alexametrics

Mahasiswa ITS Bikin Keramik dari Tongkol Jagung dan Cangkang Kerang

Target Dapat Emas, Malah Raih Grand Prize
27 November 2019, 19:59:38 WIB

Di tangan empat mahasiswa Manajemen Bisnis ITS, tongkol jagung dan cangkang kerang menjadi barang bernilai jual yang inovatif dan ramah lingkungan.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Jawa Pos

AAI Prajna Canricha Pradani menghubungkan keramik kreasi dirinya dan rekan-rekannya dengan Pantai Sanur, Denpasar, Bali. Menurut Cancricha, panggilan AAI Prajna Canricha Pradani, produk yang dilabeli Scammics itu terinspirasi dari kondisi pantai tanah kelahirannya tersebut. ”Ada banyak sampah di bibir pantai. Salah satu yang mendominasi adalah tongkol jagung. Jadi, turis-turis itu selesai memakan jagung, tongkolnya dibuang,” katanya.

Cancricha yang kala itu masih duduk di sekolah menengah atas tergugah. Dara 18 tahun tersebut ingin mengubahnya jadi bahan yang berguna. Dia membaca banyak referensi soal pemanfaatannya. ’’Dari salah satu bacaan, ternyata bisa dibuat keramik. Saya coba, hasilnya lumayan,” ungkap Canricha di ruang kepala Program Studi Manajemen Bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) kemarin (26/11).

Dia pun mengikuti lomba dengan berbekal bahan dasar tongkol jagung itu di Korea Selatan pada 2018. Hasilnya, lolos jadi yang terbaik. ’’Belum bisa mendapatkan gold karena ada beberapa kekurangan di struktur keramik,” tutur mahasiswi semester I itu. Dia pun berniat memperbaikinya saat kuliah. Harapan tersebut muncul ketika Canricha bertemu Alyaa Zalfaa Komara Putri, Natashia Deborah, dan Fariz Aditya Chandra Empat mahasiswa Prodi Manajemen Bisnis ITS itu lantas berkolaborasi menyempurnakan keramik Scammics. ’’Saya belajar banyak dari jurnal dan buku. Ternyata, perlu ada tambahan limbah lain. Kami pilih cangkang kerang hijau,” ungkap dia. Limbah itu mereka dapatkan dari restoran di Bali. ’’Dua limbah ini kami dapatkan secara gratis,” ujarnya.

Pada Februari 2019, eksperimen dilakukan. Mereka mencoba tiga kali eksperimen hingga jadi produk keramik tersebut. Tingkat kesulitan pembuatan produk dinilai jadi salah satu masalah di samping ketersediaan alat. Menurut Canricha, dibutuhkan waktu seminggu untuk bisa menghasilkan satu keramik. Proses tersulitnya adalah saat pembakaran. ”Nggak semua bisa jadi keramik. Ada yang pecah, ada yang lengket di cetakan, hingga bolong-bolong karena gelembung udara,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya memaksimalkan pengadukan bahan-bahan. Alumnus SMAN Denpasar 3 itu meminta bantuan Balai Teknologi Industri Kreatif Keramik (BTIKKK) Kota Denpasar. ”Untuk hasil satu keramik yang bagus, perbandingan tongkol jagung dan cangkang kerang hijau 1:10. Dicampur dengan clay khusus untuk menguatkan struktur,” tambahnya.

Dinilai sudah cukup baik, Canricha bersama tiga temannya mengikutsertakan produk mereka pada lomba international business plan. Pada Jumat (15/11), mereka menghadiri Advanced Innovation Global Competition (AIGC) 2019 di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Targetnya dapat medali emas. Namun, dalam tiga hari penyelenggaraan itu, hasilnya melebihi ekspektasi. ”Kami mendapatkan grand prize juga,” tutur Canricha. Juri, kata dia, menilai produk keramik tersebut inovatif dan ekonomis serta memiliki dampak sosial dan ramah lingkungan. Tentu saja, nilai plus didapat karena berbahan dasar limbah. ”Perpaduan tongkol dan cangkang kerang belum pernah dilakukan sebelumnya,” tutur Canricha.

Dia menuturkan, produk itu siap dipasarkan. Mereka telah mengemasnya dalam kotak. Setiap 1 meter persegi dijual USD 30 (Rp 420 ribuan). Harganya memang lebih murah ketimbang harga pasar yang berkisar USD 35–150. ”Kami memang tidak mematok harga mahal. Yang penting laris dulu,” ujarnya.

Dari penjualan itu, 15 persennya bakal disumbangkan kepada petani jagung. Hal itu merupakan bentuk dukungan pemberdayaan masyarakat. ”Lebih baik dikumpulkan daripada dibuang sembarangan,” tambahnya.

Canricha mengakui prestasi yang sudah diraih bukan usaha mereka semata. Banyak yang membantu usaha pembuatan keramik tersebut. ”Saya ucapkan terima kasih ke guru saya yang di Denpasar. Senior di ITS. Serta para dosen,” ungkapnya.

”Usia mereka masih sangat muda. Baru semester I. Saya salut,” ujar Berto Mulia Wibawa, kepala Program Studi Manajemen Bisnis ITS.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c6/tia



Close Ads