alexametrics

Andi Kusuma Yudha, Kenalkan Kampung Lawang Seketeng dari Langgar Dukur

Penemuan Terakota Jadi Awal Wisata Heritage
27 November 2019, 06:11:40 WIB

Lawang Seketeng telah berubah. Kampung yang sebelumnya biasa-biasa saja itu kini bersolek. Berbagai peninggalan bersejarah di kampung tersebut ”digosok” menjadi lebih kinclong. Menarik minat setiap orang yang berkunjung.
EDI SUSILO, Jawa Pos
MEMASUKI Gang IV Lawang Seketeng, paving bermotif dengan warna merah, hitam, dan abu langsung menyambut. Di samping kiri, tembok dengan seni mural bergambar berbagai makanan dan perabot jadul tersaji secara acak.
Masuk ke dalam lagi, seonggok reruntuhan bangunan lengkap dengan pilar mirip arsitektur Yunani berdiri. Di temboknya tertempel informasi yang dibingkai akrilik. Bertulis ”rumah puing, diperkirakan berdiri sejak 1930-an”.
Di samping rumah puing, bangunan tua milik keluarga keturunan Arab juga berdiri membisu. Sepi tanpa penghuni. Rumah lawas yang dibangun pada masa kolonial itu memang terbesar di sepanjang Lawang Seketeng. Ada yang dibangun dengan struktur bata tebal, ada pula yang utuh menggunakan kayu.
Bukan hanya bangunan. Di beberapa gang juga tampak beberapa penutup saluran air yang bentuknya sangat indah ”Ini salah satu terakota yang ditemukan pada September lalu,” ucap Ketua RT 3, RW 15, Kelurahan Peneleh, Dwi Pudjiono pada Jumat lalu (22/11) sambil membuka pelat besi penutup. Hari itu, Dwi bersama Andi Kusuma Yudha, salah seorang inisiator kampung Lawang Seketeng.
Langgar Dukur (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

 

Terakota berupa pipa saluran tersebut ditemukan saat para pekerja membangun paving dan saluran di Gang III Lawang Seketeng. Pipa dengan ukuran 1,5 meter itu terbuat dari tanah liat yang dibakar. Hampir di setiap gang Lawang Seketeng ditemukan terakota tersebut.
Selain terakota, di gang yang sama dekat jalan raya pekerja menemukan sumur tua. Yang dindingnya bukan disusun dari batu bata. Melainkan lempengan batu kapur yang disusun bersaf dari atas ke bawah.
Di tengah obrolan itu, tampak dua pengunjung datang ke Lawang Seketeng. Mereka merupakan mahasiswa dari salah satu universitas swasta di Surabaya. Mereka ingin melihat Lawang Seketeng dan melakukan penelitian.
”Mari saya bantu. Mbak sama Mas butuh apa?” tanya Yudha, sapaan akrab Andi Kusuma Yudha.
Lelaki 54 tahun itu pun menjawab dengan detail pertanyaan yang dilontarkan pengunjung. Penemuan demi penemuan benda bersejarah di Lawang Seketeng tersebut tidak terlepas dari penetapan kampung itu sebagai Heritage Walk of Lawang Seketeng pada Senin (11/11) oleh pemkot. Kampung tersebut menjadi tempat wisata heritage karena menyimpan banyak peninggalan bersejarah. Penetapan Heritage Walk of Lawang Seketeng bermula dari dikenalkannya Langgar Dukur di gang VI pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, musala yang semula hanya digunakan untuk salat dan tidur para pekerja tersebut dikenalkan ke pemkot oleh komunitas Laskar Soeroboyo.
Langgar Dukur memang memiliki bangunan artistik. Dibangun pada 1893, seluruh konstruksi langgar berasal dari material kayu jati. Di bagian tempat imam, tampak ukiran kayu yang membentuk sisik ikan.
Jumat lalu, langgar yang sebelumnya bercat putih tulang itu tampak lebih mentereng. Pemkot mengecat ulang sehingga mirip langgar kuno yang tampak gagah. Di musala itulah ditemukan Alquran kuno dan sebuah tongkat imam yang mirip dengan tombak.
Dikenalkannya Langgar Dukur ke publik berawal dari cangkrukan komunitas yang digelar di Kedungklinter IV pada 23 Juli 2018. Saat itu salah seorang anggota komunitas mengatakan, ada rencana pemkot mengembangkan wisata kampung berbasis sejarah. Yudha yang hadir dalam cangkrukan itu kemudian nyeletuk. ”Nek nggonku onok langgar tuwo (Di tempatku ada musala tua, Red),” ucapnya. Mulanya, anggota yang datang sempat ragu. Namun, setelah Yudha menjelaskan, para anggota komunitas itu pun tertarik dan melakukan pengecekan. Gayung bersambut, dinas perpustakaan dan kearsipan (dispusip) juga langsung mendatangi ”temuan” Langgar Dukur.
Yudha bersama beberapa komunitas dan warga juga mengenalkan peninggalan lain yang terserak dan tersebar di Peneleh. Mulai makam tumpuk di gang II, omah lawas di beberapa gang, hingga makam tua kampung. ”Seiring perjalanan waktu, penemuan terus bertambah. Terutama sejak ada penggalian proyek paving oleh pemkot,” tuturnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/tia



Close Ads