alexametrics

Setelah 17 Tahun Laga Divisi Teratas Absen dari Bandar Lampung

Gubernur sampai Andika Kangen Band Nonton
27 Juni 2019, 12:31:39 WIB

Berbagai kelompok suporter bersatu dalam satu tribun, sementara satu stadion kompak bernyanyi sepanjang laga. Tiket Badak Lampung FC yang sama sekali tak dijual on the spot pun nyaris ludes.

FARID S. MAULANA, Bandar Lampung

CHANT demi chant itu seperti melempar Diding Ahmad Kadir ke era yang jauh. Ke masa-masa belasan tahun silam, saat dia rutin menyambangi stadion untuk mendukung PSBL Bandar Lampung.

Dan, tepat saat FIFA anthem diperdengarkan, disusul keluarnya skuad Badak Lampung FC dan PSIS Semarang dari lorong pemain, Diding tak kuasa menahan kedua matanya berkaca-kaca. ’’Ini seperti mimpi, kami punya klub di kasta tertinggi lagi. Bermain di hadapan kami. Di tanah kami, Lampung,” katanya kepada Jawa Pos yang berada di sebelahnya.

Ya, laga Liga 1 di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, kemarin sore itu memang bersejarah. Itulah laga divisi teratas pertama yang dihelat di ibu kota Lampung tersebut dalam 17 tahun terakhir.

PSBL Bandar Lampung adalah wakil terakhir Bandar Lampung di strata teratas kompetisi sepak bola tanah air. Setelah PSBL terdegradasi dari Kompetisi Divisi Utama musim 2002, warga di sana pun harus menahan kerinduan hampir dua dekade.

Sampai akhirnya Badak Lampung merumput di Stadion Sumpah Pemuda kemarin sore. Sebelumnya tim yang diakuisisi dari Perseru Serui –karena itu nama resminya masih Perseru Badak Lampung FC– tersebut sudah empat kali bermain di Liga 1 musim ini. Tapi, seluruhnya tandang.

”Kami tidak peduli ada yang bilang Badak Lampung FC adalah tim karbitan, tim yang tidak berusaha dari bawah. Bagi kami, ini adalah berkah bisa kembali menyaksikan tim dengan nama Lampung di Liga 1,” tutur Diding yang turut mendirikan salah satu kelompok suporter Bandar Lampung, Balafans.

Lampung sebenarnya punya sejarah panjang di persepakbolaan strata teratas Indonesia. Di era Galatama pada 1980-an, mereka punya Jaka Utama yang antara lain diperkuat Mundari Karya, Bambang Sunarto, dan Bujang Nasril. Berbekal para pemain Jaka Utama itu pula, Lampung sukses merebut emas cabang sepak bola Pekan Olahraga Nasional 1981.

Tapi, setelah PSBL menghilang, yang bisa mengaitkan Bandar Lampung atau Lampung dengan sepak bola, barangkali, hanya Rahmad Darmawan. Mantan pemain Persija Jakarta yang kemudian menjadi pelatih papan atas Indonesia, termasuk pernah menangani tim nasional.

Tidak banyak pesepak bola top yang berasal dari Lampung dalam dua dekade terakhir. Di antara yang sedikit itu ada Purwaka Yudhi, mantan bek Arema FC yang kini membela PSS Sleman. Juga, Dedi Hartono, mantan penggawa Mitra Kukar dan Barito Putera yang kini berkostum Semen Padang.

Bakat mungkin selalu ada di Lampung. Namun, kalau tak ada ”kendaraan” berupa klub yang bermain di liga profesional (Liga 1 dan Liga 2 dalam penamaan sekarang), wajar kalau kemudian tak banyak yang mengorbit dari provinsi berpenduduk sekitar 8 juta jiwa tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, PSBL yang pernah melejit di era Perserikatan di bawah asuhan pelatih kelahiran Inggris Paul Cumming itu hanya berkutat di Liga 3. Begitu pula dengan Lampung FC dan Lampung Sakti, dua klub lain yang berbasis di Bandar Lampung.

Ketika klub sepak bola di strata profesional tidak boleh pakai dana APBD, PSBL sempat berubah nama jadi Lampung FC pada 2012. Saat itu Lampung FC baru saja naik dari Divisi II ke Divisi I.

Apesnya, saat Lampung FC berusaha bangkit, PSSI dilanda dualisme. Lampung FC memilih menyeberang ke Divisi Utama yang dikelola PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

Pada musim itu, Lampung FC berhasil lolos ke partai final. Lawannya adalah PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Lampung FC kalah 1-2 saat itu.

Tapi, harapan bermain di kasta teratas, Liga Primer Indonesia, lenyap. PSSI kembali jadi satu dan tidak mau mengakui Lampung FC ataupun tim-tim dari LPIS. Lampung FC pun gagal promosi hingga akhirnya membubarkan diri.

Dengan masa-masa suram yang sedemikian panjang, tidak heran jika penampilan perdana Badak Lampung di Stadion Sumpah Pemuda kemarin sore disambut antusias. Tiga kelompok suporter asal Lampung bersatu dalam satu tribun: Balafans, Siger South Stand, dan Blaster Saburai. Kompak mendukung Badak Lampung FC melawan PSIS Semarang.

Padahal, selama ini tiga kelompok itu tidak pernah berkumpul satu tribun. Balafans terpecah belah, ada yang mendukung Lampung Sakti, ada yang mendukung PSBL. Sedangkan Siger South Stand memilih mendukung Lampung Sakti. Adapun Blaster Saburai adalah kelompok suporter baru yang terbentuk satu bulan lalu, ketika Badak Lampung FC mulai berkompetisi di Liga 1.

”Budaya di sini, selama membawa nama Lampung, pasti didukung,” kata Tony Bangton, pentolan Siger South Stand.

Ahmad Dany, pentolan Blaster Saburai, juga menyebutkan, kelompok suporter tempat dirinya berada didirikan untuk mewadahi masyarakat Lampung yang selama ini justru mendukung tim-tim luar Lampung. Misalnya, Persija Jakarta, Persib Bandung, atau Persebaya Surabaya.

”Ini sekarang ada Badak Lampung FC, ayo jadi satu didukung bersama,” ungkapnya.

Sepanjang laga kemarin, 9.940 suporter yang hadir terus bernyanyi. Juga sempat melakukan Mexican wave di pengujung babak pertama. Tiga kali putaran.

Sama sekali tak terlihat bahwa telah 17 tahun tak ada tim dari divisi teratas di Bandar Lampung. Benar-benar seperti sebuah pesta rakyat.

CEO Badak Lampung FC Marco Gracia Paulo mengapresiasi setinggi-tingginya antusiasme penonton itu. ”Seperti mereka ini sudah 10 tahun ada di Liga 1, saya kagum,” ungkapnya.

Bahkan, penjualan tiket yang tidak ada on the spot (di tempat) juga diterima dengan baik. Badak Lampung memang hanya menjual tiket di platform yang jadi sponsor utama klub. ”Tapi, ternyata apresiasinya luar biasa. Dari 10 ribu yang kami jual, laku 9 ribuan lebih. Tentu masih perlu ada pembenahan, ini pertandingan perdana, akan jadi evaluasi kami,’’ terangnya.

Marco mengatakan, timnya tidak melakukan cara-cara instan untuk memperkenalkan Badak Lampung FC ke masyarakat sekitar hingga suporter. ”Kami memanfaatkan media sosial untuk merangkul mereka. Media sosial kami tidak melulu jualan, tapi juga bagian komunikasi dengan mereka,” ucapnya.

Tapi, Marco juga pernah melakukan pendekatan langsung kepada kelompok-kelompok suporter yang ada. Berbicara mengenai Badak Lampung FC. ”Namun, kami tegaskan ada bagian-bagian sendiri ya, suporter bagiannya mendukung, media punya sendiri, sedangkan kami ke tim. Intinya, sama-sama memajukan Badak Lampung FC,” tuturnya.

Dukungan kepada Badak Lampung FC itu juga datang dari warga setempat yang kebetulan menjadi suporter tim lain. Misalnya, dari Bonek, kelompok pendukung Persebaya. Ada belasan yang terlihat di tribun utara.

Ayok Nova salah satunya. Dia datang dengan memakai jersey Persebaya. Tiga anaknya yang ikut menonton juga memakai atribut lengkap tim berjuluk Green Force tersebut.

”Ya, kami ingin ikut meramaikan. Saling dukung, bantu kawan-kawan dari Lampung dan Semarang yang hadir juga,” tuturnya.

Brigata Curva Sud, ultras dari PSS Sleman, juga terlihat di stadion. Begitu juga Aremania dan Bobotoh. Semua melebur jadi satu. Kompak mendukung kemajuan sepak bola Lampung.

Begitu pula sejumlah tokoh asal Lampung. Gubernur Arinal Djunaidi terlihat menonton di tribun kehormatan. Bahkan, mantan vokalis Kangen Band Maesa Andika Setiawan ikut hadir.

Andika sampai rela menunda jadwal syuting di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta karena ingin menonton pertandingan tersebut. ”Saya dapat undangan resmi dari Badak Lampung FC. Apa pun untuk kemajuan Lampung, saya siap,” katanya.

Begitu kompak. Begitu meriah. Jadi, kendati akhirnya Badak Lampung menyerah 0-1, tak terlalu tampak kekecewaan di Stadion Sumpah Pemuda. Aplaus panjang tetap menggema saat wasit meniup peluit panjang. Pesta berakhir, semua pulang dengan tertib. (*/c10/ttg)

Editor : Kuswandi



Close Ads