alexametrics
Menilik Kampung Kawasan Rawan Bencana Merapi

Aktif Ronda Malam, Gunakan HT hingga Evakuasi Manula

27 Mei 2018, 03:05:42 WIB

JawaPos.com – Tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, mempunyai risiko yang cukup tinggi terhadap ancaman letusan Gunung Merapi. Namun itu sudah menjadi pilihan hidup, meski harus ditanggung juga bersama keluarga.

Salah satunya adalah Poniman, 40, warga di RT 1 Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman ini. Ia bersama istri dan ketiga anaknya yang masih kecil berumah tangga di jarak sekitar 3,5 kilometer dari puncak gunung api aktif itu.

Sedari kecil sudah dijalaninya, letusan-letusan dahsyat Merapi pun pernah dialaminya. Baik itu 2002, 2006, dan yang teraKhir akhir 2010 silam yang sempat memakan banyak korban jiwa.

Gunung Merapi
MENGUNGSI: Poniman, salah satu warga di KRB III Merapi mengaku warga sudah punya metode ketika sewaktu-waktu Merapi bergejolak hebat (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Poniman sadar betul akan risiko itu. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai peternak sapi itu pun mengaku, selalu siap ketika memang bencana itu datang terjadi.

Bersama warga lain, ia mengaku sudah memiliki suatu prosedur yang harus dijalankan ketika ada peringatan. Yaitu berupa metode Pengurangan Risiko Bencana (PRB). “Namanya PRB, itu sudah kami jalankan sejak 2002, 2006, 2010,” katanya, ditemui JawaPos.com, di rumahnya, Sabtu (26/5).

Ketika Merapi memberikan tanda akan terjadinya letusan, maka pihak pemerintah desa meminta warga untuk segera mengamankan diri. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah, mendahulukan para orang tua, anak-anak, dan kaum perempuan.

Di setiap RT pun juga sudah ada pembagian tugas masing-masing. Seperti siapa yang berperan untuk melakukan pendataan jumlah warga yang mengungsi, bagaimana mengenai kebutuhan logistik, maupun yang lainnya. “Saya sendiri berperan untuk mendata jumlah pengungsi di RT 1,” katanya.

Uniknya, tak hanya saat Merapi bergejolak dan menunggu dari pihak pemerintah saja dalam mewaspadai ancaman ini. Warga setempat pun hampir setiap hari melakukan pemantauan.
Baik dengan ronda malam, atau mantau memakai alat komunikasi handy talky (HT). Alat ini disalurkan ke frekuensi komunitas-komunitas relawan untuk mengetahui aktivitas Merapi dari pemantauan secara visual.

“Hampir semua warga mempunyai HT dan sampai sekarang itu masih digunakan. Karena ketika memakai handphone banyak kelemahan ketika dipakai di sini (lereng Merapi). Butuh pulsa, dan sinyalnya pun susah,” ucapnya.

Ia tak sendiri, masih ada ratusan jiwa yang tinggal di Kalitengah Lor. Kaur Pemerintahan Desa Glagaharjo, Heri Prasetyo mengungkapkan, di wilayah dusun itu tercatat ada 170 Kepala Keluarga, dihuni sekitar 400 jiwa. “Untuk di sisi selatannya ada Kalitengah Kidul, sekitar 110 KK,” ucapnya.

Sebagian dari mereka, terutama kaum manula, perempuan, dan anak-anak pun mengungsi ke Balai Desa karena adanya gejala letusan beberapa hari belakangan ini. Mereka kaum pria sebagian ada yang menyusul ketika malam, sisanya mengaktifkan ronda.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (dho/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Aktif Ronda Malam, Gunakan HT hingga Evakuasi Manula