JawaPos Radar

Kiprah Budy Santoso, Petugas Loket KBS yang Jago Melukis

Saat Pesanan Sepi, Tiap Hari ’’Makan’’ Air

28/06/2017, 23:52 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Kiprah Budy Santoso, Petugas Loket KBS yang Jago Melukis
BAKAT ALAMI: Budy Santoso menggambar gajah sumatera di areal tunggang gajah KBS. (Salman Muhiddin/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

Budy Santoso sudah berhasil memikat Dirut Kebun Binatang Surabaya (KBS) Chairul Anwar yang baru bertugas enam bulan. Bukan karena kepiawaiannya memasang gelang tiket. Aktivitas yang sudah digeluti Budy selama satu dekade. Kini Budy bertugas melukis dinding-dinding polos KBS.

Kiprah Budy Santoso, Petugas Loket KBS yang Jago Melukis
BAKAT ALAMI: Budy Santoso menggambar gajah sumatera di areal tunggang gajah KBS. (Salman Muhiddin/Jawa Pos/JawaPos.com)

SALMAN MUHIDDIN

AIR mata Budy Santoso meleleh lembut pada Rabu (21/6). Pagi itu dia duduk di sudut area tunggang gajah. Di bawah rindang pepohonan. Sepi. Pengunjung KBS pun belum ramai.

Sambil bercerita, dia meletakkan kuas dan cat tembok yang dipegang. ’’Sejak kelas tiga SD,’’ katanya dengan nada bergetar. Budy tampak tidak mampu melanjutkan kalimat-kalimat tentang kisah hidupnya.

Dia membenarkan posisi duduknya, lalu menghela napas. Kacamatanya dilepas untuk menyeka air mata yang masih menggenang di ujung mata. ’’Sejak kecil saya menghidupi dua adik,’’ lanjut pria yang lahir di Kaliondo, Kecamatan Simokerto, itu.

Orang tuanya bercerai saat dia masih bocah. Tidak lama kemudian, ibunya meninggal. Adapun ayahnya entah menghilang ke mana. Budy tidak pernah tahu. Di usia belia, dia harus menghidupi dua adiknya.

Saat itu adik Budy yang paling kecil masih duduk di taman kanak-kanak. Untung, Budy dibantu kakak tirinya. Ya, ayah budi menikah dua kali. ’’Kami senasib. Harus berjuang sama-sama,’’ katanya.

Tuhan pasti memberikan jalan. Budy diberkati kemampuan menggambar. Otak kanannya lebih menonjol. Tanpa diajari, dia bisa menggambar rumah, suasana Pantai Kenjeran, aktivitas pedagang kaki lima, dan sudut-sudut kota lainnya. Hal itu dilakukan hanya dengan mengamati.

Begitu pulang ke rumah, dia gambarkan suasana yang baru saja dilihat. Modalnya hanya ingatan yang kuat.

Meski begitu, Budy tidak menyadari bahwa kemampuannya tersebut bakal bisa menghidupi adik-adiknya. Bahkan hingga mereka lulus sekolah.

Budy cilik menyambung hidup dengan berjualan koran, petasan, hingga gantungan baju. Pekerjaan itu dilakukan sepulang sekolah. Saat SMP dia mendapat pekerjaan lebih layak di biro jasa periklanan. Tugasnya memasang gambar yang bakal disablon. Namun, kemampuan menggambarnya masih belum juga terpakai.

Skill itu baru digunakan saat SMA. Yakni, saat Budy menjadi pelukis celana jins. Ya, pada 1980-an jins lukis sedang booming. Di Surabaya belum banyak yang membuka usaha itu. ’’Dulu nebeng di bursa jins di Sidosermo,’’ kata alumnus SMA Taman Siswa tersebut.

Usaha itu hanya bertahan enam bulan. Dia memutuskan membuka usaha di Malang. Dengan modal seadanya, Budy mengadu nasib bersama Semul. Rekan kerjanya yang juga pelukis. Namun, di Kota Dingin itu, beberapa hari tidak ada pesanan lukisan. Mereka pun harus menahan lapar. ’’Setiap hari makan air. Kenyang enggak, kembung iya,’’ kata pria yang pernah bekerja sebagai kuli bangunan tersebut.

Namun, usaha itu juga tidak bertahan lama. Bukan karena gagal. Namun, ada tawaran untuk bekerja di Jakarta. Saat itulah dia bertemu dengan Dicky Zulkarnaen, aktor gaek Indonesia. Dicky adalah suami Mieke Wijaya dan ayah Nia Zulkarnaen. Film Dicky yang cukup beken adalah Si Pitung.

Pada era itu Dicky juga membuka usaha jins. ’’Saya banyak dibantu beliau. Sampai bisa sekolahkan adik-adik,’’ kata pria yang tinggal di Kampung Ketandan tersebut.

Lagi-lagi dia harus berpindah-pindah kerja. Saat itu tempat kerjanya di Ancol digempur banjir. Sebelum kembali ke Surabaya, Budy bekerja di pabrik kain di Bandung.

Begitu kembali ke Kota Pahlawan, Budy melanjutkan bisnis interior yang dirintis kakaknya. Mulai membuat gorden, wallpaper, hingga dekorasi bunga. Selain itu, dia membuka pesanan lukis foto.

Kemampuannya tersebut didengar Stany Subakir, pucuk pimpinan KBS saat itu. Awalnya, dia diminta menggambar papan nama satwa. Awalnya hanya borongan. ’’Sampai akhirnya ditawari bekerja di sini. Saya ya mau saja,’’ ucap pria yang bekerja di KBS sejak 1995 tersebut.

Posisi awalnya sebagai petugas administrasi di bagian penelitian dan pengembangan (litbang). Tugas melukis hanya diberikan sewaktu-waktu. Namun, 10 tahun belakangan dia tidak diminta melukis.

Baru dua bulan lalu Budy mengerjakan lukisan di dua titik. Ada di area akuarium dan tunggang gajah. Saat ditemui, lukisan gajahnya belum selesai. Ada dua gambar. Gambar pertama berwujud gajah yang berdiri di hutan. Yang kedua, gambar gajah menerjang tembok.

Itu adalah gajah sumatera yang dimiliki KBS. Agar mirip, dia harus memperhatikan anatomi tubuh gajah tersebut. Dibandingkan gajah afrika, telinga gajah sumatera lebih kecil. Tubuhnya pun tidak terlalu tinggi.

Pekerjaan itu harus selesai hingga Lebaran. Saat itu pengunjung KBS bakal ramai. Untungnya, lukisan tersebut diselesaikan tepat waktu. Namun, bukan berarti tugas melukisnya selesai.

Masih ada banyak tembok polos yang harus dilukis. Areal KBS seluas 15 hektare itu memang tengah dipercantik. Tujuannya, menarik pengunjung.

Di dinding area tunggang gajah saja masih ada belasan tembok yang harus digambar. Di area akuarium, dia juga belum selesai. Gambar suasana laut harus terpampang di dinding ukuran 3 x 60 meter tersebut. Pengerjaannya masih dilakukan 70 persen. Dia masih perlu menggambar detail-detail batu karang.

Tugas lain juga menunggunya. Dia harus menggambar tiga dimensi (3D) di sejumlah jalan KBS. Wujudnya bisa berupa jurang atau hiu yang sedang membuka mulutnya. ’’Itu ada tekniknya sendiri. Rahasia,’’ ucapnya, lalu meringis.

Lukisan 3D itu bakal menjadi magnet pengunjung. Rencananya, lukisan tersebut diletakkan di area strategis. Misalnya, jalan utama, tanah lapang, hingga persimpangan. Objek lukisan 3D itu nantinya pasti digunakan para pengunjung untuk berswafoto.

Dia tidak sabar untuk memulai proyek tersebut. Ada kepuasan tersendiri saat lukisannya diapresiasi pengunjung. Pekerjaan itu bakal dilakukan setelah Dirut KBS memberinya tugas tersebut.

Setelah Lebaran, pekerjaan melukis bakal lebih cepat diselesaikan. Sebab, saat puasa lalu dia tidak bisa melukis dengan tenang. Bukan karena lapar dan lemas. Namun, inspirasinya mandek karena tidak bisa menyeruput kopi.

Bila mood menggambarnya turun, gambar sederhana bisa jadi tidak maksimal. Pekerjaan kreatif memang butuh pikiran tenang dan jernih.

Lalu, pekerjaan mana yang lebih disukai Budy, melukis atau menjaga loket? Yang jelas, dia gembira bisa mendapat bayaran dari hobinya. (*/c15/dos)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up