JawaPos Radar

Muhammad Ferianto, Tunanetra yang Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus

28/06/2017, 21:57 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Muhammad Ferianto, Tunanetra yang Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus
SERBABISA: Muhammad Ferianto (tengah) diapit orang tuanya. Meski kondisi fisiknya kurang sempurna, dia tetap bersemangat mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. (Lintang Anis Bena Kinanti/Radar Jember/JawaPos.com)
Share this image

Tidak semua orang bisa mengatasi tantrum anak autis atau berkebutuhan khusus. Jangankan penyandang disabilitas, orang normal saja dipastikan menghadapi kesulitan dalam menangani mereka. Namun, Muhammad Ferianto mematahkan stigma tersebut.

LINTANG ANIS BENA K., Jember

MUSIM libur sekolah tidak lantas menghentikan aktivitas Muhammad Ferianto. Dia masih harus bolak-balik ke sekolah dan kampus untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Bahkan, selama bulan puasa lalu, dia seakan tidak pernah kehabisan energi dalam mengajar sekaligus menjalani kuliah.

Muhammad Ferianto yang akrab disapa Feri tidak mengajar siswa-siswi normal seperti kebanyakan guru lainnya. Di SLB-A Bintoro, dia dihadapkan pada segelintir anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan ekstra. Setiap hari Feri harus memberikan ilmu kepada para penyandang autisme dengan tingkat usia dan pendidikan yang berbeda.

Yang menjadikannya istimewa, Feri juga penyandang disabilitas. Pria kelahiran 10 Agustus 1993 tersebut adalah tunanetra. Lho, lantas bagaimana dia bisa mengajar anak-anak yang sering tantrum?

Feri menuturkan, dirinya terjun ke dunia pendidikan tidak berawal dari kesengajaan. Dia hanya ingin memberikan kontribusi bagi SLB tempatnya meniti ilmu sejak TK hingga SMA. ’’Selain itu, ingin menyalurkan ilmu yang saya pelajari kepada anak-anak lain,’’ terang Feri.

Gayung bersambut. Mahasiswa semester VI IKIP PGRI Jember tersebut ditawari salah seorang dosennya yang kebetulan menjadi terapis di SLB. Tepatnya, dia diminta mengajar anak-anak autis.

Awalnya, bungsu lima bersaudara tersebut sempat pesimistis. Sepanjang sejarah yang dia pahami, tidak ada ceritanya seorang tunanetra bisa mengajar anak autis atau hiperaktif. ’’Awalnya cemas juga. Gimana nanti kalau anak-anak itu ngamuk? Kan saya nggak bisa melihat normal,’’ kenangnya.

Untung, dia mendapat banyak dukungan. Tidak hanya dari dosen, tetapi juga dari guru-guru lain di sekolah untuk penyandang autisme tersebut.

Sejak menjalani profesinya pada akhir 2014, Feri mendapat banyak ilmu baru. Dia justru menepis pernyataan bahwa dirinya mengajar anak-anak autis. ’’Bukan mengajar, tapi justru saya yang belajar dari mereka,’’ tegasnya.

Pada bulan-bulan pertama mengajar, Feri bahkan sempat berpikir untuk berhenti. Namun, dia mengurungkan niat itu karena dosennya mengultimatum sesuatu yang cukup mengejutkan meski niatnya hanya bercanda.

’’Kata dosen saya yang kebetulan ngajar di sana juga, nanti nilaimu tak anjlokno kalau nggak mau ngajar autis. Kaget juga sih. Tapi, itu sekaligus jadi motivasi saya. Masak saya nggak bisa,’’ ujarnya.

Menghadapi anak autis, kata mahasiswa fakultas pendidikan luar biasa tersebut, berbeda dengan menghadapi penyandang ketunaan. Dia bertemu banyak anak dengan beragam jenis autisme yang berbeda. Mulai yang ringan hingga yang berat dan tak bisa diatur.

Tidak jarang Feri harus rela dicakar, dicubit, dan bahkan dipukul hingga terluka oleh siswanya yang tengah mengamuk. ’’Sempat kaget juga. Tapi, tetap dijalani karena saya sendiri juga penasaran,’’ ungkapnya.

Meski mereka tampaknya sering melawan guru, Feri punya cara tersendiri untuk menghadapi mereka. Pria asal Bintoro tersebut sama sekali tidak pernah membalas teriakan atau pukulan anak didiknya. Namun, dia selalu menegaskan kepada mereka agar bersikap lebih tenang.

’’Kalau dipukul, jangan dipukul balik, tapi tepis tangannya dan katakan tidak dengan tegas. Daripada dilawan, proses tersebut tidak membuat anak akan mengerti. Justru kalau dilawan, mereka malah tambah ngelawan. Sebab, autis nggak punya rasa sakit. Bahkan, saat puncak emosinya, mereka bisa melukai diri sendiri,’’ papar pria tersebut.

Dalam mengajar pun, guru kesenian tersebut tak lantas memaksakan materi kepada anak didiknya. Sebab, masing-masing anak memiliki kemampuan beragam. ’’Ada yang nggak bisa dinasihati, tapi bisa menerima materi lewat lagu. Jadi, setiap hari saya setelkan lagu buat dia yang bisa menjadi sarana belajar,’’ tambahnya.

Feri juga menjadikan peralatan dan perlengkapan di sekitarnya sebagai media pembelajaran. Dia mengisahkan ketika salah seorang murid autisnya datang dan mendadak misuh-misuh di hadapannya. Terkejut, Feri tak langsung memarahi anak tersebut. Sebaliknya, dia ’’menghukum’’ anak itu dengan berdiri di salah satu ubin lantai sambil mengucapkan istigfar berkali-kali.

’’Itu terus saya lakukan sampai sikapnya kepada saya menjadi lebih sopan. Bahkan, setiap ketemu saya, pasti mengucap salam dan menyapa,’’ kenangnya.

Feri kini sangat menikmati profesinya sebagai guru anak-anak autis. Bagi dia, mengajar anak autis memberikan kebahagiaan tersendiri. Apalagi ketika mendengarkan suara-suara aneh tapi unik dari mulut delapan siswanya. ’’Bisa jadi hiburan dalam komunikasi verbal dengan anak-anak,’’ ungkapnya. (c1/har/c5/ami)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up