
Bagi Andrew, emosinya yang memuncak itu wajar.

Sebab, menurut dia, masih banyak yang tidak sadar bahwa kebakaran adalah sebuah musibah.

’’Lha masak ada kebakaran malah ambil kursi, terus duduk jejer-jejer, Mas. Banyak loh orang-orang yang menganggap enteng kebakaran,’’ sebut Andrew.

Alumnus SMA Pemuda tersebut sama sekali tidak ingin mendapat penghargaan. Dia tetap sadar bahwa statusnya sebagai warga sipil memang tidak akan dipandang orang.

Tapi, hatinya tulus berperan sebagai relawan. Toh, dia tidak terikat waktu dan tidak harus selalu datang. Untuk menerima informasi kebakaran, dia bahkan rela membeli handie talkie (HT).

Alat komunikasi itu dibeli setelah dia menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai divisi pemasaran alat elektronik. Harganya Rp 800 ribu.

Dari sana, dia terus terhubung dengan kabar PMK. Aktivitasnya sebagai relawan begitu fleksibel. Dia tidak terikat dengan kelompok relawan apa pun. Semuanya murni keringat individunya sendiri.

’’Saya juga pernah menghubungi PMK saat tahu kebakaran lebih dulu,’’ tambah anak pasangan Bambang Setiawan Hidayat dan Venny Elizabeth tersebut.

Menjadi relawan juga dipertanyakan oleh keluarganya. Orang tuanya heran tentang apa yang dicari. Begitu pula istrinya. Namun, pelan-pelan, Andrew bisa meyakinkan mereka.

Kalau ditanya kapan dia berhenti, Andrew belum bisa memutuskan. Yang jelas, dia tidak berharap apa-apa. Menjadi petugas pemadam juga tidak mungkin.

Bagaimanapun, dia merasa orang-orang di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya sudah memberinya ruang. Andrew pun tak lagi bermimpi muluk-muluk.

’’Bu Chandra (Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Chandra Oratmangun, Red) sudah baik sama saya. Biasanya saya mengirim foto-foto saja ke beliau untuk membantu dokumentasi,’’ terang arek Sawahan tersebut. (*/c7/dos/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up